Pos

BERANGKAT!

Oleh: Fahmi Ulfah

(Da’iyah di Pos BAZNAS Kola-kola, Kab. Donggala)

Assalamu’alaikum Wr. Wb

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” Q.S 9 : 41

Jika hartaku belum bisa bermanfaat di jalan-Nya, setidaknya jiwa ini bisa.  Akhir bulan lalu aku memutuskan untuk ikut andil dalam agenda relawan yang dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di bawah Mualaf Center. Meluruskan niat ialah cara untuk menghilangkan rasa ragu dan takut saat itu. Lalu, bukankah ridho Allah terletak  pada ridho orang  tua? Maka, Izin orang tua pun menjadi tonggak keberangkatanku.

Wani-Donggala, 4 November 2018 menjadi pengabdian pertamaku di Sulawesi tengah. Satu hari sebelum berlangsungnya agenda Tabligh Akbar penguatan akidah untuk masyarakat setempat,  tatkala matahari tenggelam diufuk barat. Nampak lelaki kecil itu menghancurkan puing sisa-sisa guncangan yang meluluh lantahkan rumahnya.  Langkahku tertawan, ada rasa ingin tahu tentangnya. Saat aku bertanya apa yang sedang dia lakukan, ia menjawab “saya hendak mencari uang dari hasil penjualan  sisa besi reruntuhan rumah disini kak”. Aku tertegun, perkataannya membuatku tak bisa berkata-kata lagi. “Dik berikan palunya, biar kakak bantu, kamu bisa istirahat sebentar”. Hanya beberapa saat aku membantunya, bukan pekerjaan mudah memang. Orang yang  tidak terbiasa melakukan pekerjaan ini akan merasakan pegal di lengannya, termasuk aku.

Esoknya, dari Desa Wani, aku dan Dinda ditugaskan untuk mengisi di pos pengungisan. Sebuah tempat yang  jauh dari keramaian namun penuh dengan keramahan. Desa Kola-kola Kab Donggala, disinilah kami memulai segala aktivitas sebagai relawan. Ba’da dzuhur, alhamdulillah kami sampai di lokasi. Barisan para mantan, eh bukan, barisan tenda pada saat itu mengalihkan perhatianku. Pasalnya, siang  itu terlalu sepi.

Tempat ini romantis. Prasangkaku yang menganggap mereka individualisme ternyata salah. Kebersamaan mereka dimulai ba’da shalat Ashar. Beberapa pemuda bermain sepak  takraw dan sepak  bola diikuti oleh anak-anak kecil yang bermain dengan kawan-kawan seusianya. Beberapa kali anak-anak diajarkan membuat cilok dan seblak, salah satu makanan khas bandung.  Tidak jarang mereka menyuguhkan kelapa muda dan mangga. Kami membuat rujak manga dengan dua versi sambal, sambal khas kola-kola dan sambal yang biasa yang buat. Kegiatan rutin lainnya yang kami lakukan yaitu mengaji selepas shalat Maghrib sampai waktu Isya. Beberapa anak ada yang ingin tilawah ba’da Zuhur dan Ashar, kami pun menemani mereka. Sebelum kami megakhiri tugas di sini, kami mengadakan lomba untuk anak-anak. Tidak terlalu meriah, tapi cukup untuk dikenang. Di desa ini sendiri sebetulnya ada 3 dari relawan Mualaf Center BAZNAS (MCB) yang di tugaskan, yaitu Azhari, Dinda dan Aku sendiri.

Senja pertamaku di sana  bersama anak-anak, bermain bola voli di lapang kecil dekat MCK. Sebagai seorang yang lama tinggal berdekatan dengan gedung-gedung tinggi, tinggal di desa itu membuat kau begitu ‘excited’. Gerombolan sapi dan kambing yang berhamburan di jalan raya, mandi di kuala (sebutan untuk sungai di sana), kotoran sapi yang berserakan, sampai makanan menjadi sesuatu hal yang baru. Tiga hari pertama bertugas, Aku tidak lagi tidur di rumah Pak Kades dengan Dinda. Aku putuskan untuk tidur di tenda ditemani oleh beberapa remaja putri.  Kami bertukar pikiran, berbagi cerita ditemani pisang goreng dan sambal, makanan khas desa Kola-Kola. Sesekali kami nongkrong di warung, diskusi kecil membahas permasalahan remaja di desa ini. Aku bukanlah ustadzah, Aku hanya memberikan pengalaman baik dan nasihat-nasihat yang mungkin bisa mereka ambil hikmahnya. Aku lebih suka mendengarkan mereka bercerita, dengan mendengarkan, saya Aku lebih dapat memahami mereka, Insya Allah.

Terakhir yang akan aku ceritakan, yaitu Pak Imam, tiga nenek cantik dan ibu-ibu yang bertugas di dapur umum.

Aku lupa nama asli dari Bapak ini, namun warga desa memanggilnya dengan sebutan Pak Imam. Beberapa kali setiap pagi, kami (para relawan) mampir di rumah Bapak untuk meminta sarapan. Eh bukan, silaturahmi yang di suguhi teh dan pisang goreng sambel, ditemani cerita-cerita klasik dari bapak. Mie giling buatan istri pak imam menjadi penutup perjumpaan kami waktu itu.

Tiga nenek cantik. Kalau Aku tidak lupa, mereka adalah Nenek Aisyah, Nenek Fatimah dan Nenek Zubaidah. Siang itu, matahari sangat terik, Aku dan Ari selesai berkeliling desa. Kami berdua bertemu dengan tiga nenek-nenek yang sedang berkumpul di tenda berwarna orange bertuliskan BNPB. Ketiga nenek itu mengajak kami “piknik”, duduk bersama mereka di dalam tenda. Nenek Aisyah paling suka menawari kami minum sirup dan makan kue buatannya sendiri.  Suatu hari pernah kami bertiga (Dinda, Ari, dan Aku) bermalam di rumah nenek. Kami terlelap karena lelah seharian berkegiatan dengan anak-anak. Pulang dari rumah mereka, kami dibekali beberapa toples yang berisikan kue buatan nenek. Ah yak… Aku rindu hari-hari minum sirup nenek, maksud Aku, duduk bersama mereka, piknik di tenda BNPB.

Seperti halnya angin, mereka adalah pahlawan tak terlihat, ibu-biu dapur umum. Siang dan malam mereka mempersiapkan makanan, untuk kami dan sebagian warga lainnya. Tidak ada yang tidak enak, semua kami makan. Kecuali ikan, hanya Aku yang tidak makan ikan, hehe. Ada hari dimana listrik desa padam, air toilet rumah dan MCK limit, Aku pergi ke kuala bersama ibu-ibu. Ini kali pertama Aku mencuci di sungai. Mereka mengajariku mencuci di sungai. Bukan hanya mengajari, tapi pakaianku pun dicucikan oleh mereka. Katanya, mencuci di sini dengan kostan beda, Aku tidak akan bisa, katanya – Aku diremehkan-.

Aku akui desa ini sangat potensial, baik dalam sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Perlu pembinaan dan pengawasan secara berkala demi perkembangan desa tersebut. Pun dengan kami para relawan yang pernah singgah di hati mereka, eh di desa mereka, kami tetap memantau aktivitas remaja desa kola-kola melalui grup whatsapp. Besar harapanku untuk tetap disana. Namun, tanggung jawabku di tempat lain jauh lebih besar. Semoga di lain kesempatan kami bisa bersilaturahmi kembali dengan warga desa Kola-kola. Tidak ada rindu jika tidak ada pertemuan dan jarak. Kita tidak pernah jauh, kita tetap dekat dalam do’a. Semoga kebersamaan kita tidak hanya di Kola-kola, melainkan di syurga-Nya juga, aamiiin.

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada BAZNAS, khusunya tim Mualaf Center Baznas,  karena sudah mempercayakanku ikut andil dalam agenda dakwah ini. Terima kasih untuk Azhari yang sudah mau jadi ketua tim kami, Terimakasih juga untuk Dinda yang mengajari anak-anak buat seblak dan cilok khas bandung. Secara pribadi, Aku mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada salah kata atau tindak tanduk selama bersikap, mohon maaf karena belum bisa memaksimalkan peran sebagai relawan di sini.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb