Pos

Impian Seorang Mualaf Menjadi Da’i Masa Depan

MCB,  Senin (22/07) —– Bogor, Salah seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sirojul Falah yang ada di Kabupaten Bogor Berkata “Saya ingin bisa membantu mensyiarkan dan memperjuangkan dakwah islamiyah dengan menjadi da’i nantinya”. Stepanus Hanzen (23) atau yang biasa dipanggil “Hanzen” merupakan seorang mualaf yang giat untuk belajar mengenal Islam. Perjalanannya mendapatkan hidayah merupakan pengalaman yang tidak bisa ia lupakan, karena hal tersebutlah yang mengantarkannya pada ketenangan.

Latar belakang pendidikan Hanzen saat ini yaitu menempuh pendidikan strata satu di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) atau Tarbiyah. Hal tersebut menjadi salah satu langkah untuk bisa menjadi da’i masa depan. Hanzen sendiri aktif diberbagai kegiatan dakwah salah satunya menjadi relawan Mualaf Center BAZNAS (MCB) pada kegiatan Ramdhan Camp pada bulan Mei 2019. Selain itu, Tim MCB memberikan kesempatan kepada Hanzen untuk turut serta dalam kegiatan  pelatihan da’i dan pembinaan mualaf BAZNAS yang diselenggarakan untuk calon-calon da’i pelosok di seluruh Indonesia.

Tim MCB mengetahui secara tidak langsung bahwa Hanzen mengalami kesulitan dalam membiayai kegiatan perkuliahannya. Syukur Alhamdulillah, kesulitan yang dialami Hanzen dapat di advokasi segera oleh Tim MCB agar dapat menyelesaikan masa studinya. Impian Hanzen untuk bisa menjadi da’i masa depan diharapkan dapat menjadi jalan-jalan kebaikan lainnya melalui perjuangannya menyelesaikan studi dan mewujudkan impiannya. Tentunya kebaikan itulah yang akan terus mengalir kepada muzakki BAZNAS yang telah mempercayakan dana zakatnya untuk diberikan kepada mereka yang berhak.

Mualaf dan Israa’ Mi’raaj

Jumat (29/03), setelah melalui Pembinaan dan tes pemahaman bacaan dalam shalat, komunitas Mualaf Monterado melalui MCB, para Mualaf Binaan wajib mengetahui dan memahami, kisah peristiwa datangnya perintah shalat lima (5) waktu itu melalui proses dan perjalanan yang di lakukan oleh Rasulullah SAW, yang di kenal dengan peristiwa Israa’ & Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW dan peristiwa ini mungkin sulit di terima oleh akal dan logika bagi manusia yang menganut fikiran materialisme. Perjalanan dari Masjidil Aqsha (Mekah) ke Masjidil Haram (Palestina) lalu berlanjut ke Sidratul Muntaha yang hanya membutuhkan waktu sepertiga malam atau dalam hitungan 4 jam. Dan Hal ini akan lain jika bertemu dengan Muslim yg berilmu/ilmuwan Muslim, yang menempatkan wahyu Allah SWT itu di atas akal manusia. Dan sebagai Muslim/Mu’min yang beriman wajib berpegang kepada firman Allah SWT yg berbunyi: sami’na wa atho’na, jika kita belum dapat memahaminya. Namun dengan tetap berupaya untuk merenungkan dan memahami peristiwa tersebut. Seperti yang dirasakan oleh saudara-saudara mualaf.

Manusia memang diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk berfikir/bertafakur, sedangkan di dalam Alqur’an sendiri lebih dari 800 kali Allah SWT menyebutkan dalam firman-Nya terkait dengan akal dan fikiran melebihi kata perintah Shalat, Zakat dan Haji.

Dari peristiwa Israa’ & Mi’raj ini, diharapkan para mualaf binaan MCB Monterado, dapat mengambil I’tibar bahwa Peristiwa Israa’ dan Mi’raj Nabi Muhammad itu adalah atas kehendak Allah SWT. Peristiwa Israa’ Mi’raj merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Sedangkan tanda-tanda kebesaran Allah itu hanya dapat dibaca oleh oleh orang-orang yang berakal. Maka sesungguhnya peristiwa Israa’ Mi’raj adalah peristiwa yang dapat dicerna oleh akal bagi orang-orang yang berakal.

#zakattumbuhbermanfaat
#zakatmuliakanmualaf
#zakattumbuhjagaakidah
#mualafcenterbaznas

Mualaf Suku Ta’a Memulai Budidaya Nilam

Rabu 16 Januari 2019, komunitas mualaf suku Ta’a binaan Mualaf Center Baznas (MCB) memulai penanaman perdana untuk budidaya nilam. Sebelumnya, mereka telah dibekali dengan pelatihan budidaya tanaman nilam. Dalam pelatihan tersebut, diajarkan tata cara atau praktik dalam budidaya. Tanaman nilam membutuhkan waktu dari penanaman hingga panen kurang lebih selama enam bulan.

Sebelumnya, untuk mendapatkan tanaman nilam, mereka mengambil dari alam liar. Hal inilah yang mendorong MCB untuk mendampingi dan berupaya untuk mengubah kebiasan hidup berpindah (nomaden) dan berburu, menjadi menetap melalui budidaya tanaman nilam. Dengan hidup menetap, komunitas mualaf suku Ta’a dapat menjalankan agama Islam seperti shalat berjamaah di mushala, shalat Jumat, dan aktivitas lainnya. Islam hadir untuk menerangi kehidupan manusia termasuk dalam membentuk suatu peradaban manusia agar lebih baik.

Dalam kegiatan tersebut, saudara-saudara mualaf juga diajarkan tentang ke-Islaman. Mulai dari tata cara peribadatan, akhlak, dan lain sebagainya. MCB juga membagikan basic need berupa kebutuhan bahan pangan pokok. Hal inilah yang membuat suasana kekeluargaan sangat terasa.

Kegiatan pembinaan dan pendampingan ini diharapkan dapat membawa keberkahan dan manfaat bagi komunitas mualaf suku Ta’a yang masih tinggal di gunung-gunung di wilayah Kabupatan Morowali Utara. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian umat Islam lainnya. Perjalanan dalam rangka memandirikan saudara-saudara mualaf suku Ta’a masih panjang. Saat ini mereka masih memerlukan dukungan dalam bentuk alat penyulingan pasca panen.

 

Panen Perdana Budidaya Ayam Mualaf Binaan MCB Ciranjang

Cianjur [17/01/2019], Mualaf binaan MCB Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat melakukan kegiatan panen perdana budi daya ayam. Program budidaya ayam Broiler dilakukan untuk menjadi sumber penghasilan bagi kelompok mualaf binaan MCB agar dapat mandiri secara finansial.

Mualaf Center Baznas mengadakan program pemberdayaan untuk mualaf di kecamatan Ciranjang, Cianjur. Program dimulai dengan memberikan pelatihan materi dasar tentang pemeliharaan ayam broiler yang dipaparkan oleh para praktisi peternakan. Lalu para mualaf diberi modal usaha untuk memulai usaha budidaya ayam broiler. Selama proses pemeliharaan, MCB melakukan pendampingan usaha melalui pembina MCB. Setelah memelihara selama 30 hari, ayam broiler tersebut dipanen dengan cara dijual langsung dalam keadaan hidup dan sebagian diolah menjadi makanan olahan seperti ayam geprek dan ayam goreng oleh para mualaf.

Selain melakukan pendampingan dalam bidang usaha budidaya ayam, MCB Ciranjang juga rutin mengadakan kegiatan pembinaan keIslaman untuk komunitas mualaf. Perpaduan antara kegiatan pendampingan usaha dan pembinaan keIslaman, diharapkan dapat menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT sehingga para mualaf menempukan kedamaian dan kesejahteraan dalam hidup di dunia dan diakhirat.

Pembinaan Mualaf Serumpun, MCB Gelar Konferensi Mualaf Borneo

Mualaf Center Baznas (MCB) mengelar Konferensi Mualaf Borneo. Konferensi ini dihadiri oleh stakeholder pegiat dakwah mualaf se-Kalimantan dan perwakilan wilayah dari negera serumpun seperti Serawak, Sabah, Brunei Darussalam dan Singapura.

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji dan Anggota Baznas, Nana Mintarti membuka Konferensi Mualaf Borneo (KMB) 2018 yang dilaksanakan oleh MCB bekerja sama dengan Baznas Provinsi Kalimantan Barat, di Balai Petitih, Pontianak, Kamis [27/12].

Anggota Baznas, Nana Mintarti, mengatakan konferensi ini bertujuan untuk menjalin kerja sama pembinaan mualaf antaranegara serumpun (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam) serta penyusunan dan perencanaan peta pembinaan mualaf.

Nana menjelaskan, berdasarkan Hasil Kajian Indeks Rawan Pemurtadan (IRP) yang dirilis Pusat Kajian Strategis Baznas 2018 terdapat 10 provinsi muslim teratas dengan presentase yang memiliki nilai IRP di atas 0,5 (tinggi hingga sangat tinggi). Salah satunya adalah Provinsi Kalimantan Barat (50 persen).

Pulau Kalimantan atau dikenal dengan sebutan Borneo merupakan pulau yang mencakup tiga negara serumpun yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Luas wilayah Indonesia mencapai 75 persen atau 544.150 km persegi dari total luas wilayah Borneo yang mencapai 743.330 Km persegi.

“Artinya, Kalimantan memiliki tantangan dakwah tersendiri khususnya pembinaan kepada mualaf yang belum dapat dijangkau karena faktor geografis untuk menuju lokasi dan terbatasnya jumlah dai yang membina dan mendampingi,” ujar dia, saat pembukaan konferensi, Kamis [27/12].

Di sisi lain, lanjut Nana, belum terlihat adanya pemetaan dan koordinasi intensif antarlembaga dakwah untuk mengantisipasi dan menanggulangi tantangan dakwah tersebut.

Mualaf adalah salah satu asnaf (golongan) penerima zakat yang perlu mendapatkan perhatian utama. Sebagaimana tugas Mualaf Center Baznas, yaitu melakukan pembinaan dan pendampingan kepada mualaf sesuai tuntunan syariat Islam agar menjadi muslim dan muslimah dan kaffah.

“Melalui konferensi ini MCB menggandeng seluruh stakeholder pegiat dakwah mualaf se-Kalimantan dan perwakilan wilayah dari negara serumpun untuk merumuskan program pembinaan terbaik bagi para mualaf”, tuturnya.

Dalam acara pembeukaan konferensi ini, Mualaf Center Baznas juga meluncurkan buku Tata Cara Ibadah Praktis dan Modul Pembinaan bagi Mualaf. Terbitnya buku ini sebagai bentuk kepedulian dan membantu saudara-saudara mualaf untuk menguatkan iman dan memudahkan mereka menjalankan ibadah dengan baik dan benar.

Konferensi Mualaf Borneo 2018 ini diharapkan dapat memberi andil bagi pembentukan masyarakat madani dan terjalin kerja sama yang erat dengan negara serumpun di tanah Borneo. Membawa perubahan dan memberi pencerahan menuju mualaf yang kaffah, mandiri, dan profesional.

Sumber: Republika, Senin 07/01/2019

Portfolio Items