Pos

Mualaf dan Israa’ Mi’raaj

Jumat (29/03), setelah melalui Pembinaan dan tes pemahaman bacaan dalam shalat, komunitas Mualaf Monterado melalui MCB, para Mualaf Binaan wajib mengetahui dan memahami, kisah peristiwa datangnya perintah shalat lima (5) waktu itu melalui proses dan perjalanan yang di lakukan oleh Rasulullah SAW, yang di kenal dengan peristiwa Israa’ & Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW dan peristiwa ini mungkin sulit di terima oleh akal dan logika bagi manusia yang menganut fikiran materialisme. Perjalanan dari Masjidil Aqsha (Mekah) ke Masjidil Haram (Palestina) lalu berlanjut ke Sidratul Muntaha yang hanya membutuhkan waktu sepertiga malam atau dalam hitungan 4 jam. Dan Hal ini akan lain jika bertemu dengan Muslim yg berilmu/ilmuwan Muslim, yang menempatkan wahyu Allah SWT itu di atas akal manusia. Dan sebagai Muslim/Mu’min yang beriman wajib berpegang kepada firman Allah SWT yg berbunyi: sami’na wa atho’na, jika kita belum dapat memahaminya. Namun dengan tetap berupaya untuk merenungkan dan memahami peristiwa tersebut. Seperti yang dirasakan oleh saudara-saudara mualaf.

Manusia memang diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk berfikir/bertafakur, sedangkan di dalam Alqur’an sendiri lebih dari 800 kali Allah SWT menyebutkan dalam firman-Nya terkait dengan akal dan fikiran melebihi kata perintah Shalat, Zakat dan Haji.

Dari peristiwa Israa’ & Mi’raj ini, diharapkan para mualaf binaan MCB Monterado, dapat mengambil I’tibar bahwa Peristiwa Israa’ dan Mi’raj Nabi Muhammad itu adalah atas kehendak Allah SWT. Peristiwa Israa’ Mi’raj merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Sedangkan tanda-tanda kebesaran Allah itu hanya dapat dibaca oleh oleh orang-orang yang berakal. Maka sesungguhnya peristiwa Israa’ Mi’raj adalah peristiwa yang dapat dicerna oleh akal bagi orang-orang yang berakal.

#zakattumbuhbermanfaat
#zakatmuliakanmualaf
#zakattumbuhjagaakidah
#mualafcenterbaznas

“Saya Ingin Jadi BAZNAS”

Oleh: Dinda Paramita

(Da’iyah Pos BAZNAS Kola-kola, Kab. Donggala)

 

Kola-kola punya cerita, Kola-kola punya banyak cinta, begitulah ditafsirkannya Kola-kola. Salah satu desa di Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Suku yang menduduki kampung ini adalah suku Kaili. Suku Kaili adalah suku asli setempat. Penduduknya menganut paham kekeluargaan (mungkin.. hehe).

Bulan Agustus 2018 lalu, Aku baru melaksanakan ibadah KKN. Suasana di desa Kola-kola tidak jauh berbeda dengan keadaan masyarakat ditempat KKN-ku saat itu. Aku dan teh Fahmi tidur di rumah Pak Kades, katanya pos Kola-kola ini adalah pos yang paling ramah untuk relawan akhwat. Ya memang begitu adanya. Kami mendapatkan kamar untuk bermalam, benar-benar diluar dugaan. Aku kira akan tidur di tenda-tenda, meskipun sesekali tidur di tenda. Pun Aku kira akan kesulitan air, maka dari itu Aku bawa baju, bawa koper pula, khawatir bajunya kusut. Alhamdulillah, kalaupun listrik mati tidak dapat menyalakan pompa air, kami biasanya pergi ke sungai untuk mencuci. Karena memang sungainya masih bersih, banyak warga yang mengambil air untuk minum. Berbeda jauh ya dengan keadaan di Bandung atau Jakarta, jangankan untuk mencuci, menapakkan tangan diair saja sudah merasa jijik.

Suguhan pemandangan tidak kalah dengan suguhan keramahan masyarakatnya. Pertama kali datang saja, rombongan ibu-ibu menjamu dengan hangat, membawakan barang bawaan sebagai bekal untuk dua pekan di Kola-kola.  I’m so lucky to meet them. Keramahan para pengungsi setidaknya mengurangi rasa rindu terhadap orangtua, keluarga, dan kerabat. Aku merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan menjadi relawan dan menjadi bagian dari Mualaf Center BAZNAS. Hidup berbarengan dengan para pengungsi, anggap saja kita hadir sebagai penghibur lara mereka.

Setiap pagi disuguhi dengan makanan-makanan khas, seperti putu soko, nasi kuning (yang kegurihannya alami dengan santan), pisang goreng (dicampur dengan sambal), pun dengan makan siang atau makan sore seringkali makan dengan sayur kelor dan buah kelor. Secara ilmiah buah kelor ini banyak mengandung banyak nutrisi, bahkan di luar negeri diekstraksi untuk dijadikan kapsul yang dapat dimakan kapan saja. Bahkan daun kelor dijuluki daun seribu nutrisi. Sungguh senang bisa makan daun ini, bisa mengumpulkan banyak nutrisi dan tenaga untuk menghadapi kenyataan. Katanya sayur kelor ini sayur favorit, katanya juga jika sudah mencicipi sayur kelor ini akan selalu ingat Kola-kola, ingin kembali lagi. Memang begitu sih. Hehe..

Selain para orangtua yang memiliki tingkat keramahan yang tinggi, pun dengan anak-anak kecil dan remajanya. Aku akan kisahkan satu persatu dari mereka sebagai guru kehidupanku. Ibu-ibu di Kola-kola selain menyediakan makanan rutin, namun disela kegundahan yang belum hilang pasca gempa mereka acapkali menyuguhi makanan-makanan khas Kola-kola. Bahkan setiap kali berkunjung ke rumah warga, seringkali perutku dan kedua temanku harus berusaha menyesuaikan untuk melebar karena saking banyaknya makanan. Kemudian, kami juga sering berkegiatan bersama dengan para remaja Masjid Nurul Yaqien. Masjid Nurul Yaqien ini salah satu masjid yang berada di Kola-kola, dimana pada saat gempa memakan satu orang korban jiwa karena tertimpa tiang bangunan. Biasanya, selain ngobrol-ngobrol ringan, kami juga mengadakan pembinaan agar program dakwah tak berhenti sampai kita pulang, atau sampai BAZNAS memberikan bantuan. Kami mengadakan pembinaan dan pengkaderan khusus. Waktunya dimulai setiap selesai sholat. Atau sesekali Aku mengajarkan membuat resep cilok ala Bandung, seblak Bandung, atau membuat rujak khas Sunda. Untuk anak-anak sendiri, selain melakukan pengajian rutin, kami juga melakukan trauma healing atau psikososial kecil-kecilan, mengajak bermain bersama, bermain bola, bahkan membuat rujak, cilok, dan seblak.

Suatu ketika kami bertiga mengadakan lomba, dengan meminta bantuan juga kepada Remaja Masjid. Gurauan-gurauan Ibu-ibu juga ingin agar diadakan lomba untuk mereka. Namun pada akhirnya mereka berkata “Buat senang saja anak-anak, biar mereka tidak trauma. Kita sudah dapat melupakan, meskipun terkadang kita juga teringat gempa kembali. Namun prioritaskan anak-anak saja. Kita sudah dewasa”. Ya ya ya.. Bagi kebanyakan orangtua begitu ya, selalu memprioritaskan anaknya. Sebenarnya terngiang juga untuk mengadakan lomba-lomba untuk para orangtua, disamping waktu ibu-ibu yang agak sulit karena urusan dapur (harus memasak di dapur umum), kegiatan yang dapat dilakukan adalah ngobrol-ngobrol ringan dengan ibu-ibu atau sekedar mengaktifkan kembali Majelis Ta’lim yang sudah satu bulan libur.

Ada yang membuat Aku masih teringat sampai saat ini, yaitu ada seorang anak yang memiliki cita-cita, namun cita-cita tersebut adalah menjadi “BAZNAS”. Nah loh.. kan itu gimana ya, jadi BAZNAS?

Awalnya kami bercerita tentang cita-cita dengan anak-anak. Seorang anak yang lucu dan nampak antusias, Ulfi namanya, memulai untuk bercerita, “Kak, cita-cita saya banyak, saya ingin jadi BAZNAS, ingin jadi guru, ingin jadi dokter, ingin jadi Polisi wanita, ingin jadi pilot, tapi cita-cita terbesar saya adalah menjadi BAZNAS. Semenjak ada kakak-kakak BAZNAS disini, saya ingin jadi BAZNAS”. Sontak membuat saya terbahak-bahak. Mungkin yang dimaksud adalah ingin menjadi relawan BAZNAS.

Disaat kepulangan pun haru melanda. Semenjak pemberitahuan tanggal kepulangan kami, mereka langsung nampak sedih. Ibu-ibu nampak mampu menjaga ketegaran agar tidak terlihat sedih, namun berbeda dengan para remaja dan anak-anak, yang ingin menahan kepulangan kita. Bahkan ada yang berdoa “Semoga ada gempa lagi, biar kakak-kakak tetap di Kola-kola”. Ya Allah, saking mereka tidak ingin kami tinggalkan. Mereka sangat excited ketika belajar ilmu-ilmu baru. Sebagai pengajar tentu sangat menyenangkan. Hampir setiap hari mereka bermain ke balai desa atau rumah Pak Kades, mungkin efek tidak ingin ditinggalkan ya. Apalagi hari terakhir di Kola-kola, kemanapun kami pergi mereka mengikuti. Bukan hanya mengikuti tapi mereka menangis, hoalah, apa yang harus dilakukan? Benar-benar menguji ketegaran. Tangisan mereka pun membuat tak ingin pulang. Sampai pada akhirnya jemputan datang. Kami tertahan hampir dua jam, namun apa daya amanah harus tetap pulang. Sebenarnya, betah juga tinggal di Kola-kola, namun bagaimana dengan kuliah yang menanti? Atau keluarga yang menunggu?

Aku semakin berfikir, bahwa ketika menempatkan kesan menjadi prioritas dalam pertemuan, mungkin disinilah keharuan, haru tidak ingin berpisah, haru untuk tetap tinggal, haru selalu rindu, mungkin disinilah kami meninggalkan jejak-jejak kesan yang cukup baik, meskipun kami bertiga tidak maksimal menjalankan amanah dakwah.

Pengembaraan Dakwah di Tanah Kaili

Oleh: M. Fudoli

(Da’i Pos BAZNAS Layana Indah, Kota Palu))

Kesempatan bisa berdakwah di tanah Kaili adalah sebentuk cinta-Nya untukku. Allah Yang Maha Baik, memilihkan jalan ini sebagai medan juang dan jihadku. Juga sebagai kawah candradimuka tempat diriku ditempa dengan sebaik-baik tempaan. Barangkali atas rintihan dan doa-doa Ibu dan Ayah jua, Allah berkenan memberikan kesempatan berharga ini, kepada seorang yang masih compang-camping imannya. Hamba yang masih cacat ibadah dan amalnya yang mesti selalu berbenah dan memperbaiki. Kepada manusia yang masih banyak luput dan salah, sepertiku. Alhamdulillah, seribu syukur ku panjatkan pada Rabb semesta alam.

“Pengembaraan Dakwah di Tanah Kaili”, begitu judul yang Aku pilih dalam goresan tulisan ini. Sebuah catatan kecil untuk mengenang kenangang-kenangan besar yang Aku lalui selama mengembara di Palu. Ya, kenangan-kenangan bersejarah dalam ruang usiaku. Goresan tulisan ini Aku persembahkan untuk orang-orang yang tercinta wabil khusus kedua orang tua dan adik perempuanku. Lalu untuk kakak sekaligus gurunda, Bang Miqdam dan Bang Hadiyan sebagai pengurus Mualaf Center BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional). Semoga Allah meridhoi dan memberi hidayah-Nya.

Terhitung sejak 22 Oktober 2018 Aku ditugaskan ke Palu oleh Mualaf Center BAZNAS (MCB), bersama 3 relawan lainnya yaitu Hamzah, Jundi dan Prasetyo. Kami menyusul rombongan pertama yaitu Rendi, Azhari dan Achmad yang telah diberangkatkan seminggu sebelumnya. Sesampainya di pos tanggap bencana BAZNAS Sulawesi Tengah, kami tak banyak membuang waktu. Mandi, sarapan, dan setelah itu briefing. Kami dipisahkan ke pos-pos pengungsian yang telah ditentukan dan harus siap menjadi da’i serta tinggal di sana bersama para pengungsi selama kurang lebih tiga minggu.

Hari pertama Aku lalui rasanya berat sekali. Antara mimpi dan nyata, sore itu aku ditinggalkan seorang diri di salah satu pos pengungsian tanpa seorang teman yang ku kenal, di tempat antah berantah yang belum pernah ku datangi sebelumnya. Hari itu Aku sangat lelah karena hampir tak tidur sejak perjalanan malam dari Jakarta ke Palu. Saat tiba di pos pengungsian Layana Indah tempat ku bertugas itu, Pak Tati menyambut hangat dan membiarkanku beristirahat sampai waktu maghrib tiba. Beliau merupakan koordinator di pos pengungsian tersebut.

Tibalah waktu shalat maghrib. Sesuai jobdesk, kami para relawan da’i Palu diberi amanah untuk menghidupkan cahaya Islam di pos-pos pengungsian harus langsung bertugas. Mengadakan shalat berjamaah dan mengajak para pengungsi untuk shalat, salah satunya. Berhubung pos Layana Indah terletak di hutan dan jauh dari perkampungan maka shalat maghrib waktu itu dilaksanakan di salah satu tenda pengungsi. Dan karena imam masjid mereka sudah turun untuk kembali ke rumahnya, tak tinggal di pos pengungsian lagi yang letaknya di bukit, maka Aku menggantikan tugas beliau menjadi imam shalat berjamaah. Itulah pengalaman pertama menjadi imam shalat di pos pengungsian bersama para pengungsi.

Hari demi hari Aku sangat menikmati pengembaraan dakwah ini. Di pos Layana Indah para pengungsi sangat ramah dan welcome. Dari ibu-ibu, bapak-bapak, para remaja dan anak-anaknya terlihat begitu menyambut kehadiranku di tengah-tengah mereka. Tak disangka yang awalnya tak yakin bisa berbetah diri tinggal di sana, akhirnya betah dan tak ingin cepat pulang. Seperti menemukan keluarga baru di sana. Keluarga yang memberi makan, tempat tinggal dan keramah-tamahan.

Tiga hari berlalu, banyak aktivitas dakwah yang telah Aku lalui. Juga sudah banyak cerita dan pengalaman yang Aku dapat. Di antaranya mengajak para pengungsi terutama anak-anak untuk mendirikan shalat lima waktu. Ternyata tak semudah membalikan kedua telapak tangan, tak sepele mengedipkan mata. Dalam sekali shalat berjamaah Maghrib atau Isya saja jamaahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Padahal jumlah pengungsi keseluruhan mencapai 71 jiwa. Banyak di antara mereka yang memang sudah terbiasa meninggalkan shalat sebelum bencana. Itulah tantangan dakwah yang pertama.

Selain mengajak shalat dan menjadi imam shalat berjamaah, tugas di pos pengungsian adalah mengajar mengaji anak-anak. Alhamdulillah kami para relawan da’i dibekali iqra, juz ‘amma dan Al Quran. Sejak malam pertama di pos pengungsian, pengajaran Al Quran sudah berjalan, meskipun baru sedikit yang hadir. Tapi antusias mereka luar biasa, apalagi ada salah seorang ibu-ibu yang ikut hadir. Beliau tetap semangat mengaji walaupun harus belajar bersama anak-anak. Beliau tidak malu dan percaya diri menuntut ilmu.

Di hari ke-empat, tak diduga karena suatu sebab Prasetyo dipindahtugaskan ke pos Layana Indah bersamaku. Kini, aku tak melalui pengembaraan dakwah ini sendiri, ada seorang partner relawan da’i yang menemani. Sebelumnya kami sudah sama-sama saling kenal. Beliau merupakan teman satu universitas dan satu atap di asrama masjid Al Hurriyyah Institut Pertanian Bogor (IPB). Sekarang Aku merasa mendapat kekuatan dan dukungan baru untuk melangkah dalam medan dakwah di sana. Sungguh kegembiraan yang berlipat-lipat, Alhamdulillah.

Hari-hari berikutnya kami lalui dakwah di pengungsian dengan penuh semangat lillah. Semangat berapi-api karena berharap bertemu wajah-Nya. Karena mendamba ridha dan surga-Nya. Setiap agenda, setiap aktivitas antara kami dan pengungsi senantiasa berbalut dakwah. Bermain dengan anak-anak, bercengkrama dengan para ibu dan bapak-bapak dan bergaul dengan para pemudanya. Setiap jengkalnya, tak luput ingin selalu kami selipkan dakwah. Mengingatkan tentang Allah dan agama, yang dengannya kita selamat.

Suatu ketika di tengah-tengah pengembaraan dakwah di pengungsian, datang sekelompok relawan juga dari negeri tetangga, Malaysia. Mereka mengatasnamakan diri dengan Muslim Care Malaysia. Misi yang dibawa oleh mereka adalah menyalurkan bantuan berupa sembako dan Al Quran. Selain itu mereka datang dengan membawa salah satu Menteri dan Ustadz asli dari Malaysia. Tujuan mereka pun sama seperti kami yaitu berdakwah dan mengingatkan pengungsi akan Allah dan agama-Nya. Pernah juga ke pengungsian tempatku tinggal, bantuan sembako dan pakaian datang dari saudara-saudara muslim dari Yordania.

Betapa banyak bantuan dan dukungan yang datang ke Palu, Donggala maupun Sigi. Dari dalam maupun luar negeri. Terkhusus bantuan yang datang ke pengungsian Layana Indah di Palu. Salah satu bantuan yang paling dirasakan dan konsisten membersamai para pengungsi adalah bantuan yang datang dari BAZNAS. BAZNAS hadir di tengah-tengah pengungsi dengan membuat dapur umum yang stoknya selalu rutin dipasok. Kemudian bantuan genset untuk listrik di pengungsian maupun bantuan lainnya seperti trauma healing dan relawan dakwah, program dari Lembaga Beasiswa BAZNAS (LBB) dan Mualaf Center BAZNAS (MCB).

Di pengungsian, kami para relawan dakwah pun sangat merasakan bantuan itu. Terutama dalam hal makanan. Setiap hari makan di pos pengungsian selalu tersedia dan melimpah. Tak pernah kekurangan sedikitpun. Menu yang dibuat sangat beragam. Dari mulai aneka makanan yang dimasak oleh Mama Rampa dan timnya, sampai makanan mentah yang dimasak sendiri. Mama Rampa adalah sebutan ketua di dapur pengungsian. Aku dan Pras seringkali disuruh nambah saat selesai makan. Di antara masakan khas Kaili adalah Kaledo dan sayur kelor. Selama tiga minggu kami berdakwah, tak pernah mengeluhkan sedikitpun tentang jamuan makanan yang disuguhkan para pengungsi. Bahkan kami diperlakukan seperti raja di sana. Kami dimuliakan dan sangat diperhatikan kebutuhan-kebutuhannya.

Dengan kenyataan seperti itu, maka sudah sepatutnya kami selaku relawan harus totalitas dalam berdakwah di pengungsian. Merencanakan, mengonsep dan merealisasikan agenda-agenda dakwah yang dapat diterima dan berdampak bagi para pengungsi. Menjelang pulang dan tak bertugas lagi, kami mencanangkan program perlombaan di kelurahan Layana Indah. Perlombaan tersebut dilaksanakan atas kolaborasi kami dengan pengurus Risma (Remaja Islam Masjid) kelurahan Layana Indah. Program tersebut dibuat sebagai bentuk kenang-kenangan kami untuk anak-anak di pengungsian maupun anak-anak di kelurahan Layana Indah. Lomba yang diadakan adalah lomba adzan, cerdas cermat agama dan makan kerupuk. Acara diakhiri dengan pembagian hadiah dan doa.

Selain itu program-program dakwah lainnya yang alhamdulillah sudah terlaksana adalah praktek wudhu, tayamum dan mandi junub. Anak-anak di pos pengungsian juga masih banyak yang belum mengetahui benar tentang fikih thaharah, jadi itu menjadi salah satu materi yang kami ajarkan. Dan masih banyak lagi program dan tema-tema kultum yang sudah dilaksanakan dan disampaikan. Besar harapan sepulang dari Palu, ilmu-ilmu yang telah ditransfer maupun adab-adab dan doa-doa yang telah dicontohkan dapat dicerna dan diaplikasikan selalu. Terkhusus oleh anak-anak yang menjadi objek dakwah utama kami di pengungsian.

Tibalah hari terakhir aku dan Pras di pos pengungsian Layana Indah. Sore itu, Kamis 15 November 2018 kami mendapat kabar akan dijemput untuk kembali ke posko BAZNAS Sul-Teng. Sebelumnya kami memang sudah mengabarkan kepada para pengungsi tentang hari kepulangan yaitu tanggal 16 November. Para pengungsi pun terkejut karena yang harusnya besok baru pulang, ternyata sorenya sudah akan dijemput. Setelah itu mereka pun sibuk menyiapkan acara perpisahan untuk kami sore itu.

Maghrib tiba, shalat berjamaah pun dilaksanakan sebagaimana biasanya di tenda pengungsian. Selepas shalat, dzikir dan doa, aku dan Pras menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai bentuk perpisahan kepada para pengungsi. Tak disangka suasana saat itu sangat mengharu biru. Kami sedih, para pengungsi pun tampak sedih. Saat kami meminta perwakilan pengungsi untuk berbicara, tak ada satu pun yang bersedia. Sungguh menambah hening suasana. Apa yang kami sampaikan rupanya membuat hati mereka luluh dan teringat masa-masa saat kami bersama mereka. Terlalu banyak kenangan yang harus diingat, terlalu banyak cerita yang telah tercipta. Antara malu dan haru, mereka semua diam membisu. Hingga waktu isya tiba, suasana hening itu masih ada.

Selepas Isya, kami disuguhi makan malam dengan pencuci mulut susu dan onde-onde, makanan berbentuk bulat ketan berlapis parutan kelapa dan berisi gula jawa. Malam itu aku benar-benar merasa kenyang, bahkan disuruh nambah dan nambah lagi. Karena memang makanan dan suguhannya sangat banyak. Semua pengungsi berkumpul dan mengerumuni kami malam itu. Pemandangan yang jarang terjadi. Semuanya diundang dalam jamuan malam perpisahan malam itu. Sungguh kami dan para pengungsi berharap perpisahan itu bukan terjadi malam itu. Dan ternyata setelah ditunggu-tunggu malam itu kami tidak jadi dijemput. Alhamdulillah, syukur Aku masih bisa tidur bersama para pengungsi untuk kali terakhir.

Keesokan harinya barulah kami dijemput ke posko. Tak terasa waktu begitu cepat memisahkan. Jalan hidup yang baru harus kami dan para pengungsi lewati bersama. Betapa berat dan pilu hati ini. Namun tugas tetaplah tugas, Aku dan Pras harus pulang. Aku masih ingat apa yang Aku sampaikan selepas Maghrib di malam terakhir. Sebuah pesan cinta kepada para pengungsi yang aku cintai karena Allah.

“Ibu-ibu, bapak-bapak dan teman-teman semua. Terima kasih atas kebaikan dan sambutan semuanya selama ini. Selama kami di pengungsian, kami merasa diperlakukan sebagai tamu yang sangat dimuliakan.            Sesuai hadits Rasul, bahwa ciri-ciri orang beriman adalah suka memuliakan tamunya. Saya berharap semuanya termasuk ke dalam orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Kami tak mampu membalas selain doa-doa. Semoga Allah memberi kebaikan yang berlapis-lapis.”

“Pada malam ini juga kami meminta maaf setulus hati kami. Atas tingkah dan perilaku yang tak baik. Kami sudah banyak merepotkan dan menyusahkan. Pesan terakhir kami, semoga selepas kepergian esok hari semua pengungsi di sini terus istiqomah shalat lima waktu. Apapun yang terjadi, shalat jangan ditinggalkan. Ngaji dan belajar Al Quran juga mesti diteruskan. Suatu saat, semoga kita bisa bersua lagi di dunia maupun di surga-Nya kelak. Aamiin.”

BERANGKAT!

Oleh: Fahmi Ulfah

(Da’iyah di Pos BAZNAS Kola-kola, Kab. Donggala)

Assalamu’alaikum Wr. Wb

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” Q.S 9 : 41

Jika hartaku belum bisa bermanfaat di jalan-Nya, setidaknya jiwa ini bisa.  Akhir bulan lalu aku memutuskan untuk ikut andil dalam agenda relawan yang dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di bawah Mualaf Center. Meluruskan niat ialah cara untuk menghilangkan rasa ragu dan takut saat itu. Lalu, bukankah ridho Allah terletak  pada ridho orang  tua? Maka, Izin orang tua pun menjadi tonggak keberangkatanku.

Wani-Donggala, 4 November 2018 menjadi pengabdian pertamaku di Sulawesi tengah. Satu hari sebelum berlangsungnya agenda Tabligh Akbar penguatan akidah untuk masyarakat setempat,  tatkala matahari tenggelam diufuk barat. Nampak lelaki kecil itu menghancurkan puing sisa-sisa guncangan yang meluluh lantahkan rumahnya.  Langkahku tertawan, ada rasa ingin tahu tentangnya. Saat aku bertanya apa yang sedang dia lakukan, ia menjawab “saya hendak mencari uang dari hasil penjualan  sisa besi reruntuhan rumah disini kak”. Aku tertegun, perkataannya membuatku tak bisa berkata-kata lagi. “Dik berikan palunya, biar kakak bantu, kamu bisa istirahat sebentar”. Hanya beberapa saat aku membantunya, bukan pekerjaan mudah memang. Orang yang  tidak terbiasa melakukan pekerjaan ini akan merasakan pegal di lengannya, termasuk aku.

Esoknya, dari Desa Wani, aku dan Dinda ditugaskan untuk mengisi di pos pengungisan. Sebuah tempat yang  jauh dari keramaian namun penuh dengan keramahan. Desa Kola-kola Kab Donggala, disinilah kami memulai segala aktivitas sebagai relawan. Ba’da dzuhur, alhamdulillah kami sampai di lokasi. Barisan para mantan, eh bukan, barisan tenda pada saat itu mengalihkan perhatianku. Pasalnya, siang  itu terlalu sepi.

Tempat ini romantis. Prasangkaku yang menganggap mereka individualisme ternyata salah. Kebersamaan mereka dimulai ba’da shalat Ashar. Beberapa pemuda bermain sepak  takraw dan sepak  bola diikuti oleh anak-anak kecil yang bermain dengan kawan-kawan seusianya. Beberapa kali anak-anak diajarkan membuat cilok dan seblak, salah satu makanan khas bandung.  Tidak jarang mereka menyuguhkan kelapa muda dan mangga. Kami membuat rujak manga dengan dua versi sambal, sambal khas kola-kola dan sambal yang biasa yang buat. Kegiatan rutin lainnya yang kami lakukan yaitu mengaji selepas shalat Maghrib sampai waktu Isya. Beberapa anak ada yang ingin tilawah ba’da Zuhur dan Ashar, kami pun menemani mereka. Sebelum kami megakhiri tugas di sini, kami mengadakan lomba untuk anak-anak. Tidak terlalu meriah, tapi cukup untuk dikenang. Di desa ini sendiri sebetulnya ada 3 dari relawan Mualaf Center BAZNAS (MCB) yang di tugaskan, yaitu Azhari, Dinda dan Aku sendiri.

Senja pertamaku di sana  bersama anak-anak, bermain bola voli di lapang kecil dekat MCK. Sebagai seorang yang lama tinggal berdekatan dengan gedung-gedung tinggi, tinggal di desa itu membuat kau begitu ‘excited’. Gerombolan sapi dan kambing yang berhamburan di jalan raya, mandi di kuala (sebutan untuk sungai di sana), kotoran sapi yang berserakan, sampai makanan menjadi sesuatu hal yang baru. Tiga hari pertama bertugas, Aku tidak lagi tidur di rumah Pak Kades dengan Dinda. Aku putuskan untuk tidur di tenda ditemani oleh beberapa remaja putri.  Kami bertukar pikiran, berbagi cerita ditemani pisang goreng dan sambal, makanan khas desa Kola-Kola. Sesekali kami nongkrong di warung, diskusi kecil membahas permasalahan remaja di desa ini. Aku bukanlah ustadzah, Aku hanya memberikan pengalaman baik dan nasihat-nasihat yang mungkin bisa mereka ambil hikmahnya. Aku lebih suka mendengarkan mereka bercerita, dengan mendengarkan, saya Aku lebih dapat memahami mereka, Insya Allah.

Terakhir yang akan aku ceritakan, yaitu Pak Imam, tiga nenek cantik dan ibu-ibu yang bertugas di dapur umum.

Aku lupa nama asli dari Bapak ini, namun warga desa memanggilnya dengan sebutan Pak Imam. Beberapa kali setiap pagi, kami (para relawan) mampir di rumah Bapak untuk meminta sarapan. Eh bukan, silaturahmi yang di suguhi teh dan pisang goreng sambel, ditemani cerita-cerita klasik dari bapak. Mie giling buatan istri pak imam menjadi penutup perjumpaan kami waktu itu.

Tiga nenek cantik. Kalau Aku tidak lupa, mereka adalah Nenek Aisyah, Nenek Fatimah dan Nenek Zubaidah. Siang itu, matahari sangat terik, Aku dan Ari selesai berkeliling desa. Kami berdua bertemu dengan tiga nenek-nenek yang sedang berkumpul di tenda berwarna orange bertuliskan BNPB. Ketiga nenek itu mengajak kami “piknik”, duduk bersama mereka di dalam tenda. Nenek Aisyah paling suka menawari kami minum sirup dan makan kue buatannya sendiri.  Suatu hari pernah kami bertiga (Dinda, Ari, dan Aku) bermalam di rumah nenek. Kami terlelap karena lelah seharian berkegiatan dengan anak-anak. Pulang dari rumah mereka, kami dibekali beberapa toples yang berisikan kue buatan nenek. Ah yak… Aku rindu hari-hari minum sirup nenek, maksud Aku, duduk bersama mereka, piknik di tenda BNPB.

Seperti halnya angin, mereka adalah pahlawan tak terlihat, ibu-biu dapur umum. Siang dan malam mereka mempersiapkan makanan, untuk kami dan sebagian warga lainnya. Tidak ada yang tidak enak, semua kami makan. Kecuali ikan, hanya Aku yang tidak makan ikan, hehe. Ada hari dimana listrik desa padam, air toilet rumah dan MCK limit, Aku pergi ke kuala bersama ibu-ibu. Ini kali pertama Aku mencuci di sungai. Mereka mengajariku mencuci di sungai. Bukan hanya mengajari, tapi pakaianku pun dicucikan oleh mereka. Katanya, mencuci di sini dengan kostan beda, Aku tidak akan bisa, katanya – Aku diremehkan-.

Aku akui desa ini sangat potensial, baik dalam sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Perlu pembinaan dan pengawasan secara berkala demi perkembangan desa tersebut. Pun dengan kami para relawan yang pernah singgah di hati mereka, eh di desa mereka, kami tetap memantau aktivitas remaja desa kola-kola melalui grup whatsapp. Besar harapanku untuk tetap disana. Namun, tanggung jawabku di tempat lain jauh lebih besar. Semoga di lain kesempatan kami bisa bersilaturahmi kembali dengan warga desa Kola-kola. Tidak ada rindu jika tidak ada pertemuan dan jarak. Kita tidak pernah jauh, kita tetap dekat dalam do’a. Semoga kebersamaan kita tidak hanya di Kola-kola, melainkan di syurga-Nya juga, aamiiin.

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada BAZNAS, khusunya tim Mualaf Center Baznas,  karena sudah mempercayakanku ikut andil dalam agenda dakwah ini. Terima kasih untuk Azhari yang sudah mau jadi ketua tim kami, Terimakasih juga untuk Dinda yang mengajari anak-anak buat seblak dan cilok khas bandung. Secara pribadi, Aku mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada salah kata atau tindak tanduk selama bersikap, mohon maaf karena belum bisa memaksimalkan peran sebagai relawan di sini.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Mualaf Belajar Mengaji

Senin, 18/02/2019, Komunitas mualaf Ciranjang binaan Mualaf Center Baznas belajar mengaji dengan metode DIROSA (Pendidikan Al Quran Orang Dewasa). Metode ini merupakan metode dengan pola pembinaan Islam bagi kaum Muslimin Pemula (Mualaf) yang dikelola secara sistematis, berjenjang dan berlangsung terus-menerus secara rutin. Kebutuhan dalam belajar memahami huruf-huruf Hijaiyah diperlukan agar saudara-saudara mualaf dapat membaca Al Quran dengan baik. Diharapkan, setelah 20 kali pertemuan, saudara-saudara mualaf sudah mampu membaca Al Quran.

Pembinaan yang dilakukan mendapatkan antusiasme dari saudara-saudara mualaf. Lokasi pembinaan dibagi menjadi dua tempat, yaitu di pos MCB Ciranjang dengan peserta sebanyak 17 orang dan Masjid Anasir sebanyak 41 orang. Pembinaan belajar mengaji dilakukan secara rutin setiap hari senin pukul 13.00wib. Mudah-mudahan dengan adanya pembinaan ini, saudara-saudara mualaf di Ciranjang semakin baik pemahaman keIslamannya dan lancar dalam membaca Al Quran. Aamiin.