Pos

Mualaf dan Israa’ Mi’raaj

Jumat (29/03), setelah melalui Pembinaan dan tes pemahaman bacaan dalam shalat, komunitas Mualaf Monterado melalui MCB, para Mualaf Binaan wajib mengetahui dan memahami, kisah peristiwa datangnya perintah shalat lima (5) waktu itu melalui proses dan perjalanan yang di lakukan oleh Rasulullah SAW, yang di kenal dengan peristiwa Israa’ & Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW dan peristiwa ini mungkin sulit di terima oleh akal dan logika bagi manusia yang menganut fikiran materialisme. Perjalanan dari Masjidil Aqsha (Mekah) ke Masjidil Haram (Palestina) lalu berlanjut ke Sidratul Muntaha yang hanya membutuhkan waktu sepertiga malam atau dalam hitungan 4 jam. Dan Hal ini akan lain jika bertemu dengan Muslim yg berilmu/ilmuwan Muslim, yang menempatkan wahyu Allah SWT itu di atas akal manusia. Dan sebagai Muslim/Mu’min yang beriman wajib berpegang kepada firman Allah SWT yg berbunyi: sami’na wa atho’na, jika kita belum dapat memahaminya. Namun dengan tetap berupaya untuk merenungkan dan memahami peristiwa tersebut. Seperti yang dirasakan oleh saudara-saudara mualaf.

Manusia memang diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk berfikir/bertafakur, sedangkan di dalam Alqur’an sendiri lebih dari 800 kali Allah SWT menyebutkan dalam firman-Nya terkait dengan akal dan fikiran melebihi kata perintah Shalat, Zakat dan Haji.

Dari peristiwa Israa’ & Mi’raj ini, diharapkan para mualaf binaan MCB Monterado, dapat mengambil I’tibar bahwa Peristiwa Israa’ dan Mi’raj Nabi Muhammad itu adalah atas kehendak Allah SWT. Peristiwa Israa’ Mi’raj merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Sedangkan tanda-tanda kebesaran Allah itu hanya dapat dibaca oleh oleh orang-orang yang berakal. Maka sesungguhnya peristiwa Israa’ Mi’raj adalah peristiwa yang dapat dicerna oleh akal bagi orang-orang yang berakal.

#zakattumbuhbermanfaat
#zakatmuliakanmualaf
#zakattumbuhjagaakidah
#mualafcenterbaznas

Ummatan Waahidah

Bagi orang-orang yang beriman, meyakini bahwa sejak manusia pertama yaitu Nabi Adam hingga saat ini, Tuhan hanya SATU yaitu ALLAH. Ummat-Nya juga hanya SATU yang disebut dengan IBNU ADAM (anak cucu Adam). Dengan demikian, jika Tuhan dan Ummat-Nya hanya SATU, maka tentunya DIIN (AGAMA) yang HAQ juga hanya SATU. Jadi, jika ada Tuhan lain selain Allah dan Agama lain selain dari apa yang telah Allah turunkan, maka pasti agama itu menyimpang/sesat.

Dalam keyakinan umat Islam, dari sejak dahulu kala, sejatinya agama bagi umat manusia hanya ada satu yaitu ISLAM. Agama Islam telah Allah SWT tetapkan bagi umat manusia dan juga diserukan oleh para Nabi, sejak manusia pertama Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw. Para Nabi senantiasa menyeru agar umat manusia hanya menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Meskipun terdapat perbedaan dalam hal syariat atau aturan sebelum pengutusan Nabi Muhammad SAW, namun inti ajaran yang dibawakan oleh para Nabi yaitu meng-Esakan Allah, tetaplah sama. Syariat yang berbeda antara Nabi satu dengan yang lain bukan karena ada pembedaan antara Nabi yang satu dengan yang lain, melainkan karena terdapat dimensi waktu dan ruang pada perkembangan peradaban manusia di zaman setiap Nabi. Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah Nabi penutup dan syariat yang dibawakannya telah sempurna.

Adanya perpecahan pada agama disebabkan oleh hawa nafsu manusia. Mereka dipenuhi dengan kepentingan dunia sehingga antara satu sama lain saling mencela dan merasa sombong. Kepentingan dunia dan hawa nafsu inilah yang menimbulan perselisihan antara umat manusia. Oleh karenanya, Allah SWT menurunkan wahyu yang disampaikan oleh para Nabi untuk kaumnya agar manusia kembali kepada ajaran yang satu. Wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT, berupa kitab suci, merupakan ketentuan yang bersifat obyektif yang tidak dicampuri oleh kepentingan manusia. Setiap manusia harus tunduk pada ketentuan ilahi tersebut. Namun Jika suatu kitab suci telah bercampur dengan hawa nafsu manusia, yang ditulis dengan tangan-tangan mereka, maka itu sudah tidak obyektif lagi. Pasti akan banyak pertentangan dan kontradiksi di dalamnya.

Allah SWT mengutus Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW untuk menyerukan kepada umat manusia agar kembali kepada ajaran Allah SWT yang satu, yaitu agama Islam. Umat Nabi Muhammad SAW adalah umat akhir zaman. Wahyu yang disampaikan oleh beliau, yaitu Kitab Suci Al Quran, terjaga hingga kiamat kelak. Wahyu tersebut murni dan tidak tercampuri oleh tangan-tangan manusia. Bacaannya tetap sama, saat mulai dari diturunkannya hingga kelak. Wahyu yang dibaca oleh Nabi Muhammad SAW juga sama dengan apa yang dibaca oleh umat Islam saat ini. Tidak ada keraguan dalam kitab suci Al Quran karena Allah telah menjaminnya sendiri. Apa yang ada di dalam kitab suci Al Quran tidak ada kontradiksi.

Wallahua’lam

===

Sumber:

  1. “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS Al Baqarah 213).
  2. “Katakanlah (Muhammad), ‘Kami beriman kepada Allah SWT dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri (Islam).’” (QS Aali Imraan 84).
  3. “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya.; Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Dawud.” (QS An Nisaa 163)
  4. “Manusia dahulunya hanyalah satu umat, Kemudian mereka berselisih. kalau tidaklah Karena suatu ketetapan yang Telah ada dari Tuhanmu dahulu, Pastilah Telah diberi Keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS Yunus 19)
  5. “Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.” (QS Al Anbiyaa 92). Yang dimaksud dengan agama yang satu adalah sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari’at.”
  6. “Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang harus mereka amalkan, maka tidak sepantasnya mereka (umat) berbantahan dengan engkau dalam urusan (syariat) ini dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sungguh, engkau (Muhammad) berada di jalan yang lurus.” (QS Al Hajj 67)
  7. “Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS Al Mu’minun 52)

Bersyahadat di tengah Bencana

MCB, Sigi —- Jum’at 16 November 2018, bertambah satu lagi saudari kita yang memeluk Islam. Saudari Ita telah mengikrarkan dua kalimat syahadat yang dipandu oleh tim MCB disaksikan oleh Imam Masjid, Jamaah, dan warga sekitar Masjid Nurul, Desa Omu Ujung, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Selatan.

Sebelumnya Sdri. Ita memeluk agama nasrani. Tiga tahun lalu, Ibu Kandungnya terlebih dahulu menjadi mualaf dan menikah dengan seorang muslim.

Keluarganya tinggal di sebuah rumah, di lahan perkebunan coklat. Rumah mereka sangat sederhana. Saat terjadi gempa, rumah tersebut bergeser dan kayu penyangganya rubuh.

Mohon doa dari saudara-saudara umat Islam, agar keluarga mereka senantiasa diberkahi dan diridhai Allah SWT. Aamiin.

Menjadi Muslim yang Kuat

“Tidaklah terjadi suatu musibah di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri kecuali telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sejak sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu bagi Allah sangat mudah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Barangsiapa berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia Maha Kaya Maha Terpuji” (QS Al Hadiid 57: 22-24)

Sebagai orang yang beriman dan meyakini kebenaran ayat-ayat Al Quran, tentunya ayat tersebut di atas dapat memberikan kelegaan dan ketengangan di dalam hati kita. Sebagai orang yang beriman, membaca ayat-ayat Allah SWT tentunya dapat meningkatkan iman kita kepada-Nya. Allah SWT, Rabb semesta alam, telah menciptakan langit dan bumi serta mengaturnya dengan adil dan bijaksana. Apa yang terjadi di langit dan di bumi merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, termasuk juga terjadinya suatu bencana alam. Hingga daun yang jatuh dari tangkainya, semua itu tidaklah luput dari pengawasan Allah SWT.

Bencana alam yang sangat dahsyat sehingga meluluhlantakkan suatu negeri merupakan pesan dari Allah SWT bahwa tidak ada yang lebih kuat kecuali Allah SWT semata. Maka sangat penting kiranya memahami pesan tersebut agar kita hanya bergantung kepada Allah karena Dialah Raja yang berkuasa di alam raya ini. Manusia adalah makhluk lemah. Sekalipun manusia diberikan kekuatan berupa akal pikirnya, namun hitu hanya secuil dari karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Allah telah memberikan petunjuk berupa wahyu Al Quran, yang telah memberikan informasi/tanda-tanda/pesan kepada manusia atas hal-hal yang tidak diketahuinya. Al Quran berisi kabar, baik sebelum manusia diciptakan hingga masa depan, yaitu akhirat. Itulan panduan yang dapat mengarahkan manusia hidup di dunia ini dengan selamat begitu juga kelak di akhirat.

Allah SWT pun menganugerahkan kepada manusia berupa akal dan daya pikir sehingga kebesaran-kebesaran-Nya yang ada di muka bumi ini dapat tersibak. Diantaranya adalah diketahuinya bahwa bumi Indonesia ini merupakan ring of fire sehingga memiliki potensi terjadinya bencana alam berupa gempat bumi, tsunami, gunung berapi, dan lain sebaginya. Potensi bencana alam di Indonesia lebih tinggi dari pada negara lain. Hal ini hendaknya dipahami bahwa bencana alam dapat saja datang tiba-tiba. Sesuatu yang datang tiba-tiba dapat membuat manusia kaget. Kekagetan tersebut disebabkan manusia belum siap menghadapinya. Maka kita harus sadar akan keselamatan diri kita. Namun yang paling penting adalah keselamatan kita kelak di akhirat. Justru dengan ini, seharusnya membuat kita semakin sadar akan kebesaran Allah SWT, membuat kita memperbanyak taubat kepada Nya. Seharusnya manusia yang berada di atas negeri ini adalah manusia yang paling taat dan bertakwa kepada Allah SWT karena tanda-tanda kekuatan dan kebesaran Allah sangat jelas. Memahami hal ini dengan baik membuat kita semakin siap menghadapi bencana dan tidak mudah terkejut.

Seharusnya manusia yang berada di atas negeri ini adalah manusia yang paling taat dan bertakwa kepada Allah SWT karena tanda-tanda kekuatan dan kebesaran Allah sangat jelas. Memahami hal ini dengan baik membuat kita semakin siap menghadapi bencana dan tidak mudah terkejut.

Perbaikan dalam segala bidang harus dilakukan. Baik perbaikan dalam dimensi materiil maupun spiritual. Perbaikan dimensi materiil dapat dilakukan dengan mambangun tata kota yang mempertimbangkan mitigasi bencana, diantaranya: struktur bangunan, perlunya suatu lapangan terbuka dibeberapa titik sebagai tempat evakuasi, dan standar keselamatan lainnya yang perlu diperhatikan untuk meminimalkan korban. Bahkan penting menjadi sebuah standar keumuman bahwa setiap rumah harus memiliki tenda yang dapat digunakan dalam kondisi darurat.

Namun demikian, dimensi materiil hanya bersifat sementara (fana). Ada hal yang lebih penting dari itu yaitu dimensi spiritual yang akan menjadi penentu keselamatan kita di akhirat kelak. Perbaikan dimensi spiritual dapat dilakukan dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, beribadah dengan benar, memperbaiki akhlak, bermuamalah sesuai dengan syariat agama, menjadi pemimpin yang jujur dan adil, menyambung silaturahim dengan kerabat, tidak bermusuhan antara sesama, tidak mengambil hak yang bukan miliknya. Memberikan kabar gembira bagi saudara-saudara kita yang telah bertaubat dan berhijrah, memberi peringatan kepada mereka yang berbuat maksiat agar mereka juga selamat.

Allah SWT telah mengabarkan kepada kita dengan memberikan contoh keadaan umat-umat sebelum kita seperti umat Nabi Nuh as, Nabi Luth as, Nabi Syuaib as, Nabi Hud as, dan sebagainya. Namun apakah kita pernah menjadikan kisah mereka sebagai pelajaran untuk kita? Allah SWT mengisahkan cerita tersebtu dalam Al Quran agar kita memiliki iman seteguh para Nabi dan menjauhi perbuatan umat yang dimurkai oleh Allah SWT. Orang yang beriman haruslah memiliki iman yang kuat sehingga ia tidak mudah putus asa dan kembali bangkit dari keterpurukan. Bagi orang yang beriman, jika ia mendapat musibah, ia tidak lantas terlalu larut dalam duka. Ia memiliki optimisme untuk memperbaiki kehidupan yang telah ia jalani. Ia pantang untuk menampakkan kesusahannya. Ia memilih untuk lebih dahulu membantu saudaranya meskipun sebenarnya ia juga sangat membutuhkan bantuan. Orang yang imannya kuat tidak mudah untuk mengeluh dan meratapi musibah karena ia yakin bahwa semuanya adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Ia meyakini takdir yang baik dan yang buruk datang dari Allah SWT sebagai peringatan dan pelebur dosa.

Rugilah diri kita jika bencana ada di depan mata namun tidak ada upaya perbaikan untuk menyelamatkan diri kita baik di dunia maupun akhirat. Maut hanya menunggu waktu, pasti tiba saatnya kita menjemputnya. Maut bisa saja datang dalam bentuk bencana maupun ketika kita berada di atas dipan kasur. Namun yang paling penting adalah apakah hidup kita saat ini sudah bermakna sehingga memberikan banyak manfaat kepada sesama, ataukah hidup kita justru membawa petaka bagi sekeliling kita? Apakah kelak kita akan menjemput maut dengan khusnul khotimah yaitu akhir hidup yang bahagia ataukah su’ul khotimah yaitu akhir hidup yang sengsara?

Wallahua’lam bish shawwab

MAH