Pos

“Saya Ingin Jadi BAZNAS”

Oleh: Dinda Paramita

(Da’iyah Pos BAZNAS Kola-kola, Kab. Donggala)

 

Kola-kola punya cerita, Kola-kola punya banyak cinta, begitulah ditafsirkannya Kola-kola. Salah satu desa di Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Suku yang menduduki kampung ini adalah suku Kaili. Suku Kaili adalah suku asli setempat. Penduduknya menganut paham kekeluargaan (mungkin.. hehe).

Bulan Agustus 2018 lalu, Aku baru melaksanakan ibadah KKN. Suasana di desa Kola-kola tidak jauh berbeda dengan keadaan masyarakat ditempat KKN-ku saat itu. Aku dan teh Fahmi tidur di rumah Pak Kades, katanya pos Kola-kola ini adalah pos yang paling ramah untuk relawan akhwat. Ya memang begitu adanya. Kami mendapatkan kamar untuk bermalam, benar-benar diluar dugaan. Aku kira akan tidur di tenda-tenda, meskipun sesekali tidur di tenda. Pun Aku kira akan kesulitan air, maka dari itu Aku bawa baju, bawa koper pula, khawatir bajunya kusut. Alhamdulillah, kalaupun listrik mati tidak dapat menyalakan pompa air, kami biasanya pergi ke sungai untuk mencuci. Karena memang sungainya masih bersih, banyak warga yang mengambil air untuk minum. Berbeda jauh ya dengan keadaan di Bandung atau Jakarta, jangankan untuk mencuci, menapakkan tangan diair saja sudah merasa jijik.

Suguhan pemandangan tidak kalah dengan suguhan keramahan masyarakatnya. Pertama kali datang saja, rombongan ibu-ibu menjamu dengan hangat, membawakan barang bawaan sebagai bekal untuk dua pekan di Kola-kola.  I’m so lucky to meet them. Keramahan para pengungsi setidaknya mengurangi rasa rindu terhadap orangtua, keluarga, dan kerabat. Aku merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan menjadi relawan dan menjadi bagian dari Mualaf Center BAZNAS. Hidup berbarengan dengan para pengungsi, anggap saja kita hadir sebagai penghibur lara mereka.

Setiap pagi disuguhi dengan makanan-makanan khas, seperti putu soko, nasi kuning (yang kegurihannya alami dengan santan), pisang goreng (dicampur dengan sambal), pun dengan makan siang atau makan sore seringkali makan dengan sayur kelor dan buah kelor. Secara ilmiah buah kelor ini banyak mengandung banyak nutrisi, bahkan di luar negeri diekstraksi untuk dijadikan kapsul yang dapat dimakan kapan saja. Bahkan daun kelor dijuluki daun seribu nutrisi. Sungguh senang bisa makan daun ini, bisa mengumpulkan banyak nutrisi dan tenaga untuk menghadapi kenyataan. Katanya sayur kelor ini sayur favorit, katanya juga jika sudah mencicipi sayur kelor ini akan selalu ingat Kola-kola, ingin kembali lagi. Memang begitu sih. Hehe..

Selain para orangtua yang memiliki tingkat keramahan yang tinggi, pun dengan anak-anak kecil dan remajanya. Aku akan kisahkan satu persatu dari mereka sebagai guru kehidupanku. Ibu-ibu di Kola-kola selain menyediakan makanan rutin, namun disela kegundahan yang belum hilang pasca gempa mereka acapkali menyuguhi makanan-makanan khas Kola-kola. Bahkan setiap kali berkunjung ke rumah warga, seringkali perutku dan kedua temanku harus berusaha menyesuaikan untuk melebar karena saking banyaknya makanan. Kemudian, kami juga sering berkegiatan bersama dengan para remaja Masjid Nurul Yaqien. Masjid Nurul Yaqien ini salah satu masjid yang berada di Kola-kola, dimana pada saat gempa memakan satu orang korban jiwa karena tertimpa tiang bangunan. Biasanya, selain ngobrol-ngobrol ringan, kami juga mengadakan pembinaan agar program dakwah tak berhenti sampai kita pulang, atau sampai BAZNAS memberikan bantuan. Kami mengadakan pembinaan dan pengkaderan khusus. Waktunya dimulai setiap selesai sholat. Atau sesekali Aku mengajarkan membuat resep cilok ala Bandung, seblak Bandung, atau membuat rujak khas Sunda. Untuk anak-anak sendiri, selain melakukan pengajian rutin, kami juga melakukan trauma healing atau psikososial kecil-kecilan, mengajak bermain bersama, bermain bola, bahkan membuat rujak, cilok, dan seblak.

Suatu ketika kami bertiga mengadakan lomba, dengan meminta bantuan juga kepada Remaja Masjid. Gurauan-gurauan Ibu-ibu juga ingin agar diadakan lomba untuk mereka. Namun pada akhirnya mereka berkata “Buat senang saja anak-anak, biar mereka tidak trauma. Kita sudah dapat melupakan, meskipun terkadang kita juga teringat gempa kembali. Namun prioritaskan anak-anak saja. Kita sudah dewasa”. Ya ya ya.. Bagi kebanyakan orangtua begitu ya, selalu memprioritaskan anaknya. Sebenarnya terngiang juga untuk mengadakan lomba-lomba untuk para orangtua, disamping waktu ibu-ibu yang agak sulit karena urusan dapur (harus memasak di dapur umum), kegiatan yang dapat dilakukan adalah ngobrol-ngobrol ringan dengan ibu-ibu atau sekedar mengaktifkan kembali Majelis Ta’lim yang sudah satu bulan libur.

Ada yang membuat Aku masih teringat sampai saat ini, yaitu ada seorang anak yang memiliki cita-cita, namun cita-cita tersebut adalah menjadi “BAZNAS”. Nah loh.. kan itu gimana ya, jadi BAZNAS?

Awalnya kami bercerita tentang cita-cita dengan anak-anak. Seorang anak yang lucu dan nampak antusias, Ulfi namanya, memulai untuk bercerita, “Kak, cita-cita saya banyak, saya ingin jadi BAZNAS, ingin jadi guru, ingin jadi dokter, ingin jadi Polisi wanita, ingin jadi pilot, tapi cita-cita terbesar saya adalah menjadi BAZNAS. Semenjak ada kakak-kakak BAZNAS disini, saya ingin jadi BAZNAS”. Sontak membuat saya terbahak-bahak. Mungkin yang dimaksud adalah ingin menjadi relawan BAZNAS.

Disaat kepulangan pun haru melanda. Semenjak pemberitahuan tanggal kepulangan kami, mereka langsung nampak sedih. Ibu-ibu nampak mampu menjaga ketegaran agar tidak terlihat sedih, namun berbeda dengan para remaja dan anak-anak, yang ingin menahan kepulangan kita. Bahkan ada yang berdoa “Semoga ada gempa lagi, biar kakak-kakak tetap di Kola-kola”. Ya Allah, saking mereka tidak ingin kami tinggalkan. Mereka sangat excited ketika belajar ilmu-ilmu baru. Sebagai pengajar tentu sangat menyenangkan. Hampir setiap hari mereka bermain ke balai desa atau rumah Pak Kades, mungkin efek tidak ingin ditinggalkan ya. Apalagi hari terakhir di Kola-kola, kemanapun kami pergi mereka mengikuti. Bukan hanya mengikuti tapi mereka menangis, hoalah, apa yang harus dilakukan? Benar-benar menguji ketegaran. Tangisan mereka pun membuat tak ingin pulang. Sampai pada akhirnya jemputan datang. Kami tertahan hampir dua jam, namun apa daya amanah harus tetap pulang. Sebenarnya, betah juga tinggal di Kola-kola, namun bagaimana dengan kuliah yang menanti? Atau keluarga yang menunggu?

Aku semakin berfikir, bahwa ketika menempatkan kesan menjadi prioritas dalam pertemuan, mungkin disinilah keharuan, haru tidak ingin berpisah, haru untuk tetap tinggal, haru selalu rindu, mungkin disinilah kami meninggalkan jejak-jejak kesan yang cukup baik, meskipun kami bertiga tidak maksimal menjalankan amanah dakwah.

Pengembaraan Dakwah di Tanah Kaili

Oleh: M. Fudoli

(Da’i Pos BAZNAS Layana Indah, Kota Palu))

Kesempatan bisa berdakwah di tanah Kaili adalah sebentuk cinta-Nya untukku. Allah Yang Maha Baik, memilihkan jalan ini sebagai medan juang dan jihadku. Juga sebagai kawah candradimuka tempat diriku ditempa dengan sebaik-baik tempaan. Barangkali atas rintihan dan doa-doa Ibu dan Ayah jua, Allah berkenan memberikan kesempatan berharga ini, kepada seorang yang masih compang-camping imannya. Hamba yang masih cacat ibadah dan amalnya yang mesti selalu berbenah dan memperbaiki. Kepada manusia yang masih banyak luput dan salah, sepertiku. Alhamdulillah, seribu syukur ku panjatkan pada Rabb semesta alam.

“Pengembaraan Dakwah di Tanah Kaili”, begitu judul yang Aku pilih dalam goresan tulisan ini. Sebuah catatan kecil untuk mengenang kenangang-kenangan besar yang Aku lalui selama mengembara di Palu. Ya, kenangan-kenangan bersejarah dalam ruang usiaku. Goresan tulisan ini Aku persembahkan untuk orang-orang yang tercinta wabil khusus kedua orang tua dan adik perempuanku. Lalu untuk kakak sekaligus gurunda, Bang Miqdam dan Bang Hadiyan sebagai pengurus Mualaf Center BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional). Semoga Allah meridhoi dan memberi hidayah-Nya.

Terhitung sejak 22 Oktober 2018 Aku ditugaskan ke Palu oleh Mualaf Center BAZNAS (MCB), bersama 3 relawan lainnya yaitu Hamzah, Jundi dan Prasetyo. Kami menyusul rombongan pertama yaitu Rendi, Azhari dan Achmad yang telah diberangkatkan seminggu sebelumnya. Sesampainya di pos tanggap bencana BAZNAS Sulawesi Tengah, kami tak banyak membuang waktu. Mandi, sarapan, dan setelah itu briefing. Kami dipisahkan ke pos-pos pengungsian yang telah ditentukan dan harus siap menjadi da’i serta tinggal di sana bersama para pengungsi selama kurang lebih tiga minggu.

Hari pertama Aku lalui rasanya berat sekali. Antara mimpi dan nyata, sore itu aku ditinggalkan seorang diri di salah satu pos pengungsian tanpa seorang teman yang ku kenal, di tempat antah berantah yang belum pernah ku datangi sebelumnya. Hari itu Aku sangat lelah karena hampir tak tidur sejak perjalanan malam dari Jakarta ke Palu. Saat tiba di pos pengungsian Layana Indah tempat ku bertugas itu, Pak Tati menyambut hangat dan membiarkanku beristirahat sampai waktu maghrib tiba. Beliau merupakan koordinator di pos pengungsian tersebut.

Tibalah waktu shalat maghrib. Sesuai jobdesk, kami para relawan da’i Palu diberi amanah untuk menghidupkan cahaya Islam di pos-pos pengungsian harus langsung bertugas. Mengadakan shalat berjamaah dan mengajak para pengungsi untuk shalat, salah satunya. Berhubung pos Layana Indah terletak di hutan dan jauh dari perkampungan maka shalat maghrib waktu itu dilaksanakan di salah satu tenda pengungsi. Dan karena imam masjid mereka sudah turun untuk kembali ke rumahnya, tak tinggal di pos pengungsian lagi yang letaknya di bukit, maka Aku menggantikan tugas beliau menjadi imam shalat berjamaah. Itulah pengalaman pertama menjadi imam shalat di pos pengungsian bersama para pengungsi.

Hari demi hari Aku sangat menikmati pengembaraan dakwah ini. Di pos Layana Indah para pengungsi sangat ramah dan welcome. Dari ibu-ibu, bapak-bapak, para remaja dan anak-anaknya terlihat begitu menyambut kehadiranku di tengah-tengah mereka. Tak disangka yang awalnya tak yakin bisa berbetah diri tinggal di sana, akhirnya betah dan tak ingin cepat pulang. Seperti menemukan keluarga baru di sana. Keluarga yang memberi makan, tempat tinggal dan keramah-tamahan.

Tiga hari berlalu, banyak aktivitas dakwah yang telah Aku lalui. Juga sudah banyak cerita dan pengalaman yang Aku dapat. Di antaranya mengajak para pengungsi terutama anak-anak untuk mendirikan shalat lima waktu. Ternyata tak semudah membalikan kedua telapak tangan, tak sepele mengedipkan mata. Dalam sekali shalat berjamaah Maghrib atau Isya saja jamaahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Padahal jumlah pengungsi keseluruhan mencapai 71 jiwa. Banyak di antara mereka yang memang sudah terbiasa meninggalkan shalat sebelum bencana. Itulah tantangan dakwah yang pertama.

Selain mengajak shalat dan menjadi imam shalat berjamaah, tugas di pos pengungsian adalah mengajar mengaji anak-anak. Alhamdulillah kami para relawan da’i dibekali iqra, juz ‘amma dan Al Quran. Sejak malam pertama di pos pengungsian, pengajaran Al Quran sudah berjalan, meskipun baru sedikit yang hadir. Tapi antusias mereka luar biasa, apalagi ada salah seorang ibu-ibu yang ikut hadir. Beliau tetap semangat mengaji walaupun harus belajar bersama anak-anak. Beliau tidak malu dan percaya diri menuntut ilmu.

Di hari ke-empat, tak diduga karena suatu sebab Prasetyo dipindahtugaskan ke pos Layana Indah bersamaku. Kini, aku tak melalui pengembaraan dakwah ini sendiri, ada seorang partner relawan da’i yang menemani. Sebelumnya kami sudah sama-sama saling kenal. Beliau merupakan teman satu universitas dan satu atap di asrama masjid Al Hurriyyah Institut Pertanian Bogor (IPB). Sekarang Aku merasa mendapat kekuatan dan dukungan baru untuk melangkah dalam medan dakwah di sana. Sungguh kegembiraan yang berlipat-lipat, Alhamdulillah.

Hari-hari berikutnya kami lalui dakwah di pengungsian dengan penuh semangat lillah. Semangat berapi-api karena berharap bertemu wajah-Nya. Karena mendamba ridha dan surga-Nya. Setiap agenda, setiap aktivitas antara kami dan pengungsi senantiasa berbalut dakwah. Bermain dengan anak-anak, bercengkrama dengan para ibu dan bapak-bapak dan bergaul dengan para pemudanya. Setiap jengkalnya, tak luput ingin selalu kami selipkan dakwah. Mengingatkan tentang Allah dan agama, yang dengannya kita selamat.

Suatu ketika di tengah-tengah pengembaraan dakwah di pengungsian, datang sekelompok relawan juga dari negeri tetangga, Malaysia. Mereka mengatasnamakan diri dengan Muslim Care Malaysia. Misi yang dibawa oleh mereka adalah menyalurkan bantuan berupa sembako dan Al Quran. Selain itu mereka datang dengan membawa salah satu Menteri dan Ustadz asli dari Malaysia. Tujuan mereka pun sama seperti kami yaitu berdakwah dan mengingatkan pengungsi akan Allah dan agama-Nya. Pernah juga ke pengungsian tempatku tinggal, bantuan sembako dan pakaian datang dari saudara-saudara muslim dari Yordania.

Betapa banyak bantuan dan dukungan yang datang ke Palu, Donggala maupun Sigi. Dari dalam maupun luar negeri. Terkhusus bantuan yang datang ke pengungsian Layana Indah di Palu. Salah satu bantuan yang paling dirasakan dan konsisten membersamai para pengungsi adalah bantuan yang datang dari BAZNAS. BAZNAS hadir di tengah-tengah pengungsi dengan membuat dapur umum yang stoknya selalu rutin dipasok. Kemudian bantuan genset untuk listrik di pengungsian maupun bantuan lainnya seperti trauma healing dan relawan dakwah, program dari Lembaga Beasiswa BAZNAS (LBB) dan Mualaf Center BAZNAS (MCB).

Di pengungsian, kami para relawan dakwah pun sangat merasakan bantuan itu. Terutama dalam hal makanan. Setiap hari makan di pos pengungsian selalu tersedia dan melimpah. Tak pernah kekurangan sedikitpun. Menu yang dibuat sangat beragam. Dari mulai aneka makanan yang dimasak oleh Mama Rampa dan timnya, sampai makanan mentah yang dimasak sendiri. Mama Rampa adalah sebutan ketua di dapur pengungsian. Aku dan Pras seringkali disuruh nambah saat selesai makan. Di antara masakan khas Kaili adalah Kaledo dan sayur kelor. Selama tiga minggu kami berdakwah, tak pernah mengeluhkan sedikitpun tentang jamuan makanan yang disuguhkan para pengungsi. Bahkan kami diperlakukan seperti raja di sana. Kami dimuliakan dan sangat diperhatikan kebutuhan-kebutuhannya.

Dengan kenyataan seperti itu, maka sudah sepatutnya kami selaku relawan harus totalitas dalam berdakwah di pengungsian. Merencanakan, mengonsep dan merealisasikan agenda-agenda dakwah yang dapat diterima dan berdampak bagi para pengungsi. Menjelang pulang dan tak bertugas lagi, kami mencanangkan program perlombaan di kelurahan Layana Indah. Perlombaan tersebut dilaksanakan atas kolaborasi kami dengan pengurus Risma (Remaja Islam Masjid) kelurahan Layana Indah. Program tersebut dibuat sebagai bentuk kenang-kenangan kami untuk anak-anak di pengungsian maupun anak-anak di kelurahan Layana Indah. Lomba yang diadakan adalah lomba adzan, cerdas cermat agama dan makan kerupuk. Acara diakhiri dengan pembagian hadiah dan doa.

Selain itu program-program dakwah lainnya yang alhamdulillah sudah terlaksana adalah praktek wudhu, tayamum dan mandi junub. Anak-anak di pos pengungsian juga masih banyak yang belum mengetahui benar tentang fikih thaharah, jadi itu menjadi salah satu materi yang kami ajarkan. Dan masih banyak lagi program dan tema-tema kultum yang sudah dilaksanakan dan disampaikan. Besar harapan sepulang dari Palu, ilmu-ilmu yang telah ditransfer maupun adab-adab dan doa-doa yang telah dicontohkan dapat dicerna dan diaplikasikan selalu. Terkhusus oleh anak-anak yang menjadi objek dakwah utama kami di pengungsian.

Tibalah hari terakhir aku dan Pras di pos pengungsian Layana Indah. Sore itu, Kamis 15 November 2018 kami mendapat kabar akan dijemput untuk kembali ke posko BAZNAS Sul-Teng. Sebelumnya kami memang sudah mengabarkan kepada para pengungsi tentang hari kepulangan yaitu tanggal 16 November. Para pengungsi pun terkejut karena yang harusnya besok baru pulang, ternyata sorenya sudah akan dijemput. Setelah itu mereka pun sibuk menyiapkan acara perpisahan untuk kami sore itu.

Maghrib tiba, shalat berjamaah pun dilaksanakan sebagaimana biasanya di tenda pengungsian. Selepas shalat, dzikir dan doa, aku dan Pras menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai bentuk perpisahan kepada para pengungsi. Tak disangka suasana saat itu sangat mengharu biru. Kami sedih, para pengungsi pun tampak sedih. Saat kami meminta perwakilan pengungsi untuk berbicara, tak ada satu pun yang bersedia. Sungguh menambah hening suasana. Apa yang kami sampaikan rupanya membuat hati mereka luluh dan teringat masa-masa saat kami bersama mereka. Terlalu banyak kenangan yang harus diingat, terlalu banyak cerita yang telah tercipta. Antara malu dan haru, mereka semua diam membisu. Hingga waktu isya tiba, suasana hening itu masih ada.

Selepas Isya, kami disuguhi makan malam dengan pencuci mulut susu dan onde-onde, makanan berbentuk bulat ketan berlapis parutan kelapa dan berisi gula jawa. Malam itu aku benar-benar merasa kenyang, bahkan disuruh nambah dan nambah lagi. Karena memang makanan dan suguhannya sangat banyak. Semua pengungsi berkumpul dan mengerumuni kami malam itu. Pemandangan yang jarang terjadi. Semuanya diundang dalam jamuan malam perpisahan malam itu. Sungguh kami dan para pengungsi berharap perpisahan itu bukan terjadi malam itu. Dan ternyata setelah ditunggu-tunggu malam itu kami tidak jadi dijemput. Alhamdulillah, syukur Aku masih bisa tidur bersama para pengungsi untuk kali terakhir.

Keesokan harinya barulah kami dijemput ke posko. Tak terasa waktu begitu cepat memisahkan. Jalan hidup yang baru harus kami dan para pengungsi lewati bersama. Betapa berat dan pilu hati ini. Namun tugas tetaplah tugas, Aku dan Pras harus pulang. Aku masih ingat apa yang Aku sampaikan selepas Maghrib di malam terakhir. Sebuah pesan cinta kepada para pengungsi yang aku cintai karena Allah.

“Ibu-ibu, bapak-bapak dan teman-teman semua. Terima kasih atas kebaikan dan sambutan semuanya selama ini. Selama kami di pengungsian, kami merasa diperlakukan sebagai tamu yang sangat dimuliakan.            Sesuai hadits Rasul, bahwa ciri-ciri orang beriman adalah suka memuliakan tamunya. Saya berharap semuanya termasuk ke dalam orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Kami tak mampu membalas selain doa-doa. Semoga Allah memberi kebaikan yang berlapis-lapis.”

“Pada malam ini juga kami meminta maaf setulus hati kami. Atas tingkah dan perilaku yang tak baik. Kami sudah banyak merepotkan dan menyusahkan. Pesan terakhir kami, semoga selepas kepergian esok hari semua pengungsi di sini terus istiqomah shalat lima waktu. Apapun yang terjadi, shalat jangan ditinggalkan. Ngaji dan belajar Al Quran juga mesti diteruskan. Suatu saat, semoga kita bisa bersua lagi di dunia maupun di surga-Nya kelak. Aamiin.”

Lika-liku Dakwah di Pos Pengungsian

Oleh: Rendi Saputra

(Da’i Pos BAZNAS Baiya, Kota Palu)

Berbicara mengenai “dakwah” memang tidaklah mudah. Hal itu tidak lepas dari dua faktor, yaitu: faktor perilaku manusianya secara personal dan faktor budaya yang sudah melekat pada suatu masyarakat. Apalagi jika kita berdakwah pada situasi pasca bencana, tentunya diperlukan mental yang kuat, fisik yang prima, dan pemahaman yang komprehensif mengenai kondisi dan situasi yang ada di lokasi bencana.

Ya, seperti yang dirasakan oleh saya sendiri selama berdakwah di pengungsian Dusun Mangu, Desa Baiya, Kec. Tawaeli, Kota Palu. Kompleksnya kondisi dipengungsian pada saat itu membutuhkan banyak sekali kerja-kerja ekstra yang perlu saya lakukan. Tidak hanya fisik dan mental, pun dengan pikiran harus segar agar bisa menghadirkan win-win solution bagi masyarakat yang ada di pos pengungsian. Selama di pos pengungsian ini, Alhamdulillah banyak sekali pikiran-pikiran yang membuat saya resah karena melihat kondisi riil yang ada adi tengah masyarakat. Sehari-hari masyarakat itu memang euuuuuh… greget. Tapi Alhamdulillah setelah pikiran-pikiran panjang itu bersarang di kepala saya akhirnya membuahkan solusi-solusi  dan menghasilkan keputusan-keputusan, bahwa fokus dan tujuan pada saya selama di pengungsian adalah untuk:

  1. Mengoptimalkan tiga brandal, agar mereka minimal ya… rajin sholat,
  2. Meng-upgrade kapasitas anak-anak dan pemuda Risma Al Hidayah Mangu agar bacaan Qur’an dan pemahaman ke Islaman mereka meningkat,
  3. Menghidupkan pengajian Ibu-ibu di malam minggu, dan
  4. Membudayakan mengaji Al Kahfi setiap malam Jum’at.

Selain dari itu, agar hasil pembinaan terhadap anak-anak Risma membuahkan hasil yang maksimal, maka dibukalah pengajian setiap bada sholat bagi anak-anak (alias 5 waktu) keren gak tuh? sebetulnya pusing juga sih, karena dengan demikian, waktu istirahat kita sedikit, karena selain daripada itu aktivitas kita juga banyak seperti; berdialog dengan pemuda-pemuda sekitar, dan satu lagi yaitu menemukan cara bagaimana caranya agar dakwah kita bisa mudah diterima di masyarakat terkhusus kalangan tua. Daaaan ketika dua pekan awal di pengungsian itu sendirian guys, huhuhu…. Gak galau gimana coba?

Agar dakwah kita bisa diterima oleh masyarakat, kita harus melakukan beberapa hal,  bisa dikatakan ini berkenaan dengan perilaku atau sikap dan juga apa yang harus dilakukan oleh seorang relawan selama di lokasi bencana atau pengungsian, yaitu:

  1. Bersikap ramah dan murah senyum

Bagi yang belum terbiasa melakukannya, pasti akan terasa sulit sekali untuk ramah dan murah senyum ini, terlebih jika kita berada di lokasi bencana yang kultur daerahnya hanya berbicara sekedarnya dan kita memang harus dituntut dekat banget sama mereka, itu yang saya rasakan selama di posko ini hehe

  1. Selalu menyapa warga dimanapun kita berada

Jujur nih, pas awal-awal banget datang ke posko pengungsian itu masih ada kepikiran, “oh sama-sama orang Indonesia, mereka pahamlah tentang kultur orang jawa bagaimana-bagaimanya”, so… ketika awal-awal biasa aja berinteraksi dengan mereka itu ya… sekedarnya saja. Tapi setelah dirasakan berhari-hari dan saya evaluasi kegiatan hariannya, ternyata gak gitu juga guys, antara saya dan masyarakat pengungsian kayak ada gap gitu, padahal sering ngobrol-ngobrol sama mereka, baik anak-anak, pemuda, dan orang tua, selain dari itu sering keluar juga. Di tanah Sulawesi, ini ternyata kitalah yang memang harus dituntut aktif. Kalo di Jawa istilahnya “kepalanya kita pegang nurutlah semua yang di bawahnya” kalo di sini, “emang beda kak” itu tutur pemuda Mangu ketika berdialog.

  1. Mendekati tokoh masyarakat sekitar

Sudah menjadi hal yang lumrah jika seorang relawan harus mendekati dan dekat dengan  seorang tokoh pada suatu lokasi bencana. Hal itu untuk memudahkan komunikasi dan juga koordinasi terkait perkembangan situasi selama di pengungsian. Selain daripada itu dekatnya kita dengan tokoh bisa menjadi jembatan untuk mengenal lebih jauh karakter dan juga budaya yang ada pada suatu daerah. Memang tidak semua masyarakat di Indonesia itu dapat dipengaruhi oleh tokohnya, ada beberapa tempat yang tidak demikian, tetapi minimal dekatnya kita dengan tokoh, kita bisa mengetahui kondisi komprehensif mengenai lokasi bencana ingin kita ketahui.

  1. Selalu meng-cross check keadaan pengungsi

Hal yang sering diremehkan, padahal esensinya begitu mendalam. Bisa jadi itulah tugas utama kita selama berdakwah di pos pengungsian. Dengan senantiasa memperhatikan kondisi pengungsian secara menyeluruh, kita bisa mengetahui apa yang sehari-hari mereka lakukan dan tentunya kita juga akan tahu apa yang terjadi dengan selama dipengungsian. Nah biasanya yang sering dialami oleh saya pribadi, sering adanya para donator tiba-tiba masuk ke pengungsian tanpa berkoordinasi terlebih dahulu dengan lembaga yang sudah ada di dalamnya. Saran saya pribadi sih alangkah lebih baiknya setiap lembaga yang datang ke pengungsian berkoordinasi terlebih dahulu dengan lembaga yang sudah ada di dalamnya, apalagi untuk relawan BAZNAS ini memang stay mendampingin warga di pos pengungsian.

Alhamdulillah, karena kita pun sering berkeliling dan sudah dekat dengan masyarakat, selalu ada saja yang memberi tahu kegiatan selama di pos pengungsian, kebetulan kondisi di pengungsian saya antara masjid dan pengungsian lumayan untuk berjalan kaki. Karena, alhamdulillah, masjid di pengungsian yang saya tinggali masih layak untuk dipakai sekalipun terkategori rusak ringan.

  1. Mengevaluasi kegiatan harian dimalam hari

Evaluasi ini memang sangat penting loh, hal ini bisa membuat kita saling mengetahui kondisi terkini dari masyarakat yang ada di sekitar. Apalagi, di Dusun Mangu ini jumlah posko yang dikelola BAZNAS adalah 3 posko; Posko RT 11, Posko RT 07, dan Posko RT 10. Nah nantinya setelah dilakukan evaluasi tentunya kita memiliki gambaran ter-update mengenai masyarakat sekitar, jika sudah paham maka kita beranjak dengan melakukan breafing. Saat breafing ini klita bisa membahas mengenai apa yang akan kita lakukan untuk esok hari berikut juga dengan pemetaan tugas dan strategi apa yang perlu dilakukan. Untuk waktu evaluasi ini memang baiknya dilakukan pada malam hari setelah kita selesai melaksanakan tugas-tugas kita seharian.

Demikianlah hal-hal yang perlu kita pahami dan cermati dalam melaksanakan tugas dakwah dai pos pengungsian. Mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih.

BERANGKAT!

Oleh: Fahmi Ulfah

(Da’iyah di Pos BAZNAS Kola-kola, Kab. Donggala)

Assalamu’alaikum Wr. Wb

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” Q.S 9 : 41

Jika hartaku belum bisa bermanfaat di jalan-Nya, setidaknya jiwa ini bisa.  Akhir bulan lalu aku memutuskan untuk ikut andil dalam agenda relawan yang dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di bawah Mualaf Center. Meluruskan niat ialah cara untuk menghilangkan rasa ragu dan takut saat itu. Lalu, bukankah ridho Allah terletak  pada ridho orang  tua? Maka, Izin orang tua pun menjadi tonggak keberangkatanku.

Wani-Donggala, 4 November 2018 menjadi pengabdian pertamaku di Sulawesi tengah. Satu hari sebelum berlangsungnya agenda Tabligh Akbar penguatan akidah untuk masyarakat setempat,  tatkala matahari tenggelam diufuk barat. Nampak lelaki kecil itu menghancurkan puing sisa-sisa guncangan yang meluluh lantahkan rumahnya.  Langkahku tertawan, ada rasa ingin tahu tentangnya. Saat aku bertanya apa yang sedang dia lakukan, ia menjawab “saya hendak mencari uang dari hasil penjualan  sisa besi reruntuhan rumah disini kak”. Aku tertegun, perkataannya membuatku tak bisa berkata-kata lagi. “Dik berikan palunya, biar kakak bantu, kamu bisa istirahat sebentar”. Hanya beberapa saat aku membantunya, bukan pekerjaan mudah memang. Orang yang  tidak terbiasa melakukan pekerjaan ini akan merasakan pegal di lengannya, termasuk aku.

Esoknya, dari Desa Wani, aku dan Dinda ditugaskan untuk mengisi di pos pengungisan. Sebuah tempat yang  jauh dari keramaian namun penuh dengan keramahan. Desa Kola-kola Kab Donggala, disinilah kami memulai segala aktivitas sebagai relawan. Ba’da dzuhur, alhamdulillah kami sampai di lokasi. Barisan para mantan, eh bukan, barisan tenda pada saat itu mengalihkan perhatianku. Pasalnya, siang  itu terlalu sepi.

Tempat ini romantis. Prasangkaku yang menganggap mereka individualisme ternyata salah. Kebersamaan mereka dimulai ba’da shalat Ashar. Beberapa pemuda bermain sepak  takraw dan sepak  bola diikuti oleh anak-anak kecil yang bermain dengan kawan-kawan seusianya. Beberapa kali anak-anak diajarkan membuat cilok dan seblak, salah satu makanan khas bandung.  Tidak jarang mereka menyuguhkan kelapa muda dan mangga. Kami membuat rujak manga dengan dua versi sambal, sambal khas kola-kola dan sambal yang biasa yang buat. Kegiatan rutin lainnya yang kami lakukan yaitu mengaji selepas shalat Maghrib sampai waktu Isya. Beberapa anak ada yang ingin tilawah ba’da Zuhur dan Ashar, kami pun menemani mereka. Sebelum kami megakhiri tugas di sini, kami mengadakan lomba untuk anak-anak. Tidak terlalu meriah, tapi cukup untuk dikenang. Di desa ini sendiri sebetulnya ada 3 dari relawan Mualaf Center BAZNAS (MCB) yang di tugaskan, yaitu Azhari, Dinda dan Aku sendiri.

Senja pertamaku di sana  bersama anak-anak, bermain bola voli di lapang kecil dekat MCK. Sebagai seorang yang lama tinggal berdekatan dengan gedung-gedung tinggi, tinggal di desa itu membuat kau begitu ‘excited’. Gerombolan sapi dan kambing yang berhamburan di jalan raya, mandi di kuala (sebutan untuk sungai di sana), kotoran sapi yang berserakan, sampai makanan menjadi sesuatu hal yang baru. Tiga hari pertama bertugas, Aku tidak lagi tidur di rumah Pak Kades dengan Dinda. Aku putuskan untuk tidur di tenda ditemani oleh beberapa remaja putri.  Kami bertukar pikiran, berbagi cerita ditemani pisang goreng dan sambal, makanan khas desa Kola-Kola. Sesekali kami nongkrong di warung, diskusi kecil membahas permasalahan remaja di desa ini. Aku bukanlah ustadzah, Aku hanya memberikan pengalaman baik dan nasihat-nasihat yang mungkin bisa mereka ambil hikmahnya. Aku lebih suka mendengarkan mereka bercerita, dengan mendengarkan, saya Aku lebih dapat memahami mereka, Insya Allah.

Terakhir yang akan aku ceritakan, yaitu Pak Imam, tiga nenek cantik dan ibu-ibu yang bertugas di dapur umum.

Aku lupa nama asli dari Bapak ini, namun warga desa memanggilnya dengan sebutan Pak Imam. Beberapa kali setiap pagi, kami (para relawan) mampir di rumah Bapak untuk meminta sarapan. Eh bukan, silaturahmi yang di suguhi teh dan pisang goreng sambel, ditemani cerita-cerita klasik dari bapak. Mie giling buatan istri pak imam menjadi penutup perjumpaan kami waktu itu.

Tiga nenek cantik. Kalau Aku tidak lupa, mereka adalah Nenek Aisyah, Nenek Fatimah dan Nenek Zubaidah. Siang itu, matahari sangat terik, Aku dan Ari selesai berkeliling desa. Kami berdua bertemu dengan tiga nenek-nenek yang sedang berkumpul di tenda berwarna orange bertuliskan BNPB. Ketiga nenek itu mengajak kami “piknik”, duduk bersama mereka di dalam tenda. Nenek Aisyah paling suka menawari kami minum sirup dan makan kue buatannya sendiri.  Suatu hari pernah kami bertiga (Dinda, Ari, dan Aku) bermalam di rumah nenek. Kami terlelap karena lelah seharian berkegiatan dengan anak-anak. Pulang dari rumah mereka, kami dibekali beberapa toples yang berisikan kue buatan nenek. Ah yak… Aku rindu hari-hari minum sirup nenek, maksud Aku, duduk bersama mereka, piknik di tenda BNPB.

Seperti halnya angin, mereka adalah pahlawan tak terlihat, ibu-biu dapur umum. Siang dan malam mereka mempersiapkan makanan, untuk kami dan sebagian warga lainnya. Tidak ada yang tidak enak, semua kami makan. Kecuali ikan, hanya Aku yang tidak makan ikan, hehe. Ada hari dimana listrik desa padam, air toilet rumah dan MCK limit, Aku pergi ke kuala bersama ibu-ibu. Ini kali pertama Aku mencuci di sungai. Mereka mengajariku mencuci di sungai. Bukan hanya mengajari, tapi pakaianku pun dicucikan oleh mereka. Katanya, mencuci di sini dengan kostan beda, Aku tidak akan bisa, katanya – Aku diremehkan-.

Aku akui desa ini sangat potensial, baik dalam sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Perlu pembinaan dan pengawasan secara berkala demi perkembangan desa tersebut. Pun dengan kami para relawan yang pernah singgah di hati mereka, eh di desa mereka, kami tetap memantau aktivitas remaja desa kola-kola melalui grup whatsapp. Besar harapanku untuk tetap disana. Namun, tanggung jawabku di tempat lain jauh lebih besar. Semoga di lain kesempatan kami bisa bersilaturahmi kembali dengan warga desa Kola-kola. Tidak ada rindu jika tidak ada pertemuan dan jarak. Kita tidak pernah jauh, kita tetap dekat dalam do’a. Semoga kebersamaan kita tidak hanya di Kola-kola, melainkan di syurga-Nya juga, aamiiin.

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada BAZNAS, khusunya tim Mualaf Center Baznas,  karena sudah mempercayakanku ikut andil dalam agenda dakwah ini. Terima kasih untuk Azhari yang sudah mau jadi ketua tim kami, Terimakasih juga untuk Dinda yang mengajari anak-anak buat seblak dan cilok khas bandung. Secara pribadi, Aku mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada salah kata atau tindak tanduk selama bersikap, mohon maaf karena belum bisa memaksimalkan peran sebagai relawan di sini.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Menjadi Muslim yang Kuat

“Tidaklah terjadi suatu musibah di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri kecuali telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sejak sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu bagi Allah sangat mudah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Barangsiapa berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia Maha Kaya Maha Terpuji” (QS Al Hadiid 57: 22-24)

Sebagai orang yang beriman dan meyakini kebenaran ayat-ayat Al Quran, tentunya ayat tersebut di atas dapat memberikan kelegaan dan ketengangan di dalam hati kita. Sebagai orang yang beriman, membaca ayat-ayat Allah SWT tentunya dapat meningkatkan iman kita kepada-Nya. Allah SWT, Rabb semesta alam, telah menciptakan langit dan bumi serta mengaturnya dengan adil dan bijaksana. Apa yang terjadi di langit dan di bumi merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, termasuk juga terjadinya suatu bencana alam. Hingga daun yang jatuh dari tangkainya, semua itu tidaklah luput dari pengawasan Allah SWT.

Bencana alam yang sangat dahsyat sehingga meluluhlantakkan suatu negeri merupakan pesan dari Allah SWT bahwa tidak ada yang lebih kuat kecuali Allah SWT semata. Maka sangat penting kiranya memahami pesan tersebut agar kita hanya bergantung kepada Allah karena Dialah Raja yang berkuasa di alam raya ini. Manusia adalah makhluk lemah. Sekalipun manusia diberikan kekuatan berupa akal pikirnya, namun hitu hanya secuil dari karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Allah telah memberikan petunjuk berupa wahyu Al Quran, yang telah memberikan informasi/tanda-tanda/pesan kepada manusia atas hal-hal yang tidak diketahuinya. Al Quran berisi kabar, baik sebelum manusia diciptakan hingga masa depan, yaitu akhirat. Itulan panduan yang dapat mengarahkan manusia hidup di dunia ini dengan selamat begitu juga kelak di akhirat.

Allah SWT pun menganugerahkan kepada manusia berupa akal dan daya pikir sehingga kebesaran-kebesaran-Nya yang ada di muka bumi ini dapat tersibak. Diantaranya adalah diketahuinya bahwa bumi Indonesia ini merupakan ring of fire sehingga memiliki potensi terjadinya bencana alam berupa gempat bumi, tsunami, gunung berapi, dan lain sebaginya. Potensi bencana alam di Indonesia lebih tinggi dari pada negara lain. Hal ini hendaknya dipahami bahwa bencana alam dapat saja datang tiba-tiba. Sesuatu yang datang tiba-tiba dapat membuat manusia kaget. Kekagetan tersebut disebabkan manusia belum siap menghadapinya. Maka kita harus sadar akan keselamatan diri kita. Namun yang paling penting adalah keselamatan kita kelak di akhirat. Justru dengan ini, seharusnya membuat kita semakin sadar akan kebesaran Allah SWT, membuat kita memperbanyak taubat kepada Nya. Seharusnya manusia yang berada di atas negeri ini adalah manusia yang paling taat dan bertakwa kepada Allah SWT karena tanda-tanda kekuatan dan kebesaran Allah sangat jelas. Memahami hal ini dengan baik membuat kita semakin siap menghadapi bencana dan tidak mudah terkejut.

Seharusnya manusia yang berada di atas negeri ini adalah manusia yang paling taat dan bertakwa kepada Allah SWT karena tanda-tanda kekuatan dan kebesaran Allah sangat jelas. Memahami hal ini dengan baik membuat kita semakin siap menghadapi bencana dan tidak mudah terkejut.

Perbaikan dalam segala bidang harus dilakukan. Baik perbaikan dalam dimensi materiil maupun spiritual. Perbaikan dimensi materiil dapat dilakukan dengan mambangun tata kota yang mempertimbangkan mitigasi bencana, diantaranya: struktur bangunan, perlunya suatu lapangan terbuka dibeberapa titik sebagai tempat evakuasi, dan standar keselamatan lainnya yang perlu diperhatikan untuk meminimalkan korban. Bahkan penting menjadi sebuah standar keumuman bahwa setiap rumah harus memiliki tenda yang dapat digunakan dalam kondisi darurat.

Namun demikian, dimensi materiil hanya bersifat sementara (fana). Ada hal yang lebih penting dari itu yaitu dimensi spiritual yang akan menjadi penentu keselamatan kita di akhirat kelak. Perbaikan dimensi spiritual dapat dilakukan dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, beribadah dengan benar, memperbaiki akhlak, bermuamalah sesuai dengan syariat agama, menjadi pemimpin yang jujur dan adil, menyambung silaturahim dengan kerabat, tidak bermusuhan antara sesama, tidak mengambil hak yang bukan miliknya. Memberikan kabar gembira bagi saudara-saudara kita yang telah bertaubat dan berhijrah, memberi peringatan kepada mereka yang berbuat maksiat agar mereka juga selamat.

Allah SWT telah mengabarkan kepada kita dengan memberikan contoh keadaan umat-umat sebelum kita seperti umat Nabi Nuh as, Nabi Luth as, Nabi Syuaib as, Nabi Hud as, dan sebagainya. Namun apakah kita pernah menjadikan kisah mereka sebagai pelajaran untuk kita? Allah SWT mengisahkan cerita tersebtu dalam Al Quran agar kita memiliki iman seteguh para Nabi dan menjauhi perbuatan umat yang dimurkai oleh Allah SWT. Orang yang beriman haruslah memiliki iman yang kuat sehingga ia tidak mudah putus asa dan kembali bangkit dari keterpurukan. Bagi orang yang beriman, jika ia mendapat musibah, ia tidak lantas terlalu larut dalam duka. Ia memiliki optimisme untuk memperbaiki kehidupan yang telah ia jalani. Ia pantang untuk menampakkan kesusahannya. Ia memilih untuk lebih dahulu membantu saudaranya meskipun sebenarnya ia juga sangat membutuhkan bantuan. Orang yang imannya kuat tidak mudah untuk mengeluh dan meratapi musibah karena ia yakin bahwa semuanya adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Ia meyakini takdir yang baik dan yang buruk datang dari Allah SWT sebagai peringatan dan pelebur dosa.

Rugilah diri kita jika bencana ada di depan mata namun tidak ada upaya perbaikan untuk menyelamatkan diri kita baik di dunia maupun akhirat. Maut hanya menunggu waktu, pasti tiba saatnya kita menjemputnya. Maut bisa saja datang dalam bentuk bencana maupun ketika kita berada di atas dipan kasur. Namun yang paling penting adalah apakah hidup kita saat ini sudah bermakna sehingga memberikan banyak manfaat kepada sesama, ataukah hidup kita justru membawa petaka bagi sekeliling kita? Apakah kelak kita akan menjemput maut dengan khusnul khotimah yaitu akhir hidup yang bahagia ataukah su’ul khotimah yaitu akhir hidup yang sengsara?

Wallahua’lam bish shawwab

MAH

Portfolio Items