Berzina sebelum masuk Islam; apakah diampuni?

“Ya Rasulullah aku telah berzina, sucikan dan bersihkan diriku” seorang wanita mengaku dihadapan Rasulullah SAW.

Nabi SAW diam, wajah beliau memerah dan memalingkannya ke kanan. Beliau berharap wanita tadi mencabut kata-katanya barusan. Namun, wanita tadi tidak bergeming. Hatinya telah penuh dengan iman dan mengaliri aliran seluruh aliran darahnya.

“wahai Rasul, apakah engkau akan memperlakukanku seperti engkau menolak Maiz bin Malik? Demi Allah, aku betul-betul telah berzina” wanita tadi mengucapkannya dengan mantab dan penuh keyakinan.

“pergilah, sampai engkau melahirkan bayi itu” jawab Rasulullah SAW melunak.

Beberapa waktu kemudian wanita tersebut datang lagi kepada Rasulullah SAW, “ya Rasulullah, aku telah melahirkannya hari ini. Sesuai janjimu hukum lah aku hari ini” wanita tadi masih ingat akan permintaannya dahulu.

“pulanglah, susuilah dulu bayi ini hingga ia mampu untuk makan sendiri” Nabi SAW melihat bayi merah yang terbungkus kain dengan penuh rasa iba dan sedih.

Orang Tua Masih Kafir, Apakah Harus Putus Hubungan?

“Wahai Sa’ad, aku dengar engkau telah masuk agama Muhammad yang baru itu, betulkah demikian?”, tanya ibunya.

“Betul wahai ibu”, jawab Sa’ad.

“Aku juga mendengar bahwa Muhammad menyuruh kalian untuk ta’at kepada ibu?”, cecar ibunya lagi.

“Betul wahai ibu”, jawab Sa’ad.

“Jika demikian, aku ini ibumu maka aku perintahkan kepadamu untuk meninggalkan Muhammad dan keluarganya”, desak ibunya.

“Mohon maaf wahai ibuku, aku tak mungkin melakukan itu”. Sa’ad coba menjelaskan posisinya diam seribu bahasa.

“Baiklah, jika engkau tidak mau menuruti perintah itu, ibu akan berhenti makan sampai engkau mau kembali lagi ke agama kita semula” ancam ibu Sa’ad.

Namun ia tak bergeming, tetap pada pendiriannya. Beberapa waktu telah berlalu, keadaan ibunya semakin lemah. Sanak kerabat telah berkumpul, Sa’ad pun dihadirkan untuk melihat keadaan ibunya yang semakin menyedihkan. Ia berdiri memandang lama wajah ibunya tercinta yang tengah kesakitan menyongsong kematian. Keluarganya mengira bahwa Sa’ad akan berubah pendiriannya dengan keadaan tersebut. Namun, tak disangka kalimat yang diucapkannya adalah: “Ketahuilah wahai ibu. Demi Allah, seandainya ibu punya 100 nyawa dan ia keluar satu demi satu sungguh aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikitpun.”

Tak disangka, sebelum peristiwa itu disampaikan Sa’ad kepada Rasulullah, beliau SAW telah menanyakan terlebih dahulu, “Wahai Sa’ad, apa yang telah engkau perbuat dengan ibumu? Sungguh Allah SWT telah menurunkan ayat kepadamu:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan“. (Al-Ankabut: 8)”.

Ayat yang turun kepada Sa’ad tersebut, kemudian diikuti dengan ayat berikutnya, yaitu firman Allah SWT:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Lukman: 15).

Berdasarkan kedua ayat ini, para ulama kemudian memberikan pandangan bahwa seorang anak yang telah masuk Islam, tetap memiliki kewajiban untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun masih kafir selama hal itu tidak dalam rangka maksiat kepada Allah SWT. Hal itu juga malah diperkuat dengan satu ayat sebelumnya yaitu:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (Lukman: 14).

Bahkan, Rasulullah SAW saat ditanya oleh Asma binti Abu Bakar apa yang harus dilakukannya ketika ibunya yang masih kafir ingin datang menjenguknya Rasulullah SAW mengatakan, “Hendaklah kamu menyambung silaturahmi kepada ibumu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dilihat dari aspek dakwah, seorang anak yang telah muslim dan muslimah mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat mendakwahkan Islam kepada kedua orang tuanya yang masih kafir dengan memperlihatkan akhlak dan sikap terbaik kepada keduanya. Mengobati dan merawat saat mereka mereka tua dan sakit, menafkahi mereka, menyenangkan mereka dengan pemberian yang halal, dan perbuatan baik lainnya seraya tidak lupa mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah Allah SWT dan kembali kepangkuan fitrah mereka yaitu Islam.

Wallahu a’lam bis showwab.

“PUBLIC SPEAKING”

Oleh : Muhammad Iqbal, Ph.D (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana)

Sekolah Da’i BAZNAS

Selasa, 21 Juli 2020

Public speaking adalah kemampuan berbicara didepan umum. Kunci dari kemampuan komunikasi adalah percaya diri. Kesuksesan saat ini ditentukan oleh satu faktor yaitu kepandaian dalam komunikasi.

Public speaking merupakan proses penyampaian ide dalam fikiran dan mentransfernya ke dalam pikiran pendengar sehingga membuat mereka melihat dalam sudut pandandang yang sama dengan yang berbicara.

Era komunikasi dakwah saat ini tidak hanya terbatas pada tempat-tempat tertentu melainkan lebih luas jangkauannya dengan bantuan teknologi. Masyarakat saat ini masih mengukur seorang dai dengan sebuah kepopuleran. Oleh karena dai disarankan untuk menjadi seorang populer. Dai juga perlu membangun personal branding agar dapat membangun kepercayaan orang-orang dalam hal yang disampaikan. Salah satu caranya aktif menyebarkan dakwah di sosial media.

Dai bukan hanya sekedar berbicara karena seorang dai yang berdakwah dapat mengajak dan mengundang sebagaimana yang terkandung dalam QS. Yusuf : 33

Da’i adalah tugas dan tanggung jawab setiap orang namun ditempuh dengan memperkuat pondasi ekonomi sehingga motif dakwah tidak lagi mengenai motif ekonomi atau berbicara tarif. Maka orang akan menghargai dai dengan melilihat dari kredibilitas dan kepopulerannya karena menjadi populer merupakan peluang untuk memengaruhi orang.

Fenomena masyarakat saat ini yaitu meremehkan dai sebab melihat dari sisi materil dan penampilan. Oleh karena itu, Dai perlu mengkapitalisasi ekonomi dengan menjadi pengusaha untuk menjaga kehormatan dai.

Hambatan terbesar dalam berbicara didepan publik diantaranya :
1. Tidak mengetahui cara bagaimana cara berbicara dengan orang lain
2. Mindset minder dari seorang da’i sehingga timbul rasa tidak percaya diri.

Komunikasi yang disarankan bagi seorang da’i diantaranya:
1. Menyentuh hati jama’ah dengan tampil percaya diri dan membangun engagement dengan menyapa, mendoakan, dan menyanjung jama’ah atau tokoh masyarakat sebagaimana budaya lokal.
Ex : Menyapa jama’ah dengan kata ayahanda dan ibunda sebagaimana alm Ust. arifin ilham menyapa jama’ahnya.
2. Menggunakan pendekatan sosial budaya budaya lokal. Misal menyapa dengan gaya bahasa daerah setempat
3. Sifat manusia banyak ingin didengarkan dan diapresiasi. Misal apresiasi dan pujian saat jamaah bertanya.
4. Mengubah mindset dengan berfikir mengenai harga diri.
5. Menghindari mindset negatif berupa rasa takut baik takut dikritik, jelek, salah, terlihat bodoh, dan tidak maksimal. Selain itu tidak membandingkan dengan orang lain. Maka harus membuang jauh-jauh penyakit psikologis tersebut.
6. Menjadi dai yang berfikir positif sehingga pendengarpun menjadi lebih positif.

Public speaking adalah seni dengan melukiskan “ide” atau topik bukan dalam goresan car warna melainkan dalam untaian kata-kata. Maka perlu melatih merangkai kata dan membuat humor untuk menyentuh hati jama’ah.

Keberhasilan komunikasi 55% ditentukan dengan visual, 38% vocal dan 7% Verbal. Mala dai perlu memperhatikan visualisasi saat menyampaikan materi dakwah. Salah satunya dengan memperhatikan gesture, antusiasme da’i, dan teknik atau metode dalam menyampaikan materi. Salah satu metode yang dapat dilatih yaitu dengan menampilkan humor yang sopan.

Mualaf Center BAZNAS RI
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan BAZNAS RI

[SILABUS TAUSYIAH RAMADHAN KELUARGA]

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mari sambut Ramadhan bersama dengan BAZNAS. Salah satunya dengan melaksanakan program tausyiah ramadhan keluarga di setiap rumah masing-masing.

Alhamdulillah, BAZNAS menghadirkan Silabus Tausyiah Ramadhan Keluarga yang dapat menjadi acuan dalam penyampaian tausyiah singkat dikala berkumpul bersama keluarga.

Semoga Ramadhan tahun ini menjadikan kita lebih baik dan keluarga yang bertaqwa.

Link download Silabus Tausyiah Ramadhan Keluarga
———————————
🌐 : https://mualafcenterbaznas.com
📩 : mualafcenter@baznas.go.id
📞 : +621-3904555 / +6282197767200
🎥 : IGTV @mualafcenterbaznas

#MCBNews
#MualafCenterBaznas
#ZakatTumbuhBermanfaat

Silabus-Tausyiah-Ramadhan-Keluarga-BAZNAS

Peran Fatwa dan Masjid di Tengah Pandemi Covid

Salahuddin El Ayyubi

(Kepala Lembaga Progam Mualaf Center BAZNAS)

Tak ada sesiapa yang menduga bahwa dampak yang ditimbulkan oleh Covid-19 begitu luas dan begitu terasa hampir pada setiap sendi kehidupan. Tak hanya faktor ekonomi, sosial, politik, bahkan agama. Barangkali, tahun ini akan menjadi yang pertama kali dalam sejarah umat Islam Indonesia merayakan Ramadhan di rumah masing-masing. Masjid-masjid akan sepi dari taraweh berjamaah dan kegiatan ibadah ramadhan lainnya. Tentu saja ini menimbulkan polemik di tengah masyarakat baik pro maupun kontra.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara misalnya memutuskan untuk mengeluarkan fatwa yaitu menganjurkan umat Islam secara khusus muslim laki-laki untuk tetap melaksanakan sholat taraweh berjamaah di Mesjid dengan syarat dan aturan-aturan yang telah di tetapkan dalam fatwa tersebut.

Bagaimana dengan Majelis Ulama Indonesia Pusat? Semenjak Covid-19 mulai merebak, MUI telah mengeluarkan tiga fatwa terkait yaitu: (1). Fatwa No. 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaran Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19; (2) Fatwa No. Tahun 2020 Tentang Pedoman Kaifiat Shalat Bagi Tenaga Kesehatan Yang Memakai Alat Pelindung Diri (Apd) Saat Merawat dan Menangani Pasien Covid-19; (3). Fatwa No 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana’iz) Muslim yang Terinfeksi Covid-19.

Fatwa MUI No. 14 yang disebutkan berusaha untuk memberikan solusi atas berbagai keadaan yang sangat mungkin terjadi. Sebagai misal, bagi mereka yang telah dinyatakan terpapar Corona misalnya pada Poin No. 2 disampaikan: “Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur, karena shalat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar”

Bagi mereka yang sehat, Fatwa menyebutkan pada poin 3a: “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya”.

Bahkan dalam keadaan yang semakin tidak terkendali, fatwa tersebut telah mengakomodirnya pada poin No. 4 yang berbunyi: “Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim”.

Mendukung fatwa No. 14 ini, Mualaf Center Baznas (MCB) mengeluarkan Pedoman Masjid Tanggap Covid-19 yang salahsatu tujuannya adalah untuk meningkatkan pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyebaran Covid-19 di lingkungan Masjid. Terkait keadaan yang mungkin terus memburuk, maka pedoman ini pun telah menyebutkan bahwa, “Pelaksanaan ibadah seperti: sholat berjamaah, sholat jumat, sholat taraweh, shola ied, serta kajian-kajian keagamaan hendaknya dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan apabila keadaan semakin darurat (lockdown)”

Bahkan, untuk menguatkan sosialisasi terhadap Fatwa tersebut, MCB khusus mengadakan satu Kajian Online yang secara khsusus mengambil tema “Fatwa Ulama di Tengah Wabah” dengan narasumber KH. Cholil Nafis selaku Ketua Komisi Dakwah MUI yang video rekamannya masih dapat dilihat pada https://www.youtube.com/watch?v=b8tlHJkM2I0&t=216s .

Pedoman yang telah disusun ingin mendudukkan posisi dan fungsi Mesjid yang tidak hanya sebagai tempat pelaksanan ibadah semata, tetapi juga menjadi markas dan sumber kekuatan umat untuk tetap kuat menghadapi wabah yang terjadi saat ini. Hal itu dapat diwujudkan dengan mengaktifkan Baitul Maal Masjid agar dapat mengkoordinir kekuatan-kekuatan umat dalam menyelesaikan masalah secara berjamaah sebagai kekuatan sebenarnya dari umat itu sendiri.

Tentu saja dalam menyikapi perbedaan yang ada terkait Fatwa itu sendiri, maka diperlukan tidak hanya keluasan pembacaan terhadap isi fatwa tersebut, tetapi juga diperlukan keluwesan dan kebijaksanaan dalam pelaksanaan fatwa demi wujudnya kemaslahatan umat dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT melindungi kita semua. Amiin ya Rabbal Alamin.