Zakat dan Potensi Industri Halal

Oleh: Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc., MA

Kajian yang dikeluarkan oleh The State of The Global Islamic Economies tahun 2018-2019 menyatakan bahwa total belanja masyarakat muslim di dunia pada tahun 2017 lalu pada berbagai sektor halal baik itu makanan, minuman, farmasi, kosmetika, busana, wisata, media hiburan maupun sektor keuangan syariah telah mencapai angka 2.1 Trilyun Dolar Amerika. Jumlah ini diperkirakan akan terus naik hingga mencapai 3 Trilyun Dolar Amerika pada tahun 2023 dengan asumsi pertumbuhan yang linier penduduk muslim dunia.

Potensi zakat di Indonesia sendiri terbilang cukup besar. Menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) angkanya dapat mencapai hingga 233.8 Trilyun rupiah. Penghimpunan zakat nasional mengalami pertumbuhan rata-rata setiap tahunnya sekitar 30,55 persen. Pada 2016, zakat yang berhasil dihimpun organisasi pengelola zakat baik Baznas maupun LAZ adalah sebesar Rp 5.017,29 miliar, dan meningkat menjadi Rp 6.224,37 miliar pada 2017 dan Rp 8.100 miliar pada tahun 2018. Tentu saja, antara potensi yang ada dengan fakta yang terjadi masih terjadi gap yang cukup besar.

Bagaimana dengan perkembangan industri halal di Indonesia? Nampaknya pun setali tiga uang. Masih data yang dikeluarkan oleh The State of The Global Islamic Economies tahun 2018-2019 bahwa Indonesia hanya berada di posisi ke-10 sebagai produsen produk halal dunia, sementara Malaysia telah menduduki posisi yang pertama.

Artinya, perkembangan zakat dan industri halal mempunyai masalah yang sama yaitu masih rendahnya pencapaian dengan potensi yang ada. Boleh jadi, penyebabnya sama yaitu zakat masih dianggap sebagai sebuah tindakan filantropi saja dan halal masih sebatas dianggap sebatas gaya hidup semata. Padahal, kesadaran untuk mengkonsumsi produk-produk halal seharusnya tumbuh dan berkembang dari kesadaran yang sama tentang kewajiban zakat yaitu keimanan untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Zakat Adalah Manifestasi Iman

Al-Qur’an saat berbicara tentang perintah untuk mengkonsumsi produk halal dan perintah untuk menunaikan zakat senantiasa dikaitkan dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Sebagai contoh, firman Allah SWT:

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. (Al-Maidah: 8)

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”. (Al-Baqarah: 43)

Zakat pada sebagian pembahasan memasukkannya ke dalam bagian philanthropy atau sifat kedermawanan. Namun jangan salah, Islam tidak mengizinkan adanya praktek philantrophisme yaitu perbuatan baik yang hanya didasari oleh rasa cinta terhadap sesama manusia. Sebaliknya, zakat adalah suatu kewajiban yang datang dari Allah SWT kepada mereka yang diberikan kelapangan harta. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’llaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah: 60).

Kesadaran akan kewajiban ini akan melahirkan kesadaran bahwa bukanlah mereka yang memberikan budi baik bagi si miskin dan kemudian merasa lebih mulia daripada mereka. Akan tetapi, ini adalah murni bentuk kepatuhan pada perintah Allah SWT. Sebaliknya, si miskin pun tidak boleh merasa rendah diri, karena sejatinya pertolongan itu datangnya dari Allah SWT bukan dari si kaya. Walaupun, pada prakteknya tuntunan akhlak membuat mereka berterima kasih dan menghargai si kaya yang telah memberikan hartanya karena perintah Allah SWT.

Praktek-praktek philantrophisme ini jika tidak disadari, akan membuat seseorang mudah terjangkiti oleh kesombongan karena merasa lebih dermawan. Inilah yang kemudian secara ringkas dan tepat disampaikan Allah SWT dalam firman Nya:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (At-Taubah: 103)

Al-Mawardi dalam kitabnya mengatakan bahwa sedekah itu zakat dan zakat itu sedekah. Berbeda dalam penamaan tetapi memiliki makna yang sama. Al-Qadhi Abi Bakr Ibn Arabi mencoba menjelaskan, bahwa zakat disebut dengan kata sedekah yang mana berasal dari kata ‘sidqun’ yaitu bermakna kesesuaian antara tindakan, perkataan, maupun keyakinan (Ibn ‘Arabi: t.th).

Hal ini bisa dipahami bahwa seseorang yang mengeluarkan zakat adalah implementasi dari keimanan sebagai akumulasi dari membenarkan di dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan membuktikan dengan amal perbuatan. Zakat membersihkan akhlak si kaya dan menyucikan serta membersihkan jiwanya dari rasa bakhil dan berbagai akhlak tercela.

Halal Lifestyle Bukan Sekedar Gaya Hidup

Demikian pula meningkatnya keinginan pola hidup halal (halal lifestyle) seharusnya lahir dari niat yang lurus dalam rangka beribadah kepada Allah SWT dan bukan sekedar untuk mengejar keuntungan dunia semata. Jika motivasi ini tidak tumbuh, maka boleh jadi pelaku industri dapat menghalalkan segala cara agar bisnis yang dilakukan sukses walaupun ternyata melanggar prinsip-prinsip syariat. Halal lifestyle adalah bagian daripada konsekuensi terhadap iman itu sendiri. Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).

Tentu saja hal ini bukanlah perkara yang mudah. Masih banyak kaum muslimin yang tidak peduli, bahkan cenderung meremehkan kehalalan makanan yang dikonsumsi ataupun komoditas yang diproduksi. Hal ini boleh jadi disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap prinsip-prinsip kehalalan itu sendiri. Oleh itu, ada tiga hal yang semestinya penting untuk dilakukan:

  1. Benar dalam memahami. Peningkatan pemahaman baik dari aspek syariah tentang urgensi kehalalan dalam hidup seorang muslim hendaknya menjadi hal mutlak yang harus terus dilakukan. Pengetahuan konsumen tentang kemajuan teknologi pangan mengenai produk-produk yang terindikasi tercampur dengan zat-zat yang diharamkan juga harus ditingkatkan.
  2. Halal dalam mencari. Bagi para produsen hendaknya untuk tidak hanya mengejar laba dan keuntungan yang besar sehingga melupakan hal-hal prinsip dalam syariah.
  3. Berkah dalam menikmati. Berekonomi bukanlah sekedar mendapatkan keuntungan harta duniawi, tetapi juga bertujuan untuk memperoleh ‘falah’ yaitu kebermanfaatan dunia dan akhirat. Kemanfaatan yang tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga orang lain. Kemanfaatan yang tidak hanya dirasakan saat ini, tapi terus menerus. Keberkahan yang turun dari atas langit dan keluar dari perut bumi.

Pada akhirnya, zakat tidak pernah menerima dari harta yang haram. Maka meningkatnya kesadaran akan gerakan halal sebagai gaya hidup, pada hakekatnya adalah peningkatan terhadap kesadaran kewajiban zakat itu sendiri. Harta yang didapatkan dan dinikmati dengan cara yang halal, akan mendatangkan keberkahan bagi semaunya. Firman Allah SWT:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

Waspada Jebakan Istidraj

Oleh: Ust. Sholahudin El Ayyubi, Lc
Khutbah Jum’at 22 Agustus 2014
Kita semua pernah berpikir dan bertanya di dalam diri kita masing-masing mengapa ada orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar ada orang yang sukses tapi pelitnya luar biasa, jawabannya mungkin bisa kita lihat pada Hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bahwa Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}
“Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka, lalu Rasulullah membaca: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” Al An’am 44. HR. Ahmad
Dari Ibnu Abbas ra, ketika mengomentari firman Allah ini beliau membaca surat Al Qolam ayat 44:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ} [القلم: 44] ؛ قَالَ: كُلَّمَا أَحْدَثُوا خَطِيئَةً جددنا لهم نعمة وأنسيناهم الاسْتِغْفَارَ.
“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.”
Sufyan ats Tsauriy menjelaskan firman Allah:
عن سفيانَ في قولِهِ {سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُون} [الأعراف: 182] قالَ: نُسبغُ عَليهم النِّعمةَ ونَمنَعُهم الشكرَ.
“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Kami karuniakan nikmat kepada mereka dan kami halangi mereka untuk bersyukur.”
Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah pada kita, boleh jadi kelapangan hidup itu adalah bentuk azab yang tidak kita sadari, kalau standar sayangnya Allah itu adalah kemewahan hidup, maka Qorunlah orang yang paling disayangi Allah, tetapi kita tau akhir hidup seorang Qorun yang binasa ditelan bumi. Juga jangan kita mengira orang yang banyak cobaan dan ujian didalam hidupnya itu tanda dia dimurkai oleh Allah.
Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan segala dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.Para penuntun ilmu juga demikian, janganmengira nilai yang bagus, kesuksesan, kelulusan, adalah ukuran kasih sayang Allah, tetapi lihatlah bagaimana seorang penuntut ilmu melihat bagaimana hubungan dia dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
Bagaimana salat berjamaah bagaimana ketaatan-ketaatannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan bagaimana dia berusahanya untuk mengamalkan ilmu yang didapat. Ibnul Qayyim al-Jauziyah pernah berkata:
“… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” Al-Fawa’id, hal. 34
Oleh karena itu ilmu, amal dan iman harus sejalan. Bahwa pemuda yang mempunyai cita-cita yang tinggi untuk kebaikan bersama, dia tidak akan rela dengan segala bentuk ketertinggalan dan keterbelakangan, dia akan mendobrak segala bentuk penindasan dan kedzoliman , dia akan penuhi dunia ini dengan prestasi dan kerja nyata. Pada dirinya terletak segala harapan-harapan indah tentang masa depan.
Semnagat akan mengaliri denyut nadinya, akan mengaliri seluruh aliran darahnya, seluruh desah napasnya, tidak ada kata mustahil dalam kamus hidupnya. Pemuda islam adalah pemuda yangs sehat karena diberi asupan makanan yang halal dan sehat karena diberi asupan makanan yang halal dan sehat. Olahraga untuk menjaga kesehatan, menjadi penyemangat untuk beraktifitas bukan sekedar untuk melampiaskan kepuasan dan menghabiskan waktu.
Pemuda islam hatinya dipenuhi dengan iman, yang teraplikasi pada ibadah-ibadah yang benar, moral dan akhlaknya memukau siapa saja yang bergaul dengan dirinya. Akalnya dipenuhi ilmu dan wawasan yang luas, hidupnya teratur dibekali jadwal kegiatan bermanfaat, hidupnya mandiri tidak merepotkan orang lain bahkan mampu menyebarkan kebaikan dan manfaat bagi siapa yang membutuhkan.
Tiada kesempatan terbuang percuma tanpa diisi dengan kegiatan yang positif. Pemuda-pemuda yang tenggelam dalam syahwat dan glamornya dunia, tidak ada yang bisa diharapkan dari dirinya, loyo dalam segala hal, angan-angannya tinggi tapi usahanya tidak ada, hayalannya membumbung tinggi ke angkasa tapi belajarnya malas setengah mati.
Dia tidak peduli dengan apa yang dia makan yang penting sesuai dengan selera, halal dan haram itu tidak menjadi masalah apakah makanan yang ia makan mengganggu kesehatan kesehatan itu bukan urusan. Pemuda islam bukan yang keyakinannya hanya mengikuti tren ibadah nya bukan kapan butuh atau dia mudnya sedang baik.
Dia bukan pemuda yang yang tidak ada waktu untuk mengerjakan hal-hal yang serius, selalu lapang jikalau berurusan dengan hiburan riang gembira, belajar tak menjadi kepentingan, wawasan apa adanya, kalau ditanya lebih banyak bingung daripada menjawab. Jangankan membantu orang lain, mereka terganggu pun mereka tidak peduli.
Pemuda islam bukan yang kebutuhannya banyak tetapi uangnya minta kepada kedua orang tuanya. Semboyannya adalah belajar santai, masa depan cerah, istri cantik, hidup hewan, mati masuk surga tapi tanpa ada usaha. Sekalipun kita lihat dalam sejarah Ibnu Jarir, imam Al-Ghazali, Imam Al nawawi, Imam As Suyuti, dan ribuan ulama-ulama lainnya, mereka adalah orang-orang yang ratusan tahun lalu telah meninggal tetapi dengan ilmu dalam karya-karya tulis mereka seolah-olah menunjukkan bahwa mereka masih hidup.
Tidak bisakah kita bayangkan b bagaimana banyaknya pahala yang mengalir diterima oleh imam Al Bukhari, Imam muslim, Imam Syafi’i dan ulama-ulama lainnya setiap s saat, selagi ilmu-ilmunya dimanfaatkan manusia maka mereka akan terus mendapatkan pahala. Namun perlu kita ingat ketika kita mencoba meniru para ulama tersebut, dengan menulis apa yang sudah kita dapatkan dari ilmu kita, kita tulis diberbaai momen.
Pernahkan kita memikirkan apakah tulisan-tulisan tersebut dapat menjadi amal baik yang memberatkan timbangan kebaikan kita setelah kita meninggal atau sebaliknya itu akan memberatkan eprtanggungjawaban kita kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Banyak ulama-ulama dahulu mencacatatkan karya-karya besar, namun sejarah mencatat di akhir hayat mereka, ada diantara ulama-ulama yang sendiri yang memusnahkan tulisan-tulisan mereka sendiri dengan cara dibakar atau dicuci dan bahkan ada yang mengubur tulisannya di dalam tanah.
Mereka lakukan semua itu karena mereka ragu dan khawatir kalau-kalau karya yang sudah mereka hasilkan itu dapat merusak dan meracuni pikiran orang-orang sesudahnya. Alih-alih memperbaiki ummat justru malah memperbaiki menghancurkan mereka, renungan-renungan seperti ini seharusnya dimiliki oleh setiap mereka yang diberi oleh Allah kemampuan untuk menuangkan pikirannya dalam tulisan. Jangan sampai ia menuliskan sesuatu yang kemudian membuat orang lain menjadi ragu terhadap akidahnya.
Jangan membuat sebuah tulsian yang membuat orang yang membacanya malah jauh dari Allah dan akhirat, atau tulisan yang akan memecah belah umat dan menebarkan kebencian serta cerita-cerita cabul yang akan meluluhlantakkan akhlak dan pikiran manusia di zamannya. Bukan saja hanya dizamannya tetapi ia akan merusak generasi sesudahnya. Oleh karena itu sebelum kita melakukan semua hal itu, maka satu hal yang perlu kita luruskan apakah tujuan kita membutuhkan tulisan itu.
Allah sesungguhnya tidak akan menerima kecuali sesuatu yang betul-betul ikhlas untuk memperoleh keridhaanNya. Bukan karena ingin jadi orang terkenal atau ingin menjadi orang yang ingin selalu dikenang. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita keikhlasan dalam setiap perkataan dan dalam setiap perbuatan.

“Jadi Orang Soleh atau Muslih?”

Oleh : Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc., MA

Jika kita mendengar kata Bukit Shafa maka yang akan kita ingat adalah kisah Siti Hajar yang bolak-balik dari Safa ke Marwah mencari air untuk anak tercinta Ismail Alaihissalam. Namun ada peristiwa lain yang tak kalah penting yang pernah terjadi di Bukit ini yaitu ketika pertama kalinya di dalam dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika beliau diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk terang-terangan mengajak kaum musyrikin beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sudah menjadi tradisi bagi penduduk mekah saat itu jika ada sesuatu yang penting maka seseorang akan naik ke bukit Shafa dan akan mulai memanggil orang-orang untuk berkumpul kala itu sibuk dengan urusan masing-masing dengan pekerjaan mereka, tiba-tiba nampak dari kejauhan jauh di bukit Shafa terlihat seseorang yang berdiri dengan tegak orang-orang kemudian berseru orang tersebut berseru wahai masyarakat Quraisy,.

Orang-orang Quraisy berkumpul kemarilah atau mempunyai kabar yang penting orang-orang pun segera menuju Safa dan menghampiri lelaki itu. Mereka kemudian mulai saling bertanya siapa yang memanggil manggil itu sebagian mereka yang telah melihat menjawab innahu Muhammad Muhammad, ternyata orang yang berdiri di puncak bukit Shafa itu adalah orang yang sangat mereka percayai Al Amin adalah mereka adalah orang yang sangat mereka percayai maka dengan penuh semangat tetapi bercampur bingung.

Mereka kemudian berkumpul dan terus berteriak ya Muhammad mengapa engkau mengumpulkan kami di sini? Ketika mereka bertanya dengan pertanyaan itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian balik bertanya kepada mereka. Apa pendapat kalian kalau aku beritakan kepada kalian bahwa ada satu pasukan akan keluar dari bukit ini untuk menyerang kita semua. Apakah kalian mempercayai aku?

Maka mereka menjawabkami tidak pernah melihat engkau bedusta, tentu saja kami percaya, kau sama sekali bukan seorang pembohong. Ketika mendengar jawaban itu Nabi kemudian mengatakan dengan suara yang lantang. Aku ingatkan aku peringatkan kepada kalian akan satu azab yang sangat pedih bahwa Allah itu satu tidak ada pencipta selain Dia, dan Aku adalah. kalau kalian percaya dengan apa yang aku katakan tadi yang akan masuk ke dalam surga.

Mendengar itu semua orang langsung terdiam mereka tidak pernah mengira akan mendengar hal semacam ini. Sebagian besar mempercayai apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akal, mereka adalah orang-orang yang pandai memahami bahasa Arab, mereka mengerti mereka paham apa yang ingin disampaikan oleh Muhammad bahwa ini adalah ajaran baru menyembah kepada Allah yang Maha Satu meninggalkan sesembahan mereka yang sebelum yang selama ini mereka sembah.

Namun ada yang menentang dan mereka datang dari orang-orang terdekat seperti mana dakwah Nabi Luth ditentang oleh istrinya sendiri. Seperti mana Nabi Nuh dilawan dan ditentang oleh anaknya sendiri, sebagaimana dakwah nabi Isa alaihissalam ditentang oleh murid kepercayaannya sendiri.

Begitu pula dengan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di bukit Shafa untuk pertama kalinya ditentang oleh pamannya sendiri Abu Lahab mukanya terlihat merah padam ia kemudian sebuah batu lalu melemparkannya ke bukit Shafa sambil berteriak celaka engkau Muhammad apakah hanya karena ini yang kau kumpulkan kami di sini?

Ibnu qudamah seorang ulama besar pernah ditanya oleh muridnya wahai imam Apa bedanya orang sholeh dan orang Muslih? orang saleh secara bahasa adalah orang yang saleh kepada dirinya sendiri, Sementara muslim secara bahasa adalah orang yang ingin memperbaiki dirinya dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Maka Ibnu qudamah menjawab orang saleh itu orang soleh itu kebaikannya hanya akan kembali kepada dirinya sendiri. Adapun orang yang muslih maka kebaikan yang keluar dari tangannya keluar dari kakinya keluar dari mulutnya keluar dari dirinya kebaikan itu akan datang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Beliau juga melanjutkan orang muslih orang yang mengajak kepada kebaikan akan dicintai.

Orang Saleh akan dicintai oleh banyak manusia orang yang orang yang baik akan dicintai oleh banyak manusia. Tetapi orang yang muslih dia akan banyak dibenci oleh manusia.ang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Mengapa demikian jawab sang murid, maka beliau hanya menjawab ketahuilah wahai muridku Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebelum diutus sebagai Rasul beliau dicintai oleh kaumnya digelari Al Amin diberikan tempat yang mulia ketika mereka berseteru. Waktu Ka’bah hancur dan mereka beberapa kabilah berdebat mereka ingin meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempatnya dan tidak mendapatkan solusi dan mereka menyerahkan solusinya kepada Muhammad seorang yang muda karena mereka cinta kepada seorang Muhammad yang Al Amin yang jujur yang baik.

Tetapi ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mulai memproklamirkan dakwah beliau, mulai mengajak orang-orang di sekelilingnya untuk kepada kebaikan maka berubahlah orang-orang yang mencintainya berubah menjadi orang-orang yang membencinya. Demikianlah di antara Salah satu cara setan menggoda orang yang saleh cara setan menggoda orang yang saleh adalah menimbulkan di dalam dirinya pemahaman tentang kesempurnaan yang semu.

Kesempurnaan yang semu setan akan datang kepada seseorang yang sholeh lalu kemudian membisiki dan berkata engkau lebih mulia daripada orang lain. Engkau sudah salat sementara banyak orang yang tidak sanggup melakukannya, engkau berpuasa sementara banyak orang tidak berpuasa. Dibuat orang ini kemudian sibuk dengan dirinya sendiri dia asik dengan ibadahnya dengan dzikirnya dengan ngajinya dan tidak sempat lagi untuk memikirkan orang lain, dan dia tidak sempat lagi untuk menularkan kebaikan itu kepada orang lain.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ، تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تََمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

“Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedakah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”. HR. Bukhari dan Muslim

Seorang muslim yang menjadi pedagang atau pebisnis maka orang yang orientasinya bukanlah sekedar meraup untung sebesar-besarnya, tetapi orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat kepada orang lain, membantu mereka memperoleh apa yang mereka butuhkan. Seorang pedagang dan pebisnis muslim pantang untuk menipu customernya ia bahkan memberikan yang terbaik kepada mereka. Dan pada saat dibutuhkan dia menjadi konsultan serta memberi memberikan pilihan-pilihan yang terbaik.

Seorang muslim seorang mukmin yang menjadi guru menjadi tenaga pendidik orientasinya bukanlah sekedar mengajar baru setiap bulannya dia mendapatkan gaji, tetapi orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat terbaik kepada murid anak muridnya kepada peserta didiknya ia mengasihi mereka seperti mana mereka mengasihi putranya sendiri dan ia selalu memikirkan bagaimana cara terbaik dalam melakukan pewarisan ilmus, sehingga peserta didiknya lebih cerdas memiliki kompetensi memiliki akhlak yang mulia berkarakter yang terbaik.

Seorang muslim yang menjadi dokter orientasinya adalah bagaimana ia memberikan pelayanan terbaik kepada pasiennya, dan ia sangat berharap kesembuhan dan kesehatan mereka, melakukan yang terbaik bagi kesembuhan dan kesehatan mereka. Ada orang yang bila ia sudah tiada atau jauh dari lingkungan tempat tinggalnya semula semakin lama orang-orang akan semakin merasakan kehilangan akan semakin nampak kebaikan-kebaikan yang selama ini ia tebarkan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya ada orang yang bila ia sudah tiada atau jauh dari lingkungan tempat tinggalnya semula semakin lama orang-orang akan semakin merasa nyaman dengan ketidakadaan nya dia akan semakin ketahuan dan nampak kejahatan-kejahatan yang selama ini dilakukan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda di antara manusia terjahat itu adalah orang yang dijauhi oleh orang lain karena takut kejahatan atau kekejian nya. Kita tinggal memilih mempersiapkan diri kita menjadi kenang-kenangan terbaik oleh orang lain ataukah kita menjadi kenangan terburuk bagi orang-orang yang kita tidak tinggalkan.

Esesnsi Islam Rahmatan Lil Alamin

OLeh : Salahuddin El Ayyubi, Lc., MA

یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡاَنۡفَالِ ؕ قُلِ الۡاَنۡفَالُ لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ وَ اَصۡلِحُوۡا ذَاتَ بَیۡنِکُمۡ ۪ وَ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. Al-Anfal 1

Kalau kita baca Asbabun Nuzul atau sebab turunnya ayat ini maka kita akan mendapatkan satu fakta yang cukup mencengangkan bahwa ternyata para sahabat setelah perang Badar dan ada harta rampasan perang para sahabat dari Muhajirin dan Anshar mereka bertengkar mereka memperebutkan harta rampasan perang tadi. Maka kita kemudian bertanya-tanya dalam diri kenapa mereka sampai kepada tahap yang demikian?

Bukankah kita kenal bahwa orang-orang Muhajirin mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan seluruh aset aset kekayaan yang mereka punya mereka hijrah ke Madinah untuk tinggal bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan mereka tinggalkan seluruh harta benda mereka di Makkah.

Dalam beberapa riwayat diceritakan ada seseorang sahabat yang ketahuan dia ingin pergi ke Madinah lalu kemudian dia ditangkap dan ditahan oleh orang-orang Quraisy Mekah ditanya kenapa engkau mau pergi maka sahabat tadi menjawab aku ingin tinggal bersama kekasihku Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka mereka mengatakan tidak bias, engkau tidak bisa meninggalkan Mekah dengan begitu saja.

Dia bertanya memang kenapa? maka orang Quraisy mengatakan bahwa engkau ini mempunyai aset kekayaan yang cukup banyak di Mekah ini, kalau engkau pergi maka seluruh aset-aset ini akan berpindah ke Madinah. Maka ketika mendengar alasan orang Quraisy sahabat Adhi dengan tegas mengatakan:

“jikalau memang demikian bahwa kalian khawatir aku akan membawa aset-aset kekayaanku ini ke Madinah maka demi Allah demi Rasul Nya aku tinggal karena harta aku seluruhnya untuk kalian Silakan ambil tapi izinkan aku untuk pergi bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam”

Kesimpulannya bahwa orang Muhajirin sudah tidak ada lagi motivasi materi dalam pikiran mereka bahwa persoalan persoalan keduniaan sudah selesai di antara mereka bagaimana dengan orang Anshar? Sejarah pun mencatat dalam banyak riwayat mereka menyambut saudara mereka dari Muhajirin dengan tangan yang sangat terbuka di beberapa riwayat dikatakan dua orang yang dipersaudarakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

“dia mengatakan kepada saudaranya wahai saudaraku aku mempunyai istri lebih dari satu engkau pilih yang mana maka aku akan ceraikan untukmu aku mempunyai harta yang banyak engkau mau yang mana apapun aku akan berikan kepadamu”

Sekali lagi orang Anshar sudah membuktikan buah persoalan-persoalan duniawi sudah tidak menjadi ukuran mereka, tetapi mengapa ketika terjadi perang Badar dan di situ ada harta rampasan perang asbabun nuzul atau riwayat-riwayat mengatakan mereka memperebutkan hal itu? kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala salah satu jawaban yang barangkali bisa menenangkan diri kita semua bahwa ternyata sebenarnya yang mereka perebutkan adalah bukan persoalan-persoalan nominal.

Bukan persoalan-persoalan fisik dari harta rampasan itu sendiri tetapi yang mereka inginkan adalah mereka ingin punya bukti yang nyata bahwa mereka pernah berjuang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Pada peperangan yang pertama mereka ini menunjukkan kepada orang-orang yang tidak sempat mengikuti Perang Badar.

Bahwa kamilah orang-orang yang telah membuktikan cinta kami kepada Allah dan rasulnya buat kamilah yang telah membuktikan syahadat kami asyhadu alla ilaha illallah wa Asyhadu anna muhammadar rasulullah bukan hanya sekedar lisan tetapi membuktikan dengan membenarkan dengan hati dan membuktikannya dengan amal perbuatan mereka.

Mereka ingin mendapatkan langsung dari tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pembagian harta yang sebagai bukti bahwa mereka benar mereka telah berjuang bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam karena mereka mengharapkan surga. Mereka menginginkan Jannah surganya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hal yang sama pun berlaku ketika kita berinteraksi dengan Alquran, bahwa Alquran yang diturunkan yang kita baca terus menerus sampai hari ini itu diturunkan untuk menyelesaikan segala persoalan hidup kita di dunia dan bahkan di akhirat. Persoalan-persoalan yang kita hadapi di dunia ini itu penyelesaian ada di dalam al-quran. Maka Alquran diturunkan di waktu kita hidup diturunkan di dunia agar kita bisa memakainya sebagai petunjuk hidup kita.

Bahwa Alquran tidak bisa kita sadari atau tidak bisa kita maknai hanya sebatas teori-teori semata tetapi Alquran sebisa mungkin harus kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita bicara soal ekonomi maka kita harus merujuk kepada al-quran, ketika kita bicara soal politik, ketika kita bicara soal soal-soal sosial budaya ketika kita bicara berbagai persoalan hidup ini maka sudah seharusnya kita merujuk kepada Al-quran.

Karena kalau kita masih yakin aqidah kita benar bahwa kita mempercayai dengan sehat bahwa Alquran itu adalah Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang datang untuk menyelesaikan segala persoalan hidup manusia. ya ayyuhalladzina amanu fissilmi Kaffah agama ini telah sempurna, kita tidak bisa menggunakan Islam ini, kita tidak bisa mengambil Alquran dan hadis hanya pada persoalan persoalan ibadah.

Kita tidak bisa menggunakan Alquran ketika kita bertemu untuk menikah kita talak kita cerai dan lain sebagainya. kita haji salat puasa kita merujuk kepada Al-quran tetapi ketika kita kembali kepada persoalan-persoalan hidup yang lebih banyak dan lebih kompleks kita tinggalkan Alquran dan kita taruh di belakang kita.

Namun demikian Alquran tidak turun dengan aturan yang rinci dan detail dia tidak turun dengan aturan-aturan yang spesifik. Alquran hanya turun dengan panduan-panduan umum oleh karena itu ketika terjadi Perang Khandaq di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian mengumpulkan seluruh sahabatnya untuk bermusyawarah di Madinah.

Bahwa Madinah saat itu akan diserang oleh orang-orang Quraisy yang sedang berkoalisi dengan seluruh Bani Arab yang belum tunduk kepada Islam ditambah lagi dengan beberapa golongan Yahudi termasuk salah satunya Bani suku Yahudi yang diusir oleh Rasulullah salam dari Madinah karena melakukan pengkhianatan. Kalau dijumlahkan koalisi ini akan berjumlah ribuan orang yang apabila dihadapkan dengan pasukan Islam di Madinah adalah sebuah perbandingan yang sangat tidak adil dan sangat tidak seimbang.

Maka dimusyawarahkan lah strategi apakah yang paling pantas untuk menghadapi perang kali ini. Maka tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Salman al-farisi dia mengusulkan untuk menggali parit dia mengatakan Ya Rasulullah kami orang-orang Persia adalah kalau berperang menggunakan strategi ini. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian mengambil usulan Salman Al Farisi.

Kita bertanya mengapa mengapa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengambil usulan Salman? Kenapa dia tidak beliau tidak mengambil usulan orang-orang Islam saja? Persoalannya bukan persoalan dari mana itu berasal inti persoalan bukan dari siapa yang menyampaikan ide-ide dan strategi itu, tetapi adalah yang lebih urgent dari persoalan ini adalah apakah hal itu bermanfaat kepada umat Islam dan bisa dipraktekkan dalam waktu yang paling cepat dan yang dibutuhkan saat ini?

Kita tahu Persia Pada masa itu bukan negara islam tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengambil kebudayaan mereka strategi perang mereka. Jadi kita tidak bisa memandang Alquran dengan pandangan yang hitam dan putih saja bahwa segala sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Alquran segala sesuatu yang tidak datang dari Islam.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan dalam sebuah hadis “innama buistu liutammima makarimal akhlaq” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak dan Allah kemudian menyambung dalam ayat dalam Al Quran “wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” sungguh kami mengutus Nabi Muhammad untuk memberikan rahmatan lil alamin apa itu rahmatan lil alamin.

Kita harus sama pendapat kita, harus sama pemahaman kita tentang rahmatan lil alamin ini rahmatan lil alamin adalah memberikan kemudahan hidup mudah-mudahan selama itu tidak bertentangan dengan prinsip prinsip dasar syariat dan Allah dengan tegas mengatakan sungguh agama ini tidak membawa kesusahan kepada kalian maka hari ini kalau ada aturan aturan agama yang kemudian itu mendatangkan kesulitan kepada diri kita maka kita harus kembali cek apakah benar keputusan itu memang dari Islam memang dari tuntunan Alquran dan Sunnah?

Karena Allah kemudian menegaskan tidaklah ada kesusahan di dalam agama ini. apa itu rahmatan lil alamin? rahmatan lil alamin itu ada kepada siapa saja tidak hanya kepada orang Islam, lil alamin kepada seluruh alam ini. Kita tidak bisa membawa kita tidak bisa membatasi bahwa rahmatan Lil alami tuh hanya kepada sesama orang Islam. Kita baik kepada sesama orang Islam tapi kita jahat kepada orang diluar Islam apalagi yang bisa kita andalkan? apalagi yang bisa kita jual dengan Islam ini kecuali keindahan Islam itu sendiri.

Kalau kemudian Islam ini kita bawa kita tampilkan dalam keadaan yang keras kita tampilkan dalam keadaan yang susah maka sungguh orang orang akan tidak mau mendekati agama yang rahmatan lil alamin ini arena kesalahan kita memahami makna rahmatan lil alamin. Apa itu rahmatan lil alamin? rahmatan lil alamin itu adalah memberikan kemudahan sesegera mungkin di dunia ini.

Sesegera mungkin segala persoalan yang muncul dalam hidup kita harus segera diselesaikan oleh Alquran. Konsep sebagus apapun sehebat apapun satu konsep tetapi kalau kemudian dia tidak bisa diterapkan dalam waktu yang cepat tidak bisa diterapkan dalam hal yang paling kecil sekalipun maka konsep itu tidak bernilai apa-apa.

Semoga kita kembali merenung tentang makna makna Alquran yang sebenarnya tentang alasan-alasan seluruh produk-produk hukum yang ada dikeluarkan oleh Islam sehingga kita tidak memandangnya sebagai sebuah pandangan yang salah, pandangan yang keras karena barangkali kita salah pandang, karena kita tidak memahami esensi dari rahmatan lil alamin itu sendiri.

Dalam Suatu riwayat dikisahkan ketika Umar Bin Khattab Radiallahu anhu ketika beliau tidak membagi harta rampasan perang tanah-tanah yang ditaklukan oleh pasukan Islam pada masa kekhalifahan beliau, tanah tanah yang dikuasai di Irak, tanah-tanah yang dikalahkan di Syam, tanah-tanah yang berhasil direbut di Iran.

Padahal jelas-jelas apa yang dilakukan oleh Umar Bin Khattab itu bertentangan dengan ayat Al Quran yang mengatakan bahwa semua harta rampasan perang itu harus dibagikan kepada Allah kepada Rasul dan kepada orang-orang yang berperang tetapi Umar Bin Khattab tegas pada pendiriannya dan kemudian beliau mengatakan wahai para sahabatku sungguh aku menemukan jawaban dari pertanyaan yang kalian ajukan bahwa aku tidak melaksanakan perintah Allah.

Coba buka surat Al-Hasyr, di akhir akhir ayatnya maka kalian akan mendapati Firman Allah yang berbunyi “harta rampasan yang diberikan Allah kepada rasulnya yang berasal dari penduduk beberapa negeri itu adalah untuk Allah, Rasul kerabat Rasul anak-anak yatim orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan” Dan selanjutnya sampai kepada ayat yang berikutnya “dan orang-orang yang datang sesudah mereka yaitu setelah Muhajirin dan Anshar”

Sehingga kemudian Khalifah Umar Bin Khattab mengatakan Aku tidak melihat ayat ini melainkan ini meliputi semua umat manusia sampai termasuk pula penggembala kambing di dusun yang terpencil sekalipun. Sekali lagi Umar Bin Khattab melakukan atau menghasilkan hukum ini karena prinsip rahmatan lil alamin kalau di bagi harta tanah tanah itu dia akan menjadi tanah yang tidak bermanfaat.

Lalu orang-orang yang berhasil dikuasai apa pekerjaan mereka? karena mereka kehilangan aset-aset tanah pertanian mereka. Bukan berarti bukan berarti Umar Bin Khattab itu melanggar aturan Allah, tetapi Umar Bin Khattab mengambil melihat esensi utama dari sebuah perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu muncullah kitab tentang fiqih Umar Bin Khattab bagaimana beliau itu terkenal banyak memberikan usulan-usulan ide cemerlang dalam memahami teks teks Al Quran.

Kita tidak bisa mengatakan setiap persoalan yang ada langsung kita bilang harus kembali kepada Al-quran dan Sunnah secara total mutlak. kita ingin ada ada aturan yang resmi ada aturan yang terperinci, Saya ingin menyampaikan terakhir satu riwayat yang terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika kemudian tiba-tiba Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam instruksikan seluruh petani kurma pada masa itu untuk menghentikan penyerbukan kurma.

Karena mereka ini adalah orang-orang yang cinta kepada rasulnya mereka mengatakan baik ya rasul mereka hentikan kebiasaan yang selama ini mereka lakukan yaitu menyerbuk pohon kurma, tetapi kemudian? Apa yang terjadi panen tidak berhasil kemudian mereka datang ke hadapan Rasulullah dan berkata “kami tidak berhasil dengan cara yang kau terapkan tadi.” Apa jawaban Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam? jawaban Rasul adalah Hadits yang kita kenal sampai hari ini beliau sambil tersenyum mengatakan “Antum a’lamu Bi umuri dunyakum” kalian itu lebih tahu pada urusan urusan dunia kalian sendiri.

Sehingga kita tidak bisa terlalu memandang Alquran itu Hadits dengan persoalan hitam dan putih, ketika tidak ada di situ atau mengambil teknik-teknik yang lain kalau kemudian kita mengatakan keluar dari Islam? Semoga umat Islam ini semakin diberikan pemahaman yang baik tentang agamanya sendiri oleh Allah subhanahu wa ta’ala sehingga pemahaman yang baik itu membawa kita kepada Islam yang rahmatan lil alamin arrahmanirrahim.

Zakat, Maqashid Syariah, dan Pancasila

Salahuddin El Ayyubi, MA
Staf Pengajar Dep Ekonomi Syariah FEM IPB dan Direktur Mualaf Center BAZNAS (MCB)
Sila pertama dari Pancasila bisa dikatakan adalah bagian dari nilai-nilai tauhid yaitu mengesakan Allah SWT. Nilai tauhid ini lah yang menjadi sumber kekuatan kemerdekaan bangsa. Kekuatan yang merubah penghambaan manusia kepada manusia, menjadi penghambaan manusia kepada Allah SWT pencipta alam semesta. Nilai ini kemudian dipertegas dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
Tujuan utama yang pertama dari Maqashid Syariah itu sendiri adalah “Memelihara Agama” atau kita sebut dengan “Hifzu Ad-Din” yaitu sebuah konsep dasar untuk melindungi dan menjaga dasar-dasar agama dari segala hal yang merusaknya. Zakat itu sendiri merupakan ibadah sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah SWT. Maka tidak heran, jika seorang Abu Bakar Shiddiq RA yang terkenal dengan kelemahlembutannya marah dan memutuskan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat setelah Rasulullah SAW wafat. Hal itu, didasarkan kepada pemahaman yang sangat komprehensif bahwa perintah zakat adalah bernilai sama dengan perintah mendirikan shalat dimana ayat-ayat yang memerintahkan untuk shalat selalu menggandeng perintah untuk mengeluarkan zakat. Tidak salah jika kemudian Rasulullah SAW mengatakan, “hampir-hampir saja kefakiran itu menjadikan seseorang kepada kekafiran”. Maka, kategori fakir dan miskin mendapatkan tempat pertama dan kedua dalam proses distribusi zakat. Demikian pula kategori mualaf (orang yang baru memeluk Islam) agar dikuatkan dan dimantapkan dalam proses hijrah yang mereka lakukan.
Sila kedua
Manusia dalam bahasa Arab disebut dengan ‘insan’ yang terambil dari kata ‘anisa-ya’nas’ yang artinya jinak, ramah dan senang. Dari kata-kata inilah lahir istilah kemanusiaan atau humanity. Dalam Islam konsep kemanusiaan jelas terlukis 14 abad yang lalu dari wilayah yang gersang di sebuah padang bernama Arafah. Rasulullah SAW berpesan pada haji terakhir beliau, “Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).
Kata “Adil” jelas berasal dari bahasa Arab (‘adl), yang bermakna keseimbangan dan harmonis, tidak berat sebelah. Kata “Beradab” juga berasal dari bahasa Arab (aduba-ya’dub) berati berbudi lahir, sopan santun, dan berakhlak mulia sepertimana hadis Nabi SAW, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. Akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman.
Maqashid Syariah yang kedua adalah “Memelihara Jiwa” atau yang disebut ‘Hifdz An-Nafs’ yang bermakna tidak hanya memelihara jiwa manusia tetapi juga menjadikan kehidupan manusia itu sendiri bermartabat, beradab dan berkeadilan. Zakat datang untuk menghadirkan keadilan ditengah kehidupan manusia. Mendekatkan jurang pemisah antara sang kaya dan si miskin, sesuai dengan perintah Allah SWT (QS Al-Hasyr: 7).
Dalam pelaksanaannya dana zakat tidak menutup mata terhadap isu-isu kemanusiaan yang terjadi seperti Rohingya, Suriah, Palestina, termasuk pula isu kebencanaan yang terjadi di Lombok, Palu, Banten, dan daerah-daerah bencana lainnya tidak luput dari perhatian zakat itu sendiri. Termasuk pula advokasi terhadap isu buruh migran yang masuk ke dalam ashnaf riqab (perbudakan) mendapat perhatian dari lembaga zakat agar jiwa, harta dan hak-hak mereka dapat terpenuhi.
Sila Persatuan Indonesia
Dalam QS Al-Hujarat: 13, Allah memerintahkan agar kita dapat saling mengenal, saling memahami sehingga lahirlah saling tolong menolong. Bukan saling menutup diri, melecehkan, menghina, membangga-banggakan kelompok, suku bangsa, maupun daerah masing-masing yang hanya akan membawa kepada perpecahan, pertikaian, dan perpecahan bangsa ini.
Semangat persatuan dan kesatuan ini lahir dari maqashid syariah yang ketiga yaitu “Memelihara Keturunan” atau yang disebut ‘Hifdz An-Nasl’ yaitu dengan memelihara keutuhan umat beragama, berbangsa dan bernegara demi keberlangsungan generasi yang akan datang. Konsep persatuan bangsa dengan mempertahankan kedaulatan negara seringkali dimaknai dengan turut serta dalam peperangan atau pertempuran. Padahal jihad fi sabilillah dalam konteks zakat juga dapat diwujudkan dengan jihad perkataan melalui dakwah amar makruf nahi munkar dengan berbagai macam cara dan sarana yang digunakan, jihad melalui harta dengan mendirikan sekolah, pusat-pusat dakwah, rumah sakit, dan lain sebagainya.
Sila keempat
Melalui musyawarah, kita sedang memelihara dan menghormati akal masyarakat. Akal adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada hamba Nya. Bahkan ia menjadi standar utama pembebanan manusia terhadap aturan-aturan Syariat (mukallaf). Akal lah yang membuat manusia menjadi istimewa dibandingkan makhluk Allah SWT lainnya. Oleh itu, banyak terdapat ayat Allah SWT untuk mendorong hambanya semangat dalam menggunakan akal yang ada.
“Memelihara Akal” atau yang disebut ‘Hifdz Al-Aql’ adalah urutan yang ketiga dalam konsep maqashid syariah yaitu dengan menjaga, menggembangkan dan menggunakan akal tersebut dengan semaksimal mungkin. Sebaliknya, berusaha dengan segala upaya untuk menjadikan akal hidup dan bermanfaat dalam pengembangan pemikiran ilmiah, mencarikan solusi atas persoalan yang dihadapi oleh umat, mendirikan sekolah, kampus, pusat-pusat studi, dan lain sebagainya. Maka dalam proses distribusi zakat lahirlah fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 120/MUI/II/1996 tentang Pemberian Zakat untuk Beasiswa kepada mereka yang memiliki kemampuan akademik yang baik namun terhalang oleh minimnya pembiayaan.
Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keadilan sosial menjadi bagian paling penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keadilan sosial dalam Pancasila mencakup segala bidang kehidupan baik hukum, politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pertahanan-keamanan. Keadilan dalam Islam adalah upaya mendorong setiap orang untuk memperbaiki kehidupan masyarakat tanpa membedakan bentuk, keturunan dan jenis orangnya. Setiap orang dipandang dan diberi kesempatan yang sama dalam mengembangkan seluruh potensi hidupnya. Keadilan sosial dalam konteks ekonomi kemudian diterjemahkan dalam berbagai model langkah distribusi kekayaan seperti zakat, sedekah, puasa (fidyah dan zakat fitrah), haji (pembayaran fidyah dan dam), jual beli, pinjam meminjam, gadai, akad kerjasama seperti mudharabah, akad perwakilan, sewa-menyewa, menghidupkan tanah yang mati (ihya’ul mawat), wakaf, hibah, hadiah, warisan, wasiat, pemberian nafkah, dan lain sebagainya.
Hal ini adalah cerminan dari maqashid syariah yang ke lima yaitu “Memelihara Harta” atau kita sebut dengan “Hifdz Al-Maal” yaitu dalam bentuk pencegahan segala perbuatan yang menodai harta, misalnya penipuan, pencurian, monopoli, dan yang lainnya. Sebaliknya, berupaya mengatur sistem muamalah atas dasar keadilan dan kerelaan serta mengatur upaya peningkatan kekayaan secara halal dan proporsional. Dalam konteks distribusi zakat hari ini, maka konsep memelihara harta teraplikasikan pada model zakat produktif di bidang ekonomi yang dilakukan secara komprehensif melalui program modal usaha mustahik, ekonomi kreatif, pemberdayaan usaha tani, revitalisasi pasar desa, dan pemberdayaan usaha perikanan darat dan laut, serta beragam model penanganan dan pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan mustahik. Wallaahu a’lam.
Sumber : Republika, 23 Mei 2019