Membangun Desa dengan Ekonomi Syariah

Oleh: Salahuddin El Ayyubi, Lc., MA

Kepala Lembaga Mualaf Center BAZNAS dan Dosen Dep Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB

Virus corona tidak hanya memukul pertumbuhan ekonomi, tetapi pula menyebabkan meningkatnya pengangguran dalam skala yang sangat besar. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2020 atau sebelum Indonesia diterjang pandemi Covid-19, angka pengangguran di Tanah Air sudah mencapai 6,88 juta. Data Kementerian Ketenagakerjaan per April 2020, sebanyak 2.08 juta karyawan mengalami PHK dan dirumahkan akibat pandemi. Kemnaker mencatat sebanyak 116 ribu perusahaan terpaksa merumahkan dan memutus kontrak pekerjanya.

Adapun penyebaran Covid-19 yang saat ini terpusat di wilayah perkotaan menyebabkan potensi peningkatan kemiskinan lebih besar terjadi di kota. Salahsatu penyebabnya antara lain tingkat kepadatan penduduk yang membuat virus ini jauh lebih mudah merajalela. New York di Amerika, Milan diItalia, dan DKI Jakarta diIndonesia adalah contoh daerah terparah dalam penyebaran virus corona.

Jika sebelumnya orang ramai-ramai ke kota karena ekonomi berpusat di kota, kini pandemi memutarbalikkan keadaan. Bisa jadi ini bentuk keseimbangan baru, terutama untuk hubungan kota dan desa atau kota-kota besar dengan daerah-daerah yang lebih kecil. Dampak krisis yang terjadi saat ini menyebabkan banyak perusahaan yang gulung tikar dan menyebabkan banyak tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Penguatan pembangunan desa dapat menjadi alternatif dalam menciptakan keseimbangan baru ini.

Desa dan pembangunan ekonomi

Dalam UU Desa No. 6 tahun 2014 pasal 78 tentang Pembangunan Desa dijelaskan bahwa pembangunan desa bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan, antara lain melalui pengembangan potensi ekonomi desa baik melalui pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah, pengembangan potensi wisata, dan lain sebagainya. Faktanya, masyarakat pedesaan masih sangat membutuhkan bantuan permodalan dalam pengembangan usaha namun tidak memiliki akses untuk mendapatkannya (bankable). Akibatnya, budaya ‘Rentenir’ atau ‘Bank Keliling’ tumbuh subur yang pada akhirnya berdampak negatif pada kehidupan masyarakat desa.

Hal ini antara lain disebabkan oleh penerapan ekonomi syariah yang hanya tumbuh pada sektor bisnis keuangan saja dan belum menyentuh sektor riil. Padahal, karakteristik yang kuat dari ekonomi syariah itu adalah keterkaitan antara instrumen keuangan dan sektor riil yang terlihat dari pengharaman terhadap semua instrumen keuangan berbasis bunga. Sehingga, keuangan syariah harus mampu menyalurkan dana yang dipegangnya ke sektor non-bunga yang berbasis bagi hasil, marjin, ataupun fee.

Diantara langkah yang diambil oleh pemerintah adalah peningkatan ekonomi melalui lembaga ekonomi pada tingkat desa, yaitu pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan desa sekaligus menyerap tenaga kerja yang ada. Potensi pasar ekonomi Islam di pedesaan bisa dijelaskan mengacu pada jumlah penduduk penganut agama Islam usia produktif. Data menunjukkan jumlah penduduk muslim pedesaan usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 66.241.249 jiwa atau 64.45 persen dari total penduduk pedesaan beragama Islam. Sehingga BUMDES yang diwarnai dengan akad-akad ekonomi syariah menjadi sangat relevan.

Hal itu dapat dilihat dari sudut pandang bahwa sistem ekonomi syariah hakekatnya telah lama berkembang di pedesaan terutama yang penduduknya mayoritas beragama Islam (Dudi Badruzaman: 2019). Di kalangan petani Jawa misalnya, wujud sistem yang berlaku antara pemilik lahan dan penggarap yang dikenali dengan istilah maro, mertelu, mrapat, prowolu, yang pada dasarnya mencerminkan bagi hasil(Singarimbun dan D. H. Penny, 1976 dalam Masyhuri: 2013).

Pada masyarakat adat Manggarai terdapat berbagai aktivitas ekonomi lokal seperti celong dan cimpa. Celong adalah sistem pinjam barang/tanah atau semacam sewa kendaraan (kuda/kerbau untuk kepentingan pengolahan sawah) yang sama dengan konsep ijarah yaitu akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyyah) atas barang itu sendiri. Sedangkan Cimpa merupakan suatu pemberian secara cuma-cuma tanpa ada harapan akan imbalan secara langsung, namun diharapkan nanti suatu waktu si pemberi juga diberikan oleh orang yang menerima cimpaan jika ada. Cimpa bisa disamakan dengan konsep hibah atau pemberian cuma-cuma dalam ekonomi syariah (Hakim: 2014).

Namun potensi yang ada belum tergarap secara optimal.Boleh jadifaktor pemahaman masyarakat pedesaan tentang ekonomi syariah itu sendiri belum terlalu baik. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2016 yang dilakukan oleh OJK menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan syariah 2016 sebesar 8,11 persen.Indeks ini sangat rendah bila dibandingkan dengan indeks literasi keuangan 2016 sebesar 67.82 persen. Oleh karena itu, upaya untuk mensosialisasikan sistem ekonomi syariah hendaknya dilakukanterus menerus dan menjangkau hingga daerah pedesaan dengan memanfaatkan berbagai instrumen yang ada. Semua hal ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yaitu menghilangkan kemiskinan (no poverty). Hal ini dapat dicapai dengan memainkan peran ekonomi dan keuangan syariah dalam mendukung pencapaian inklusi keuangan khususnya microfinance yang diharapkandapat meningkatkanpendapatan masyarakat melalui pertumbuhan di sektor riil dengan konsep bagi hasil yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan bersama.

Mengoptimalkan zakat

Sistem ekonomi perdesaan di Indonesia dalam konteks kekinian berlangsung dalam pergumulan sistem ekonomi tradisional(pra kapitalistik) dengan ekonomi modern (kapitalistik). Sistem ekonomi kapitalistik di perdesaan merupakan bentuk penetrasi perkotaan atas perdesaan. Mentalitas ekonomi kota telah menjungkirbalikan prinsip-prinsip ekonomi produksi masyarakat perdesaan. Selama ini proses produksi ekonomi perdesaan dilakukan untuk swasembada, dengan sedikit kelebihan yang dijual ke pasar. Mentalitas kota telah merubahnya menjadi hukum pertukaran sebagai dasar proses produksi. Petani tumbuh menjadi wiraswasta, berproduksi untuk usaha-usaha perdagangan (Boeke, t.th dalam Kusmanto: 2014).

Maka, program-program pemberdayaan melalui dana zakat seharusnya juga dapat menyasar kepada penduduk desa yang masih terkepung oleh tingkat kemiskinan yang cukup tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Dengan memberikan bantuan zakat berbasis produktif kepada komunitas maka diharapkan komunitas mustahik ini dapat saling bahu-membahu dalam memanfaatkan dana yang dikelola untuk membantu usaha yang telah dijalankan oleh mereka, seperti bertani, berkebun, berdagang, dan lain-lain.

Namun demikian, pengentasan kemiskinan melalui program-program pemberdayaan tentu saja tidaklah semudah membalikkan telapan tangan. Banyak hal-hal lain yang saling berkaitan antara satu sama lain. Misalnya: jumlah modal (dana zakat) yang diberikan apakah dianggap cukup atau tidak? Kualitas penerima bantuan tersebut apakah layak atau tidak? Jangka waktu penerimaan bantuan apakah lama atau cuma sebentar? Apakah produk yang dihasilkan sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar? Bagaimana dengan pemasaran dan lain sebagainya. Sehingga perlu adanya satu penilaian di awal program sebagai alat ukur yang sangat penting bagi kesuksesan program dengan mengetahui berapa jumlah mustahik yang harus dibantu, jumlah dan apa saja yang mereka butuhkan, potensi desa yang ada, sarana dan prasarana, serta skill dan kemampuan yang dimiliki oleh mustahik. Wallaahu a’lam. ■

BUKU FIQIH MUALAF

Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabbil’aalamin, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan selalau kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam, beserta keluarganya, para sahabatnya dan semua ummatnya yang selalu istiqomah sampai akhir zaman.

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki pertumbuhan mualaf yang signifikan. Pertumbuhan tersebut harus diiringi dengan pemahaman mualaf terkait Islam secara utuh. Kendala geografis, membuat sulitnya para mualaf mendapatkan akses literasi. Hal tersebut menjadi perhatian Mualaf Center BAZNAS akan pentingnya penyusunan Buku Fiqih Mualaf untuk bisa dipelajari oleh para mualaf.

Terbitnya buku ini sebagai bentuk kepedulian terhadap para mualaf. Diharapkan buku ini dapat membantu saudara-saudara mualaf untuk menguatkan iman dan memudahkan menjalankan ibadah dengan baik dan benar.

Tetapi tidak lepas dari semua itu, kami sadar sepenuhnya bahwa dalam penyusunan buku ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa serta aspek-aspek lainnya. Maka dari itu, dengan lapang dada kami membuka seluas-luasnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberikan kritik ataupun sarannya demi penyempurnaan buku ini. Semoga buku Fiqih Mualaf ini dapat bermanfaat dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberkahi. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

BUKU_FIQH_MUALAF

Download BUKU FIQIH MUALAF

Momentum Idul Fitri; Menyucikan Jiwa, Mengokohkan Keluarga

الله أكبر الله 9x.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ ، وَلِلَّه الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ اْلكَرِيْمِ اْلمَنَّانِ, اْلمُتَفَضِّلُ بِاْلإِحْسَانِ عَلَى اْلدَّوَامِ، نَحْمَدُ اللهَ الَّذِى أَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ بِالصِّيَامِ وَأَبَاحَ لَنَا الفِطْرَ اْليَوْمَ إِيْذَانًا بِعِيْدِنَا أَهْلِ اْلإِسْلَامِ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ اْلمُصْطَفَى وَالرّسُوْلِ اْلمُجْتَبَى سَيِّد وَلَدِ عَدْنَانَ، مَنْ صَلَّى وَصَامَ وَأَحْسَنَ وَقَامَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي النُّهَى وَاْلإِقْدَامِ .

أَمَّا بَعْدُ فَأُوْصِيْكُمْ وإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. wa lillahil hamd

Hadirin Jamaah Idul Fitri yang berbahagia

Dengan tenggelamnya matahari kemarin sore, maka resmilah kita meninggalkan Bulan Suci Ramadhan yang mulia. Bulan penuh keagungan ini pergi dengan membawa segala catatan amal ke hadirat ilahi Rabbi, untuk kita lihat dan pertanggungjawabkan di hari mahsyar nanti.

Ramadhan tahun ini terasa benar-benar berbeda. Di tengah mewabahnya pandemi Covid-19, kita mendapatkan karunia untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga di rumah. Kebersamaan ini menjadi sangat penting dalam merekatkan hati dan mengokohkan pendidikan dalam keluarga. Sebab keluarga adalah pilar peradaban umat manusia. Keruntuhan sebuah masyarakat akan benar-benar terjadi saat pendidikan keluarga terabaikan.

Dalam Surah An Nisa, Allah mengingatkan:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا –

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 4)

Dalam proses pendidikan itu, ada dua hal mendasar yang sangat penting untuk kita lakukan. Kedua hal tersebut adalah usaha mengikatkan (ArRabthu) dan mengingatkan (AlIndzâr).

Jamaah Idul Fitri yang berbahagia

Sejak anak berakal dan mampu berfikir, hendaklah orang tua mengikatnya dengan rukun iman dan hakikat keyakinan sesuai apa yang disebutkan dalam Al Quran dan Hadits. Seperti keyakinan tentang Allah, kiamat, akhirat, surga dan neraka. Adanya keyakinan ini akan menumbuhkan rasa diawasi oleh Allah, rasa takut kepada Allah, cahaya keimanan yang menyinari naluri, melahirkan ketenangan, dan membentengi dirinya dari kerusakan sosial, bisikan dan waswas.

Hati adalah modal hidup terpenting yang dimiliki oleh anak kita. Hati adalah raja yang akan mengarahkan hidupnya di kemudian hari. Hati yang bercahaya akan berpengaruh pada terangnya pikiran, baik akhlak, dan penerimaan yang besar dari sekitar. Hidupnya lebih terjaga dan jiwanya lebih stabil saat dihadapkan pada problematika hidup yang beragam. Tidak hanya saat ia kecil, tetapi juga akan berlanjut hingga ia besar dan tiba saatnya memikul tanggungjawab.

Bila sejak kecil anak telah dekat dengan ibadah, paham dengan kewajiban, taat kepada Allah dan menjauhi maksiat, maka ia akan hidup seimbang dan kondisi. Ibadah itu yang akan menjaganya tetap tenang, akhlak yang mulia, serta kekuatan hati.

Sejak kecil anak didik untuk dekat dengan Al Quran dan Masjid. Imam Ath Thabarani meriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah bersabda,

Didiklah anak-anakmu atas tiga hal: atas cinta kepada nabi kalian, cinta kepada ahli bait, dan tilawah Al Quran. Sesungguhnya para pemikul Al Quran akan berada di bawah naungan arasy Allah bersama para nabi saat tidak lagi ada naungan selain naunganNya

Jamaah Idul Fitri yang berbahagia

Sejak dini pula, kita sebagai orang tua penting untuk mengingatkan dan menghindarkan anak dari hal-hal yang buruk dan terlarang. Seperti syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, akhlak yang buruk, dan hal-hal lain yang merusak masa depan. Sebab  anak bila dibiarkan bebas dan hanya akan mengikuti kesenangan, khawati ia akan tergelincir.

Ayah dan bunda memiliki tanggungjawab yang sangat besar untuk menyelamatkan masa depan putra-putri mereka. Menjaga kesehatan dan kebugaran fisiknya, serta menjaga jiwanya dengan nilai-nilai pendidikan.

Saat anak terlanjur rusak, di saat itu, sulitlah bagi seorang tua untuk memperbaikinya. Ayah dan Bunda menyesal sangat dalam, lalu sesal pun tiada artinya.

Dalam mendidik anak perlu kepedulian yang tinggi dari kedua orang tua. Sikap cuek, masa bodoh, dan tidak peduli dari orang tua akan merusak masa depan anak. Anak perlu terus untuk diiingatkan, namun dengan cara yang lembah lembut tanpa menyakiti perasaan. Kepedulian orang tua untuk mengingatkan anak dari hal-hal yang buruk kelak akan membentuk kebiasaan yang baik.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. wa lillahil hamd

Jamaah Idul Fitri yang Berbahagia

Ramadhan mengajak kita untuk kembali kepada hakikat diri kita yang sejati sebagai hamba Allah. Ramadhan telah mendidik kita untuk menjadi insan yang peduli, terutama kepada anak, istri, dan keluarga.

Di hari yang penuh kemenangan ini mari kita mohon ampun kepada Allah, kita saling bermaaf-maafan dengan penuh ketulusan. Kita hapus segala kebencian, kita punahkan segala dendam dan angkara murka, kita songsong kehidupan baru dalam tautan persaudaraan dan kebersamaan.

Hari ini kita menyegarkan kembali kebersamaan sebagai umat yang satu di bawah naungan panji keislaman. Mari kita menengadah tangan, mengkhusyu’kan hati dan menutup khutbah ini dengan berdoa bersama:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.”

اللَّهُمَّ إِنّأ نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ  وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kemaafan dan kesehatan dan pemeliharaan yang dalam agama, dunia dan akhirat.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُم كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka merawat kami di waktu kecil”

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيِاتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

الله أكبر    7x

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِجْلَالًا لِشَأْنِهِ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا زَجَرَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

 اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

[PANDUAN KAIFIAT TAKBIR DAN SHALAT IDUL FITRI SAAT COVID-19]

PANDUAN-KAIFIAT-TAKBIR-DAN-SHALAT-IDUL-FITRI-saat-COVID-19-min

Download File [PANDUAN KAIFIAT TAKBIR DAN SHALAT IDUL FITRI]

[SILABUS TAUSYIAH RAMADHAN KELUARGA]

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mari sambut Ramadhan bersama dengan BAZNAS. Salah satunya dengan melaksanakan program tausyiah ramadhan keluarga di setiap rumah masing-masing.

Alhamdulillah, BAZNAS menghadirkan Silabus Tausyiah Ramadhan Keluarga yang dapat menjadi acuan dalam penyampaian tausyiah singkat dikala berkumpul bersama keluarga.

Semoga Ramadhan tahun ini menjadikan kita lebih baik dan keluarga yang bertaqwa.

Link download Silabus Tausyiah Ramadhan Keluarga
———————————
🌐 : https://mualafcenterbaznas.com
📩 : mualafcenter@baznas.go.id
📞 : +621-3904555 / +6282197767200
🎥 : IGTV @mualafcenterbaznas

#MCBNews
#MualafCenterBaznas
#ZakatTumbuhBermanfaat

Silabus-Tausyiah-Ramadhan-Keluarga-BAZNAS