40 Tanya Jawab Seputar Ramadhan

Ramadhan is coming!

Prepare your soul, body and mind for the holy month. Gain the maximum benefit!

Nah, jika kamu memiliki pertanyaan seputar ramadhan dan bingung cari tahu jawabannya, kita punya solusinya! 😉

📒 40 Tanya Jawab Seputar Ramadhan, hadir untuk menemani hari-hari Ramadhanmu yang istimewa!

Get your free e-book now!✨:
bit.ly/BukuQnARamadhan

Selamat menunaikan ibadah puasa!

Sahabat juga dapat menyalurkan zakat melalui :

BRI Syariah 100.078.3214
BNI Syariah 009.555.5554
Mandiri 0700.0018.555.55

a.n Badan Amil Zakat Nasional

Layanan Zakat :
baznas.go.id/bayarzakat

Zakat Mewujudkan Harapan Mustahik

————————-
Mualaf Center BAZNAS
🌐 : www.mualafcenterbaznas.com
📩 : mualafcenter@baznas.go.id
📞 : +621-3904555 / +6282197767200
🎥 : IGTV @mualafcenterbaznas

#MCBNews
#MualafCenterBaznas
#GerakanCintaZakat
#Ramadhan1442H
#QnARamadhan

40_TANYA_JAWAB_SEPUTAR_RAMADHAN

Isi Kebaikan dengan BAZNAS Ramadhan Planner

Siang diisi kebaikan, malam belajar Alquran. Ramadhan menjadi penerang hari yang mulai remang.

Hi, sahabat!
Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba, nih.
Are you ready for Ramadhan? Punya target apa di Ramadhan kali ini? ?

Kalau belum, jangan sedih!
Kita punya Ramadhan Planner buat sahabat semua, nih. Dengan Ramadhan Planner ini kamu bisa membuat perencanaan ibadah dan amalan sunnah setiap harinya. ?

A goal without a plan it just a wish. Target tercapai dan produktif saat Ramadhan, pastinya butuh perencanaan, guys. ???

Yuk, jangan lewatkan kesempatan Ramadhan kita kali ini. Make it your best!?

So, get your free Ramadhan Planner here ?:
bit.ly/RamadhanPlannerBAZNAS

Gersang bumi di kala tanpa hujan, pula gersang di hati tanpa adanya iman. Gersang akal di kala tanpa ilmu, pula gersang di jiwa tanpa adanya amal. Selamat menyambut ibadah puasa, Marhaban ya, Ramadhan

———————————
Mualaf Center BAZNAS

mualafcenter@baznas.go.id
+6282197767200
IGTV @mualafcenterbaznas

#Mualaf #MCBNews #MualafCenterBAZNAS #ZakatTumbuhBermanfaat #RamadhanPlanner

Berzina Sebelum Masuk Islam; Apakah Diampuni?

Serial Fikih Mualaf

oleh: Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc., MA (Kepala Lembaga Mualaf Center BAZNAS)

“Ya Rasulullah aku telah berzina, sucikan dan bersihkan diriku” seorang wanita mengaku dihadapan Rasulullah SAW.

Nabi SAW diam, wajah beliau memerah dan memalingkannya ke kanan. Beliau berharap wanita tadi mencabut kata-katanya barusan. Namun, wanita tadi tidak bergeming. Hatinya telah penuh dengan iman dan mengaliri aliran seluruh aliran darahnya.

“wahai Rasul, apakah engkau akan memperlakukanku seperti engkau menolak Maiz bin Malik? Demi Allah, aku betul-betul telah berzina” wanita tadi mengucapkannya dengan mantab dan penuh keyakinan.

“pergilah, sampai engkau melahirkan bayi itu” jawab Rasulullah SAW melunak.

Beberapa waktu kemudian wanita tersebut datang lagi kepada Rasulullah SAW, “ya Rasulullah, aku telah melahirkannya hari ini. Sesuai janjimu hukum lah aku hari ini” wanita tadi masih ingat akan permintaannya dahulu.

“pulanglah, susuilah dulu bayi ini hingga ia mampu untuk makan sendiri” Nabi SAW melihat bayi merah yang terbungkus kain dengan penuh rasa iba dan sedih.

Waktu berjalan, wanita tadi datang lagi, “ya Rasulullah, lihatlah anakku telah mampu untuk makan sendiri, hukumlah aku sekarang”.

Mendengar hal itu Rasulullah berkata, “siapakah diantara kalian wahai para sahabat yang mau mengurus anak ini? Sungguh siapa yang mengurusnya, akan menjadi temanku disurga nanti seperti kedua jari ini” kata Nabi SAW sambil memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengah beliau.

Nabi SAW kemudian memberikan bayi tadi kepada seorang sahabat untuk diurus dan dirawat. Ibunya lalu dihukum rajam (dilempari batu hingga mati). Saat proses itu berjalan, darah wanita itu terciprat dan mengenai Khalid bin Walid. Ia marah dan memaki wanita tersebut namun didengar oleh Rasulullah SAW.

“lembutlah wahai Khalid, demi Zat yang nyawaku berada di tangan Nya. Sungguh wanita ini telah bertobat dengan taubat yang jika dibagi kepada 70 orang Madinah sungguh masih banyak tersisa lagi”.

Sebesar apapun dosa yang telah dilakukan, jangan lah pernah putus dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Datanglah kepada Nya dengan harapan setinggi gunung seluas lautan. Ia berjanji akan mengampuni segala kelalaian:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Ali Imran: 135).

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.  وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا۟ لَهُۥ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)” (Az-Zumar: 53-54).

Sungguh iman itu akan bertambah dengan ketaa’atan dan berkurang dengan maksiat. Rasulullah SAW bersabda,

“Tidaklah seorang pezina saat berzina disebut sebagai mukmin, dan tidaklah seorang pencuri saat mencuri disebut mukmin, dan tidaklah seorang yang menimum khamar saat meminumnya disebut mukmin” (HR. Muslim).

Mintalah kepada Allah agar supaya dikuatkan iman dan dijaga dari rayuan hawa nafsu karena hanya Dia lah yang mampu menggerakkan setiap langkah perbuatan kita. Nabi SAW menyampaikan,

Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya. Rasulullah SAW kemudian berdoa: Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu” (HR. Muslim).

Islam itu indah. Sebelum hukum rajam ditegakkan, yang didahulukan adalah rahmat, cinta, dan kasih sayang. Nabi SAW sayang kepada bayi yang tak berdosa. Siapa yang akan menyusui jika ibunya di rajam saat itu juga? Siapa yang akan merawatnya jika ibunya tiada? Hukuman dalam Islam bukan karena benci dan balas dendam. Hukuman dalam Islam adalah ingin memberi kesempatan untuk membersihkan diri. Hukuman dalam Islam ingin menjaga masyarakat dari kerusakan yang lebih besar.

Sebelum hukuman berbicara, maka telah banyak panduan dan aturan pencegahan untuk tidak terjebak dalam kesalahan tersebut. Islam meminta para wanita untuk tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang syar’i. Kalaupun ingin keluar, maka Islam meminta untuk menutup aurat, tidak berhias berlebihan, tidak memakai wewangian, diminta untuk tidak berduaan dengan yang bukan lawan jenis, tidak lupa para lelaki juga diminta untuk menjaga pandangan mereka.

Bagi seorang mualaf, seluruh dosa-dosanya yang lalu akan terhapus ketika ia beriman kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW:

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu, hijrah menghapuskan dosa yang telah lalu dan juga haji menghapuskan dosa yang telah lalu?” (HR. Muslim).

Orang Tua Masih Kafir, Apakah Harus Putus Hubungan?

“Wahai Sa’ad, aku dengar engkau telah masuk agama Muhammad yang baru itu, betulkah demikian?”, tanya ibunya.

“Betul wahai ibu”, jawab Sa’ad.

“Aku juga mendengar bahwa Muhammad menyuruh kalian untuk ta’at kepada ibu?”, cecar ibunya lagi.

“Betul wahai ibu”, jawab Sa’ad.

“Jika demikian, aku ini ibumu maka aku perintahkan kepadamu untuk meninggalkan Muhammad dan keluarganya”, desak ibunya.

“Mohon maaf wahai ibuku, aku tak mungkin melakukan itu”. Sa’ad coba menjelaskan posisinya diam seribu bahasa.

“Baiklah, jika engkau tidak mau menuruti perintah itu, ibu akan berhenti makan sampai engkau mau kembali lagi ke agama kita semula” ancam ibu Sa’ad.

Namun ia tak bergeming, tetap pada pendiriannya. Beberapa waktu telah berlalu, keadaan ibunya semakin lemah. Sanak kerabat telah berkumpul, Sa’ad pun dihadirkan untuk melihat keadaan ibunya yang semakin menyedihkan. Ia berdiri memandang lama wajah ibunya tercinta yang tengah kesakitan menyongsong kematian. Keluarganya mengira bahwa Sa’ad akan berubah pendiriannya dengan keadaan tersebut. Namun, tak disangka kalimat yang diucapkannya adalah: “Ketahuilah wahai ibu. Demi Allah, seandainya ibu punya 100 nyawa dan ia keluar satu demi satu sungguh aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikitpun.”

Tak disangka, sebelum peristiwa itu disampaikan Sa’ad kepada Rasulullah, beliau SAW telah menanyakan terlebih dahulu, “Wahai Sa’ad, apa yang telah engkau perbuat dengan ibumu? Sungguh Allah SWT telah menurunkan ayat kepadamu:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan“. (Al-Ankabut: 8)”.

Ayat yang turun kepada Sa’ad tersebut, kemudian diikuti dengan ayat berikutnya, yaitu firman Allah SWT:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Lukman: 15).

Berdasarkan kedua ayat ini, para ulama kemudian memberikan pandangan bahwa seorang anak yang telah masuk Islam, tetap memiliki kewajiban untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun masih kafir selama hal itu tidak dalam rangka maksiat kepada Allah SWT. Hal itu juga malah diperkuat dengan satu ayat sebelumnya yaitu:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (Lukman: 14).

Bahkan, Rasulullah SAW saat ditanya oleh Asma binti Abu Bakar apa yang harus dilakukannya ketika ibunya yang masih kafir ingin datang menjenguknya Rasulullah SAW mengatakan, “Hendaklah kamu menyambung silaturahmi kepada ibumu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dilihat dari aspek dakwah, seorang anak yang telah muslim dan muslimah mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat mendakwahkan Islam kepada kedua orang tuanya yang masih kafir dengan memperlihatkan akhlak dan sikap terbaik kepada keduanya. Mengobati dan merawat saat mereka mereka tua dan sakit, menafkahi mereka, menyenangkan mereka dengan pemberian yang halal, dan perbuatan baik lainnya seraya tidak lupa mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah Allah SWT dan kembali kepangkuan fitrah mereka yaitu Islam.

Wallahu a’lam bis showwab.

Orang Tua Masih Kafir; Apakah Harus Putus Hubungan?

Seorang anak yang memeluk agama Islam dilarang untuk memutus hubungan dengan orang tuanya yang masih kafir. Karena bagaimanapun kedua orang tuanya lah yang merawatnya sedari kecil hingga dewasa. Terutama ibunya yang mengandungnya dalam keadaan susah payah, menyusuinya dan menyapihnya. Perjuangan kedua orang tua dalam menafkahi dan merawat anak-anaknya tidak boleh dilupakan begitu saja. Allah SWT berfirman:

Dan Kami perintahkan manusia (agar berbuat baik) kepada (kedua) orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (Q.S. Luqman: 14)

Sumber: Buku Fiqih Mualaf, BAB Muamalah Hal 69.