Dai BAZNAS Ingatkan Pentingnya Toleransi untuk Jaga Persatuan

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggelar penyuluhan keagamaan rutin bagi mualaf di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Senin, (30/12). Dalam kegiatan tersebut, Dai Mualaf Center BAZNAS (MCB) menekankan tentang pentingnya toleransi dalam keberagaman untuk menjaga persatuan. Kendati demikian, ia juga menjelaskan batasan-batasan toleransi yang diajarkan oleh Islam.

Dai Mualaf Center BAZNAS (MCB), Ramdani Saadillah menjelaskan, Islam sudah mengatur bagaimana adab dan tuntunannya dalam kehidupan bertoleransi. Banyak poin-poin penting yang perlu diperhatikan dalam pergaulan sehari-hari, saat menjalani kehidupan bermasyarakat.

Ia mengatakan, dalam pemahaman juga yang diajarkan dalam Islam, Allah Subhanahu Wataala hanya meridhoi Islam sebagai agama yang hak dan ini dijelaskan dalam Al-Quran, pedoman umat Islam. Selain itu, perlu ada batasan-batasan lain, misalnya untuk tidak menjadikan non-Muslim menjadi pemimpin di antara saudara-saudara Muslim, dan lain sebagainya.

Terkadang, menurut Ramdani, banyak saudara muslim tak sadar seringkali melewati batas toleransi beragama dalam menjalin hubungan sehingga dapat menjadi peluang terjerumus pada sesuatu yang merusak akidah.

“Meskipun demikian kita tetap harus berbuat adil dan berbuat baik kepada orang non-Muslim selama mereka bukan termasuk kafir harbi atau kafir yang memerangi Muslim. Bahkan sangat dianjurkan memperlakukan mereka dengan baik dalam urusan dunia, seperti menolong mereka, membantu yang kesulitan, tidak menyakiti mereka, tidak mengganggu harta darah serta kehormatan mereka dan lain sebagainya,” katanya.

Menurut Ramdani, yang menjadi penekanan adalah, jika hubungan antarnon-Muslim yang bersifat duniawi tentu diperbolehkan untuk berbuat baik dan bekerja sama, namun dalam urusan akidah tetap harus tegas dengan prinsip lakum diinukum waliyadiin atau yang artinya untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.

“Beberapa larangan lain dalam berinteraksi dengan non-Muslim. Seperti, larangan menikah beda agama walaupun ada ikhtilaf yang membolehkan laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab, tapi ini pendapat yang lemah, larangan menyerupai kebiasaan mereka atau tasyabbuh, serta larangan mengucap selamat hari raya dan lain sebagainya,” kata Ramdani.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *