Mualaf Binaan BAZNAS Jalani Pembinaan Keislaman di Otobasa Kalimantan Barat

Da’i Mualaf Center BAZNAS, Ustadz Asep Ma’sum, bersinergi dengan Penyuluh Agama Islam Non PNS wilayah Kecamatan, Ustadz Wahid, laksanakan pembinaan mualaf pada hari Selasa (20/10/2020). Sebanyak 35 jama’ah mualaf hadir di Masjid Jabal Nur, Dusun Otobasa, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Pembinaan keislaman kali ini tidak hanya membahas tema hal-hal yang membatalkan sholat melainkan dibungkus dengan penyampaian kisah atau dongeng.

Mualaf Binaan BAZNAS Dusun Otobasa Simak Paparan Ustadz Wahid dalam Pembinaan Keislaman

“Hal yang membatalkan sholat yaitu berhadats, kejatuhan najis, bergerak tiga kali berturut turut, menambah rukun fi’li,” terang Wahid merujuk kepada kitab Safinatunnajah karangan ulama Salim bin Smir Al Hadromi.

Setelah penjelasan itu, Wahid mengajak seluruh jama’ah untuk menyimak dan mencari hikmah dibalik cerita pendek atau tamtsil.

Awal kisah diceritakan bahwa ada seorang raja mengundang masyarakat untuk menghadiri acara di singgasana. Pada tengah-tengah singgasana raja terdapat intan berlian yang sangat indah dan harganya sangat mahal.

Di tengah-tengah keramaian sang raja mengumumkan kepada yang hadir “siapa yang berani menghancurkan berlian ini, yang berani tolong ambil palu dan hancurkan berlian ini?”. Terlihat oleh raja tidak ada satupun dari mereka yang hadir atau berani untuk menghancurkan berlian. Bahkan diantara mereka ada yang bergumam “Sungguh Bodoh orang yang berani menghancurkan berlian sang raja”.

Tiba-tiba salah seorang pembantu raja di istana mengambil palu dan langsung menghancurkan berlian sang raja. Masyarakat yang hadir melihat kejadian itu terlihat sangat marah dan suasanapun menjadi sangat suram. Namun sang raja tersenyum, kejadian itu menambah rasa penasaran masyarakat yang hadir.

“Kok bisa raja tersenyum padahal intan berlian yang sangat mahal di hancurkan,” ujar salah seorang warga terheran. Bahkan yang sangat anehnya lagi sang raja memberikan hadiah kepada pembantu istana tersebut.

Ustadz Wahid paparkan hikmah dibalik kejadian tersebut “ketahuilah bahwa perintah raja lebih berharga dari pada intan berlian yang sangat mahal. Oleh karena itu jangan kalian lihat apa yang di perintahkan tapi lihatlah siapa yang memerintahkan” jelasnya. Ia menambahkan bahwa hal yang sama dalam mengamalkan agama jangan melihat apa yang diperintahkan, tetapi lihatlah siapa yang memerintahkan.

Setelah itu Ustadz melanjutkan cerita, bahwa sang raja memerintahkan masyarakat yang hadir untuk memegang satu barang saja yang apabila dipegang maka akan menjadi hak milik. Sebagian orang ada yang memegang  perhiasan raja, ada yang memegang permaisuri raja, dan ada yang memegang barang-batang istana lainnya. Tapi ada satu hal yang kembali pembantu raja lakukan dengan sangat cerdik yaitu memegang sang raja. Maka raja berkata “karena kamu memegang diriku maka aku menjadi milikmu dan semua yang aku punya akan menjadi milikmu”.

Kembali Ustadz Wahid memaparkan hikmah dibalik sikap pembantu istana yang cerdik yang dikaitkan dengan pelajaran hidup sebagai seorang hamba Allah SWT. Ia menjelaskan bawah jika seseorang hendak menginginkan kemudahan dan kebahagiaan di dunia maka Ia harus mendapatkan ridho dari sang pencipta dunia yaitu Allah SWT, karena segala sesuatu itu berada dalam genggaman-Nya.

Seorang ahli hikmah mengatakan:

من وجد الله وجد كل شيء ومن فقد الله فقد كل شيء

Siapa yang mendapatkan Allah SWT maka ia mendapatkan semuanya dan siapa yang kehilangan Allah SWT maka ia kehilangan semuanya”.

Diakhir pembinaan ada beberapa pertanyaan dari beberapa mualaf salah satunya dari Alpian. “Bagaimana hukum mencuri pandang pak ustadz?” ujarnya.

Ustadz Wahid menerangkan bahwa pencurian dalam agama Islam dilarang dan merupakan perbuatan yang tercela, begitu juga dengan curi pandang dengan lawan jenis. Orang beriman baik laki maupun perempuan hendaknya menundukkan pandangannya dari yang haram. Hal lain yang perlu diketahui bahwa sejelek-jeleknya pencuri adalah yang mencuri dalam sholat yakni yang tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya ketika Sholat.

Tetapi ada curi pandang yang diperbolehkan yakni curi pandang kepada Allah SWT dengan berlomba-lomba dalam kebaikan.

(وَلِكُلࣲّ وِجۡهَةٌ هُوَ مُوَلِّیهَاۖ فَٱسۡتَبِقُوا۟ ٱلۡخَیۡرَ ٰ⁠تِۚ أَیۡنَ مَا تَكُونُوا۟ یَأۡتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِیعًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرࣱ)

 “Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” [Surat Al-Baqarah 148]

Anak Binan Mualaf BAZNAS Terima Paket Basic Need yang Dibagikan Oleh Ustadz Asep Ma’sum

Setelah pembinaan bulanan berakhir dilanjutkan dengan pembagian sembako bagi warga mualaf. Distribusi dilakukan oleh Da’i Mualaf Center BAZNAS dan dibantu oleh Ustad Wahid dalam pembagian langsung ke jama’ah mualaf yang hadir.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *