Mualaf Binaan di Siberut Selatan Perdalam Ilmu Fikih Kematian Bersama Da’i BAZNAS

Salah satu kewajiban bagi seorang muslim adalah pemahaman tentang Fikih Kematian. Karena sudah menjadi keniscayaan setiap manusia akan dihadapkan pada dua kemungkinan yang pasti akan dialami yaitu meninggal dan ditinggalkan. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami hal-hal apa saja dalam mempersiapkan kematian maupun dalam mempersiapkan ketika kita ditinggalkan.

Itulah yang dibahas dalam pengajian bulanan mualaf di Siberut Selatan pada Ahad (18/10/2020). Mualaf Center BAZNAS (MCB) mulai membahas Fikih Kematian dari dasar. Materi pengajian bulanan kali ini diisi Ustadz Mahmud dan Ustadz Hanafi. Ustadz Hanafi sebagai pembuka materi memberikan penjelasan tentang pentingnya dzikrul maut atau mengingat kematian.

Ustadz Hanafi, Ustadz Ramdhani, dan Ustadz Mahmud (Kiri-Kenan) Paparkan Materi Fikih Kematian


“Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Dan kita masih menunggu giliran menuju tibanya kematian itu. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita untuk selalu mempersiapkan akhir hidup yang baik (Husnul khatimah)”
 ujar Ustadz Hanafi dengan menambahkan bacaan hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam yaitu “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian” (HR. At Tirmidzi).

Setelah itu, Ustadz Mahmud menjelaskan tentang apa-apa saja yang perlu diperhatikan tatkala kematian menjelang datang, baik bagi orang yang akan meninggal dan bagi merkea yang berada di sisi orang yang sebentar lagi akan meninggal dunia. Contohnya, ketika sakit sudah semakin parah, dianjurkan untuk bersabar dan ridho dengan ketetapan Allah SWT, selain itu disunnahkan baginya untuk menulis atau memberikan wasiat kepada keluarganya.  Apapun bagi yang berada di sisi orang yang menjelang sakaratul maut dianjurkan untuk membimbing dzikir dan mentalqin kalimat laa ilaaha illallah di telinganya.

Agar jika memang ditakdirkan meninggal, ia mendapatkan jaminan memasuki surga di akhirat kelak. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam,

“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya (sebelum meninggal) adalah laa ilaaha illallah, niscaya dia akan masuk surga” (HR. Abu Dawud).

Selain itu, Ustadz Mahmud juga menjelaskan kewajiban orang yang masih hidup atas orang yang sudah meninggal atau yang disebut dengan fardhu kifayah, yaitu memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan yang akan dibahas dan dipraktekkan dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Peserta Binaan Mualaf Center BAZNAS menyimak pemaparan materi Fikih Kematian

Para mualaf antusias dalam mengikuti pembinaan ini. Harapannya para mualaf bisa memahami apa-apa saja yang perlu disiapkan menuju hari kehidupan yang sesungguhnya, yakni kehidupan setelah kematian.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *