Berzina Sebelum Masuk Islam; Apakah Diampuni?

Serial Fikih Mualaf

oleh: Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc., MA (Kepala Lembaga Mualaf Center BAZNAS)

“Ya Rasulullah aku telah berzina, sucikan dan bersihkan diriku” seorang wanita mengaku dihadapan Rasulullah SAW.

Nabi SAW diam, wajah beliau memerah dan memalingkannya ke kanan. Beliau berharap wanita tadi mencabut kata-katanya barusan. Namun, wanita tadi tidak bergeming. Hatinya telah penuh dengan iman dan mengaliri aliran seluruh aliran darahnya.

“wahai Rasul, apakah engkau akan memperlakukanku seperti engkau menolak Maiz bin Malik? Demi Allah, aku betul-betul telah berzina” wanita tadi mengucapkannya dengan mantab dan penuh keyakinan.

“pergilah, sampai engkau melahirkan bayi itu” jawab Rasulullah SAW melunak.

Beberapa waktu kemudian wanita tersebut datang lagi kepada Rasulullah SAW, “ya Rasulullah, aku telah melahirkannya hari ini. Sesuai janjimu hukum lah aku hari ini” wanita tadi masih ingat akan permintaannya dahulu.

“pulanglah, susuilah dulu bayi ini hingga ia mampu untuk makan sendiri” Nabi SAW melihat bayi merah yang terbungkus kain dengan penuh rasa iba dan sedih.

Waktu berjalan, wanita tadi datang lagi, “ya Rasulullah, lihatlah anakku telah mampu untuk makan sendiri, hukumlah aku sekarang”.

Mendengar hal itu Rasulullah berkata, “siapakah diantara kalian wahai para sahabat yang mau mengurus anak ini? Sungguh siapa yang mengurusnya, akan menjadi temanku disurga nanti seperti kedua jari ini” kata Nabi SAW sambil memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengah beliau.

Nabi SAW kemudian memberikan bayi tadi kepada seorang sahabat untuk diurus dan dirawat. Ibunya lalu dihukum rajam (dilempari batu hingga mati). Saat proses itu berjalan, darah wanita itu terciprat dan mengenai Khalid bin Walid. Ia marah dan memaki wanita tersebut namun didengar oleh Rasulullah SAW.

“lembutlah wahai Khalid, demi Zat yang nyawaku berada di tangan Nya. Sungguh wanita ini telah bertobat dengan taubat yang jika dibagi kepada 70 orang Madinah sungguh masih banyak tersisa lagi”.

Sebesar apapun dosa yang telah dilakukan, jangan lah pernah putus dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Datanglah kepada Nya dengan harapan setinggi gunung seluas lautan. Ia berjanji akan mengampuni segala kelalaian:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Ali Imran: 135).

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.  وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا۟ لَهُۥ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)” (Az-Zumar: 53-54).

Sungguh iman itu akan bertambah dengan ketaa’atan dan berkurang dengan maksiat. Rasulullah SAW bersabda,

“Tidaklah seorang pezina saat berzina disebut sebagai mukmin, dan tidaklah seorang pencuri saat mencuri disebut mukmin, dan tidaklah seorang yang menimum khamar saat meminumnya disebut mukmin” (HR. Muslim).

Mintalah kepada Allah agar supaya dikuatkan iman dan dijaga dari rayuan hawa nafsu karena hanya Dia lah yang mampu menggerakkan setiap langkah perbuatan kita. Nabi SAW menyampaikan,

Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya. Rasulullah SAW kemudian berdoa: Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu” (HR. Muslim).

Islam itu indah. Sebelum hukum rajam ditegakkan, yang didahulukan adalah rahmat, cinta, dan kasih sayang. Nabi SAW sayang kepada bayi yang tak berdosa. Siapa yang akan menyusui jika ibunya di rajam saat itu juga? Siapa yang akan merawatnya jika ibunya tiada? Hukuman dalam Islam bukan karena benci dan balas dendam. Hukuman dalam Islam adalah ingin memberi kesempatan untuk membersihkan diri. Hukuman dalam Islam ingin menjaga masyarakat dari kerusakan yang lebih besar.

Sebelum hukuman berbicara, maka telah banyak panduan dan aturan pencegahan untuk tidak terjebak dalam kesalahan tersebut. Islam meminta para wanita untuk tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang syar’i. Kalaupun ingin keluar, maka Islam meminta untuk menutup aurat, tidak berhias berlebihan, tidak memakai wewangian, diminta untuk tidak berduaan dengan yang bukan lawan jenis, tidak lupa para lelaki juga diminta untuk menjaga pandangan mereka.

Bagi seorang mualaf, seluruh dosa-dosanya yang lalu akan terhapus ketika ia beriman kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW:

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu, hijrah menghapuskan dosa yang telah lalu dan juga haji menghapuskan dosa yang telah lalu?” (HR. Muslim).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *