Semangat Mualaf Binaan BAZNAS di Tana Toraja Ikuti Pembinaan Keislaman

Pembinaan mualaf kembali dilaksanakan pada minggu kedua September di RT Andulan, Dusun Tondok Lemo, Lembang Buntu Sisong, Kecamatan Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja. Dalam beberapa minggu terakhir daerah kabupaten Tana Toraja di guyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Salah satunya pada hari pelaksanaan kajian mingguan Senin, 7 September 2020.

Salah seorang binaan mualaf, Yohanis, memberikan kesempatan kepada binaan dan Da’i untuk melaksanakan kajian dirumahnya. Sebanyak 20 orang mualaf menghadiri kajian dengan menerobos butiran air hujan demi meneguk hikmah yang disampaikan oleh Da’i Mualaf Center BAZNAS, Ustadz Ariadi Anshar.

Binaan Mualaf Dusun Tondok Lemo Ikuti Kajian Mingguan 

Tak berbeda jauh dengan kondisi hujan yang mengguyur rumah Yohanis, Da’i memaparkan tema mengenai “Hukum Air”. Beberapa hukum air yaitu air suci dan mensucikan, air suci tidak mensucikan, dan air najis.

“Pak ustad bagaimana kalau kita mau sholat terus ada anjing yang menjilat celana/pakaian kita?” ujar Muliati Kembong, salah satu binaan Mualaf Center BAZNAS.

Da’i menjelaskan jika terjadi hal demikian maka yang harus dilakukan adalah mengganti pakaian yang terkena jilatan anjing lalu melaksanakan sholat kembali sebab jilatan anjing/air liur anjing adalah najis.

Anak-Anak Mualaf ikut serta dalam Kajian Mingguan Mualaf BAZNAS 

“Pak ustad kami sering juga ikut menghadiri acara kematian keluarga kami yang beragama non Islam, dalam acara itu ada kegiatan menyanyikan lagu rohani yang dibawakan oleh pihak gereja apakah dibolehkan kalau kami juga ikut menyanyi karena sering mereka mengatakan kepada kami ikut saja menyanyi tidak apa-apa, karena kan cuma sekedar ikut menyanyi” Ujar Halimah Ira dengan bahasa tana toraja yang sudah diterjemahkan.

Menurut Ustadz Ariadi kegiatan tersebut merupakan hal yang jelas dilarang, Islam dalam toleransi beragama mengajarkan hubungan muamalah itu tidak apa-apa selama tidak menjerumus kepada perkara ibadah. Da’i menguatkan dengan menyampaikan salah satu makna ayat Al-Qur’an yang menerangkan “untukmu agamamu dan untukku agamaku”. Oleh karena itu, menyanyikan lagu kerohanian yang menjadi salah satu ibadah agama tersebut dilarang untuk mengikutinya walaupun hanya sekedar bernyanyi, Wallahu a’lam.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *