Orang Tua Masih Kafir, Apakah Harus Putus Hubungan?

“Wahai Sa’ad, aku dengar engkau telah masuk agama Muhammad yang baru itu, betulkah demikian?”, tanya ibunya.

“Betul wahai ibu”, jawab Sa’ad.

“Aku juga mendengar bahwa Muhammad menyuruh kalian untuk ta’at kepada ibu?”, cecar ibunya lagi.

“Betul wahai ibu”, jawab Sa’ad.

“Jika demikian, aku ini ibumu maka aku perintahkan kepadamu untuk meninggalkan Muhammad dan keluarganya”, desak ibunya.

“Mohon maaf wahai ibuku, aku tak mungkin melakukan itu”. Sa’ad coba menjelaskan posisinya diam seribu bahasa.

“Baiklah, jika engkau tidak mau menuruti perintah itu, ibu akan berhenti makan sampai engkau mau kembali lagi ke agama kita semula” ancam ibu Sa’ad.

Namun ia tak bergeming, tetap pada pendiriannya. Beberapa waktu telah berlalu, keadaan ibunya semakin lemah. Sanak kerabat telah berkumpul, Sa’ad pun dihadirkan untuk melihat keadaan ibunya yang semakin menyedihkan. Ia berdiri memandang lama wajah ibunya tercinta yang tengah kesakitan menyongsong kematian. Keluarganya mengira bahwa Sa’ad akan berubah pendiriannya dengan keadaan tersebut. Namun, tak disangka kalimat yang diucapkannya adalah: “Ketahuilah wahai ibu. Demi Allah, seandainya ibu punya 100 nyawa dan ia keluar satu demi satu sungguh aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikitpun.”

Tak disangka, sebelum peristiwa itu disampaikan Sa’ad kepada Rasulullah, beliau SAW telah menanyakan terlebih dahulu, “Wahai Sa’ad, apa yang telah engkau perbuat dengan ibumu? Sungguh Allah SWT telah menurunkan ayat kepadamu:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan“. (Al-Ankabut: 8)”.

Ayat yang turun kepada Sa’ad tersebut, kemudian diikuti dengan ayat berikutnya, yaitu firman Allah SWT:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Lukman: 15).

Berdasarkan kedua ayat ini, para ulama kemudian memberikan pandangan bahwa seorang anak yang telah masuk Islam, tetap memiliki kewajiban untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun masih kafir selama hal itu tidak dalam rangka maksiat kepada Allah SWT. Hal itu juga malah diperkuat dengan satu ayat sebelumnya yaitu:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (Lukman: 14).

Bahkan, Rasulullah SAW saat ditanya oleh Asma binti Abu Bakar apa yang harus dilakukannya ketika ibunya yang masih kafir ingin datang menjenguknya Rasulullah SAW mengatakan, “Hendaklah kamu menyambung silaturahmi kepada ibumu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dilihat dari aspek dakwah, seorang anak yang telah muslim dan muslimah mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat mendakwahkan Islam kepada kedua orang tuanya yang masih kafir dengan memperlihatkan akhlak dan sikap terbaik kepada keduanya. Mengobati dan merawat saat mereka mereka tua dan sakit, menafkahi mereka, menyenangkan mereka dengan pemberian yang halal, dan perbuatan baik lainnya seraya tidak lupa mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah Allah SWT dan kembali kepangkuan fitrah mereka yaitu Islam.

Wallahu a’lam bis showwab.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *