Da’i BAZNAS Ajarkan Mualaf Terhindar dari Kesyirikan

Da’i Mualaf Center BAZNAS kembali melaksanakan pembinaan untuk ibu-ibu mualaf kelompok Dusun Puro dan Muara yang dilaksanakan di Masjid Al-Huffadz, Pada hari Rabu (2/9/2020). Topik utama dalam pertemuan kali ini yakni mengenai fiqih thaharah. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa jamaah yang belum paham tata cara pelaksanaannya. Masih ada yang salah dalam urutan dan beberapa kaifiatnya, khususnya dalam berwudhu dan mandi wajib. Dalam kesempatan ini Da’i juga menjelaskan secara ringkas fiqh haid dan nifas yang sangat penting untuk dipahami oleh kalangan ibu-ibu.

Selain itu, sesi kajian kali ini menjadi momen penting bagi salah satu mualaf, mengungkapkan pengalamannya mengenai kasus syirik yang dialami diri dan keluarganya. Setelah selesai memberikan materi yang dipaparkan langsung oleh Da’i, Ramdhani Saadillah dan Mahmud Ismail, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Banyak pertanyaan yang muncul dengan bahasan berbagai macam tema salah satunya mengenai syirik.

Saat bertanya, salah satu mualaf membawa sebuah buku yang berisi kumpulan tacs cara jimat-jimat, isim dan wafaq yang ia temukan beberapa waktu lalu di rumahnya. Buku tersebut memuat berbagai macam cara mendapat kemudahan, seperti penglaris, kekayaan, pelet, pengasihan, penyembuhan dan masih banyak lagi yang tata caranya ada yang disalin, dibuat jimat, disimpan di toko, rumah atau badan.

Ia menanyakan, “Apakah menggunakan tata cara ini dibolehkan? Karena isinya tulisan Arab semua, walaupun saya tidak memahami?”

Da’i Mualaf Center BAZNAS melihat halaman demi halaman buku tersebut. Buku tersebut ternyata terjemahan kitab yang menurut para pakar ruqyah mengajarkan kesyirikan berkedok Islami. Hal tersebut tentunya sama sekali tidak pernah disyariatkan oleh Nabi Sallallahu alaihi wasallam.

“Walaupun tulisan yang dianjurkan ditulis untuk jimat adalah tulisan Arab, tetap tidak boleh diamalkan. Apalagi yang tidak dipahami dengan kaidah bahasa Arab biasa itu kemungkinan sesuatu yang mengundang jin, menurut para pakar ruqyah,” terang Da’i.

Da’i pun mengingatkan untuk tidak menggunakan dan mengamalkan buku  tersebut dan menganjurkan agar dapat dibakar agar terhindar dari kesyirikan.

Tak hanya mengenai syirik, Da’i juga mendapatkan keluhan dari salah satu mualaf mengenai sebuah penyakit tidak wajar yang dialaminya. Mualaf tersebut mengaku sudah tiga kali pergi ke dukun yang berbeda dan tidak ada perubahan.

Setelah mendengar hal itu, Da’i mengingatkan agar sang mualaf bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT, karena mendatangi dukun adalah bagian dari perusak akidah, kesyirikan yang besar. Da’i pun menawarkan sang mualaf untuk menjalani ruqyah.

“Saya mau ustadz, tapi saya minta waktu yang pas,” katanya

Saat pertemuan tadi, Da’i hanya menganalisa dan mendiagnosa dengan berbagai pertanyaan yang dianjurkan Syaikh Wahid Abdussalam dalam kitab ruqyahnya. sang mualafpun menjawab berbagai pertanyaan hingga menangis meraung berkali-kali. Dari jawaban-jawaban tersebut, Da’i menyimpulkan bahwa sang mualaf harus dibantu dengan ruqyah yang insya Allah akan dijadwalkan kedepannya. Semoga Allah beri pertolongan. Wallahul musta’an.

Suasana Kajian Pembinaan Mualaf di Masjid Al-Huffadz Saat Ramdhani Saadillah Menerangka Materi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *