“PUBLIC SPEAKING”

Oleh : Muhammad Iqbal, Ph.D (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana)

Sekolah Da’i BAZNAS

Selasa, 21 Juli 2020

Public speaking adalah kemampuan berbicara didepan umum. Kunci dari kemampuan komunikasi adalah percaya diri. Kesuksesan saat ini ditentukan oleh satu faktor yaitu kepandaian dalam komunikasi.

Public speaking merupakan proses penyampaian ide dalam fikiran dan mentransfernya ke dalam pikiran pendengar sehingga membuat mereka melihat dalam sudut pandandang yang sama dengan yang berbicara.

Era komunikasi dakwah saat ini tidak hanya terbatas pada tempat-tempat tertentu melainkan lebih luas jangkauannya dengan bantuan teknologi. Masyarakat saat ini masih mengukur seorang dai dengan sebuah kepopuleran. Oleh karena dai disarankan untuk menjadi seorang populer. Dai juga perlu membangun personal branding agar dapat membangun kepercayaan orang-orang dalam hal yang disampaikan. Salah satu caranya aktif menyebarkan dakwah di sosial media.

Dai bukan hanya sekedar berbicara karena seorang dai yang berdakwah dapat mengajak dan mengundang sebagaimana yang terkandung dalam QS. Yusuf : 33

Da’i adalah tugas dan tanggung jawab setiap orang namun ditempuh dengan memperkuat pondasi ekonomi sehingga motif dakwah tidak lagi mengenai motif ekonomi atau berbicara tarif. Maka orang akan menghargai dai dengan melilihat dari kredibilitas dan kepopulerannya karena menjadi populer merupakan peluang untuk memengaruhi orang.

Fenomena masyarakat saat ini yaitu meremehkan dai sebab melihat dari sisi materil dan penampilan. Oleh karena itu, Dai perlu mengkapitalisasi ekonomi dengan menjadi pengusaha untuk menjaga kehormatan dai.

Hambatan terbesar dalam berbicara didepan publik diantaranya :
1. Tidak mengetahui cara bagaimana cara berbicara dengan orang lain
2. Mindset minder dari seorang da’i sehingga timbul rasa tidak percaya diri.

Komunikasi yang disarankan bagi seorang da’i diantaranya:
1. Menyentuh hati jama’ah dengan tampil percaya diri dan membangun engagement dengan menyapa, mendoakan, dan menyanjung jama’ah atau tokoh masyarakat sebagaimana budaya lokal.
Ex : Menyapa jama’ah dengan kata ayahanda dan ibunda sebagaimana alm Ust. arifin ilham menyapa jama’ahnya.
2. Menggunakan pendekatan sosial budaya budaya lokal. Misal menyapa dengan gaya bahasa daerah setempat
3. Sifat manusia banyak ingin didengarkan dan diapresiasi. Misal apresiasi dan pujian saat jamaah bertanya.
4. Mengubah mindset dengan berfikir mengenai harga diri.
5. Menghindari mindset negatif berupa rasa takut baik takut dikritik, jelek, salah, terlihat bodoh, dan tidak maksimal. Selain itu tidak membandingkan dengan orang lain. Maka harus membuang jauh-jauh penyakit psikologis tersebut.
6. Menjadi dai yang berfikir positif sehingga pendengarpun menjadi lebih positif.

Public speaking adalah seni dengan melukiskan “ide” atau topik bukan dalam goresan car warna melainkan dalam untaian kata-kata. Maka perlu melatih merangkai kata dan membuat humor untuk menyentuh hati jama’ah.

Keberhasilan komunikasi 55% ditentukan dengan visual, 38% vocal dan 7% Verbal. Mala dai perlu memperhatikan visualisasi saat menyampaikan materi dakwah. Salah satunya dengan memperhatikan gesture, antusiasme da’i, dan teknik atau metode dalam menyampaikan materi. Salah satu metode yang dapat dilatih yaitu dengan menampilkan humor yang sopan.

Mualaf Center BAZNAS RI
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan BAZNAS RI

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *