PENGANTAR FIQIH IBADAH

Oleh : Sutomo Abu Nashr (Pengasush Rumah Fiqih Indonesia)

Sekolah Da’i BAZNAS

Selasa, 21 Juli 2020

Fiqih secara bahasa artinya faham. Makna fiqih di era awal masa kenabian tidak dikenal seperti dimasa saat ini yang dikenal sebagai ilmu. Ilmu fiqih adalah ilmu hukum syariat ibadah amaliyah (perbuatan nyata) yang diamblil dari dalil-dalik tafshili. Sehingga bisa diketahui hukumnya.

Fiqih digali dan diijtihadkan oleh para ulama mengenai hal-hal yang manusia lakukan (al amaliyah al mulktasab) dari dalil-dalil yang terperinci. Adapun maksud dari makna amaliyah dalam pengertian fiqih yaitu hukum-hukum yang bersifat praktis seperti sholat, jual beli, puasa, ekonomi, keluarga. Selain itu Hukum fiqih memiliki sifat berubah-ubah yaitu menyesuaikan dengan tempat, zaman, atau personal dengan masing-masing orangnya atau dapat disebut sebagai Fiqih Mutaghairat.

Orang yang disebut sebagai ulama fiqih yaitu orang yang diakui keulamaannya atas kesaksian dari banyak ulama akan kepakaran dan kelayakannya untuk rujukan dalam ilmu fiqih.

Pembeda antara fiqih dan syariah

Syariah merupakan hal-hal yang bersumber dari Allah SWT seperti Al-Qur’an dan Hadits serta hal-hal yang menjadi sumber dari fiqih.
Syari’at memiliki sifat sudah pasti dan jelas hukum karena didasarkan atas wahyu atau firman dari Allah SWT. Hal-hal yang dirbicarakan dalam syari’at diantaranya tentang keyakinan, amaliyah, akhlak, dan hati. Oleh karena itu, dalam syari’at tidak boleh ada perubahan dan perbedaan pendapat atau penyelisihan.

Fiqih merupakan hal-hal yang dipahami ulama dalam menafsirkan syariah sehingga fiqih belum tentu menjadi sebuah syariah. Sebagai contoh yaitu mengenai shalat itu wajib hal tersebut merupakan sebuah syariah. Namun jika shalat subuh itu menggunakan qunut atau tidak hal tersebut masuk dalam wilayah fiqih karena ada perbedaan-perbedaan pendapat dari masing-masing ulama madzhab sebab tidak diketahui dalil firman Allah SWT.

Fqih juga merupakan hasil dari ijtihad ulama yang tidak memiliki sifat ma’sum seperti Rasulullah SAW. Maka fiqih merupakan produk dari fikiran manusia sehingga dapat mengandung kemungkinan salah dan benar. Berijtihad jika benar mendapat dua pahala, jika salah mendapat pahala satu.

Karakteristik lain dari fiqih yaitu memiliki milayah perdebatan jauh lebih luas, dapat berubah, hanya bicara amaliyah, bersifatnya tidak mengikat dan ada yang bersifat personal dan kolektif. Maksud dari tidak mengikat yaitu tidak boleh orang yang melafadzkan fiqih memaksakan kepada seseorang sebagaimana apa yang mereka lafadzkan.

Fiqih dapat menjadi syari’at jika menjadi iijma’ para ulama. Ijma’ yang dimaksud merupakan seluruh ulama kaum muslimin tidak ada perbedaan pendapat terhadap suatu persoalan didalam satu masa yang sama.

Urgensi Fiqih
1. Agar ibadah menjadi sah.
“Siapa yang beramal tanpa landasan ilmu yang ada , maka amalannya tertolak tidak diterima” – (Ibnu Ruslan, Matan Zubad baik ke-9)
2. Agar manusia tidak saling mendzalimi.
Fiqih mengatur muamalah atau interaksi antar manusia seperti halnya jual beli. Jika muamalah menyelisihi fiqih maka akan dimungkinkan mendzalimi orang lain sebagaimana praktik riba yang banyak orang dirugikan dan memiliki dampak kerusakan bagi ekonomi keluarga hingga tataran sebuah negara.

Ulama membagi fiqih menjadi dua kategori, diantaranya :
1. Fiqih Ibadah : Thaharah, Shalat, Puasa, Zakat, Haji, Sembelihan, Sumpah Nadzar, Ibadah Hadhr
2. Fiqih Muamalah : Ahwal syakhsiyyah (keluarga), Al-Madaniyyah wa Al-iqthisadiyyah (Sipil dan Ekonomi), Al-Jan’iyyah wa Al-Murafa’at (Perdata Pidana), Ad-Dusturiyyah (Tata Negara), Ad-Duwailiyyah (Hukum Internasional)


Mualaf Center BAZNAS RI
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan BAZNAS RI

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *