Peran Fatwa dan Masjid di Tengah Pandemi Covid

Salahuddin El Ayyubi

(Kepala Lembaga Progam Mualaf Center BAZNAS)

Tak ada sesiapa yang menduga bahwa dampak yang ditimbulkan oleh Covid-19 begitu luas dan begitu terasa hampir pada setiap sendi kehidupan. Tak hanya faktor ekonomi, sosial, politik, bahkan agama. Barangkali, tahun ini akan menjadi yang pertama kali dalam sejarah umat Islam Indonesia merayakan Ramadhan di rumah masing-masing. Masjid-masjid akan sepi dari taraweh berjamaah dan kegiatan ibadah ramadhan lainnya. Tentu saja ini menimbulkan polemik di tengah masyarakat baik pro maupun kontra.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara misalnya memutuskan untuk mengeluarkan fatwa yaitu menganjurkan umat Islam secara khusus muslim laki-laki untuk tetap melaksanakan sholat taraweh berjamaah di Mesjid dengan syarat dan aturan-aturan yang telah di tetapkan dalam fatwa tersebut.

Bagaimana dengan Majelis Ulama Indonesia Pusat? Semenjak Covid-19 mulai merebak, MUI telah mengeluarkan tiga fatwa terkait yaitu: (1). Fatwa No. 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaran Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19; (2) Fatwa No. Tahun 2020 Tentang Pedoman Kaifiat Shalat Bagi Tenaga Kesehatan Yang Memakai Alat Pelindung Diri (Apd) Saat Merawat dan Menangani Pasien Covid-19; (3). Fatwa No 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana’iz) Muslim yang Terinfeksi Covid-19.

Fatwa MUI No. 14 yang disebutkan berusaha untuk memberikan solusi atas berbagai keadaan yang sangat mungkin terjadi. Sebagai misal, bagi mereka yang telah dinyatakan terpapar Corona misalnya pada Poin No. 2 disampaikan: “Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur, karena shalat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar”

Bagi mereka yang sehat, Fatwa menyebutkan pada poin 3a: “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya”.

Bahkan dalam keadaan yang semakin tidak terkendali, fatwa tersebut telah mengakomodirnya pada poin No. 4 yang berbunyi: “Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim”.

Mendukung fatwa No. 14 ini, Mualaf Center Baznas (MCB) mengeluarkan Pedoman Masjid Tanggap Covid-19 yang salahsatu tujuannya adalah untuk meningkatkan pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyebaran Covid-19 di lingkungan Masjid. Terkait keadaan yang mungkin terus memburuk, maka pedoman ini pun telah menyebutkan bahwa, “Pelaksanaan ibadah seperti: sholat berjamaah, sholat jumat, sholat taraweh, shola ied, serta kajian-kajian keagamaan hendaknya dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan apabila keadaan semakin darurat (lockdown)”

Bahkan, untuk menguatkan sosialisasi terhadap Fatwa tersebut, MCB khusus mengadakan satu Kajian Online yang secara khsusus mengambil tema “Fatwa Ulama di Tengah Wabah” dengan narasumber KH. Cholil Nafis selaku Ketua Komisi Dakwah MUI yang video rekamannya masih dapat dilihat pada https://www.youtube.com/watch?v=b8tlHJkM2I0&t=216s .

Pedoman yang telah disusun ingin mendudukkan posisi dan fungsi Mesjid yang tidak hanya sebagai tempat pelaksanan ibadah semata, tetapi juga menjadi markas dan sumber kekuatan umat untuk tetap kuat menghadapi wabah yang terjadi saat ini. Hal itu dapat diwujudkan dengan mengaktifkan Baitul Maal Masjid agar dapat mengkoordinir kekuatan-kekuatan umat dalam menyelesaikan masalah secara berjamaah sebagai kekuatan sebenarnya dari umat itu sendiri.

Tentu saja dalam menyikapi perbedaan yang ada terkait Fatwa itu sendiri, maka diperlukan tidak hanya keluasan pembacaan terhadap isi fatwa tersebut, tetapi juga diperlukan keluwesan dan kebijaksanaan dalam pelaksanaan fatwa demi wujudnya kemaslahatan umat dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT melindungi kita semua. Amiin ya Rabbal Alamin.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *