TILAWAH & TADABBUR SEMESTA: FATWA ULAMA DI TENGAH WABAH CORONA

TILAWAH & TADABBUR SEMESTA

FATWA ULAMA DI TENGAH WABAH CORONA

bersama:

KH. M. CHOLIL NAFIS, Lc., MA., Ph.D

(KETUA KOMISI DAKWAH MUI PUSAT)

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah”. (Q.S. At-Taghobun: 11-13)

Covid 19 ini menimbulkan rasa khawatir akan keselamatan jiwa bangsa ini. Seorang yang memiliki iman kokoh akan mengantarkannya kepada sikap kesabaran dan menerima lapang dada dengan musibah yang terjadi. Mari bersama kita jadikan musibah wabah COVID-19 ini sebagai bahan muhasabah dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Selain itu, pada saat yang bersamaan kita juga harus melakukan ikhtiar. Ikhtiar adalah bagian dari tawakal, karena sejatinya tawakal tidak meniadakan ikhtiar. Sebagaimana dalam suatu hadits tentang perlunya mengikat unta sebelum memasrahkannya kepada Allah dengan tawakal. Hadits tersebut diriwayatkan Ibnu Hibban sebagai berikut:

اِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

 “Ikatlah untamu dan bertawakkallah.”  

Oleh karena itu Majelis Ulama Indonesia dengan cepat mengeluarkan beberapa fatwa yang berkenaan dengan wabah COVID-19, sebagai ikhtiar pencegahan mewabahnya  COVID-19 di Indonesia. Ada 3 Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI dan harus disosialisasikan kepada masyarakat luas, yaitu :

 Bagaimana Ibadah orang yang sudah terpapar COVID 19?

Berdasarkan Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 tentang Ibadah Dalam Situasi Pendemi COVID 19, orang yang telah terpapar virus corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur di tempat kediaman, karena shalat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang, sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat  lima waktu/rawatib,  shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

Bagaimana Ibadah orang yang sehat atau diyakini tidak terpapar COVID 19?

Ada tiga kondisi yang dapat dipertimbangkan :

  1. Jika penyebaran COVID-19tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.
  2. Jika berada di kawasan yang penularannya tinggi atau sangat tinggi, maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalatzuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.
  3. Jika berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah, maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadahsebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus Corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

Bagaimana ketentuan bagi para tenaga kesehatan beribadah di saat merawat atau menangani pasien?

Berdasarkan Fatwa MUI 17 Tahun 2020, tenaga medis wajib melaksanakan salat fardhu sebagaimana mestinya. Tenaga kesehatan dapat melaksanakan salat dengan jamak takhir ataupun jamak taqdim, yakni menarik salat di waktu berikutnya ke waktu salat sebelumnya.

Tenaga medis boleh melaksanakan salat dalam waktu yang ditentukan meski dengan tetap memakai APD yang ada. Dalam kondisi sulit berwudu, diperkenankan bertayamum kemudian melaksanakan salat.

Lalu bagaimana jika dalam kondisi hadast?

Jika dalam kondisi hadast dan tidak mungkin wudu atau tayamum, maka ia boleh melaksanakan salat dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi atau i’adah. Apabila APD yang dipakai terkena najis dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan, maka ia melaksanakan shalat boleh dalam kondisi tidak suci dan mengulangi shalat (i’adah) usai bertugas.

Bagaimana pengurusan jenazah yang terinfeski Covid 19?

Pengurusan jenazah (tajhiz al-jana’iz) yang terpapar COVID-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat, hal ini ditetapkan dalam Fatwa MUI No. 18 Tahun 2020.

Apakah Jenazah harus dimandikan?

Jenazah tidak harus dimandikan, dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara: mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu. Untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD. Bahkan jika tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan darurat syar’iyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan.

Bagaimana tata cara mengkafani jenazah?

Jenazah dikafani dengan menggunakan kain yang menutup seluruh tubuh dan dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang aman dan tidak tembus air untuk mencegah penyebaran virus dan menjaga keselamatan petugas. Jika setelah dikafani masih ditemukan najis pada jenazah, maka petugas dapat mengabaikan najis tersebut. Setelah itu dimasukkan ke dalam peti jenazah yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan sehingga saat dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.

Berapa lama menyegerakan shalat jenazah setelah dikafani?

Pemakaman harus dilakukan secepatnya. Dilakukan di tempat yang aman dari penularan COVID-19 dan dihadiri minimal satu orang. Jika tidak memungkinkan, boleh dishalatkan di kuburan sebelum atau sesudah dimakamkan atau dilakukan shalat ghaib. Jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan. Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan karena darurat (al-dlarurah al-syar’iyyah) sebagaimana diatur dalam ketentuan fatwa MUI nomor 34 tahun 2004 tentang Pengurusan Jenazah (Tajhiz al-Jana’iz) Dalam Keadaan Darurat.

Mari menjaga diri, menjaga jarak, dan menjaga keluarga kita dari wabah COVID-19. Bekerja dari rumah, belajar di rumah, beribadah dari rumah adalah bagian dari ikhtiar itu, supaya penyakit COVID-19  bisa teratasi dan dikendalikan dan tidak semakin menyebar luas. Aamiin.

Unduh File Resume

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *