Kemanisan Dalam Ujian

Salahuddin El Ayyubi, Lc. MA

Nabi Musa a.s lari meninggalkan Mesir setelah ia terlibat satu peristiwa yaitu memukul seorang Qibti (Cristian Coptic) hingga mati. Ia lakukan itu karena tidak ingin saudaranya yang dari Bani Israil dizalimi oleh orang lain. Nabi Musa a.s sadar bahwa itu adalah satu kesalahan dan larilah ia menuju Madyan (Jordan).

Kisah ini dapat kita baca di Surah Al-Qashas ayat 15:

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ ۖ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ

“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).”

Ketika sampai di Madyan, Musa a.s. mendapati kelompok pengembala yang sedang mengambil air, sementara di sana ada dua gadis yang hanya menunggu dan tidak dapat ikut mengambil air. Jiwa Musa a.s yang pantang melihat kejanggalan atau unsur ketidakadilan menghampiri dan bertanya kepada dua gadis tadi.

…قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Dia bertanya: “Apa hal kamu berdua?” mereka menjawab: “Kami tidak memberi minum (kambing-kambing kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya “. (Al-Qashash: 23).

Nabi Musa a.s lelah, tapi jiwanya tidak dapat menerima kenyataan itu. Ia bangkit, dibantunya dua gadis itu tanpa meminta imbalan apapun. Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon yang teduh. Disitulah ia berdoa dengan sebuah doa yang teramat indah. Doa yang membuat jiwa-jiwa yang keletihan dengan kepenatan dunia ini, doa yang membuat mereka yang penuh dengan ujian kehidupan dapat merasakan ‘penyejuk perasaan’, doa yang membuat Allah SWT merasa ‘kasihan’ untuk tidak menolong hamba-hamba Nya. Doa ‘pemberi harapan’ yang menjadi jembatan yang menghubungkan ujian hidup dengan Tuhan yang memiliki segala kehidupan. Apa doanya? Surah Al-Qashash ayat 24:

…رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“…Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

Doa ini jika dibaca dengan jiwa yang benar-benar bergantung kepada Allah, maka saya yakin ketenangan itu hadir sebelum pertolongan Allah itu turun.

“Wahai Tuhanku, Sesungguhnya aku ini kepada apa sahaja kebaikan yang Engkau turunkan amatlah fakir”

Apa yang diminta Nabi Musa a.s? Letih, lelah, kepayahan, di kejar-kejar musuh, sendiri, jauh dari keluarga, tidak punya siapa-siapa? Yang diminta adalah ‘al-khair’ kebaikan. Ada yang mentafsirkan ‘khair’ itu adalah makanan. Tetapi kata ‘khair’ itu terlalu luas untuk hanya diterjemahkan dengan sesuatu bentuk ‘makanan’ saja. ‘khair’ itu begitu luas, seluas langit dan bumi.

Apa yang terjadi?

Apa yang diberikan Allah kepada Nabi Musa a.s saat itu? Lihatlah ayat-ayat berikutnya menceritakan dengan apik:

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.

Lihat…lihat….lihat….Nabi Musa a.s hanya meminta dengan satu kata ‘khair’. Satu kata saja: kebaikan. Apa yang diberi Allah SWT kepada nya? Diberikan tempat tinggal, makanan, kerja, bahkan dinikahkan dengan salah seorang gadis tersebut.  Allah mustajabkan doa Musa yang ringkas, tetapi penuh makna. Doa yang dilafazkan dari jiwa yang benar-benar tunduk, menyerah, sepenuh tawakkal dan keyakinan bahawa Allah sentiasa menyahut permohonan hamba yang benar-benar bergantung kepadaNya.

Telah jauh Musa a.s berjalan membawa perasaan bimbang dan ancaman oleh pihak musuh. Ujian yang memaksa dia yang tumbuh besar dalam istana menjadi pelarian tanpa punya bekal apapun. Namun dalam ujian itu Nabi Musa a.s mengalami pengalaman hidup yang hebat dan kurniaan-kurniaan yang besar. Tanpa ujian, hal ini tidak akan berlaku.

Lihatlah doa-doa para Nabi, orang-orang soleh dalam Al-Qur’an sebagian besar doa mereka terucap setelah sebelumnya mendapatkan ujian dan kegetiran yang luar biasa.

Kita pun kurang lebih sama, dalam hidup ini kita jarang berdoa dengan jiwa yang penuh tunduk kecuali setelah Allah SWT memberikan ujian dan kesakitan hidup. Lihatlah bagaimana Allah menyindir kita dengan firman Nya:

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Yunus: 22).

Tapi tengoklah, bagaimana ketika Allah telah menghilangkan ujian-ujian kehidupan itu:

فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ ۖ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Yunus: 23)

Pergi kemana jiwa-jiwa kesusahan itu? Pergi kemana jiwa-jiwa kesedihan itu? Pergi kemana jiwa-jiwa kepasrahan itu? Kenapa bertukar dengan jiwa-jiwa kesombongan dan kecongkakan? Kenapa bertukar dengan jiwa-jiwa penentang dan perusak?

Kita tidak meminta ujian, tetapi kita senantiasa perlu tahu bahawa ujian itu adalah rukun hidup. Ujian bagaikan bicara atau ‘sapaan’ Allah kepada kita agar kita ingat apa yang lupa, ubah apa yang salah, atau untuk kita tambahkan pahala dan padamkan dosa. Nabi SAW bersabda:  “Tiada apa pun yang menimpa seorang mukmin, sehingga duri yang mengenainya, melainkan Allah tuliskan untuknya kebaikan (pahala) dan padam dari kejahatan (dosa)”(Riwayat Muslim).

Boleh jadi, orang yang kita lihat sedang tertimpa kepayahan ujian dan kesusahan hidup sebenarnya dia sedang tenggelam dalam rahmat dan kasih sayang Tuhan Nya. Di sisi Allah mungkin dia lebih baik dariku.

Kita semua akan melewati ‘didikan Tuhan’ melalui pentas ujian. Kita mengharapkan ujian akan membawa kita kepada sesuatu yang lebih baik. Ujianlah yang telah membawa Musa a.s. kepada berbagi kurniaan. Untuk itu kita wajar selalu merintih kepada Allah seperti Musa a.s.: “Rabbi inni lima anzalta ilaiya min khairin faqir” (”Wahai Tuhanku, Sesungguhnya aku ini kepada apa sahaja kebaikan yang Engkau turunkan amatlah fakir”).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *