BAZNAS Gelar Pembinaan Akselerasi Pemahaman Akhlak Islam untuk Mualaf di Mentawai

Kajian pekanan mualaf kelompok dua kembali di gelar di Siberut Selatan, Mentawai, pada Sabtu (14/12). Dalam kajian kali ini membahas mengenai salah satu akhlak mulia yang diajarkan Islam yakni, itsar atau mendahulukan orang lain, sebagaimana yang sudah dibahas juga di kelompok satu sebelumnya.

Da’i mengajak para mualaf untuk mengaplikasikan perilaku terpuji ini dalam kehidupan sehari-hari dengan mencontoh orang-orang terdahulu para sahabat Nabi yakni antara Muhajirin dan Anshar. Sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (yakni kaum Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.

Selepas selesai pembahasan materi, da’i membuka sesi tanya jawab seperti biasa. Pada kesempatan kali ini, ada tiga pertanyaan. Pertama, dari Faujiah (37) bertanya, “Jika ada yang masuk Islam karena menikah, lalu si suami tidak membimbing ilmu agama apakah suami berdosa dan benarkah jika demikian dosa istri ditanggung suami?”

Da’i memberikan penjelasan tentang pertanyaan ini. Diantaranya dijelaskan mengenai hak dan kewajiban suami-istri dalam ajaran Islam, seperti kewajiban suami mendidik sang istri tentang agama atau mengizinkan istri mengikuti pengajian. Selain itu Da’i juga menyampaikan dan menjabarkan sebuah ayat, yang mana ayat ini ditujukan terutama untuk suami,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

(QS. At-Tahrim:6).

Selanjutnya pertanyaan kedua, dari Rufina (59), “Apakah diterima kita berdoa untuk orang tua yang sudah meninggal yang belum Islam?”

Da’i menjelaskan bahwasanya tidak akan sampai do’a dari seorang muslim untuk non muslim, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia. Kemudian diberikan penjelasan tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mendoakan ampunan untuk ayahnya yang kafir namun ditolak oleh Allah. Dan juga kisah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dengan paman tercintanya Abu Thalib yang juga meninggal dalam keadaan belum masuk Islam.

Ketiga, dari Desi Nur (45) menanyakan “Bagaimana hukum merayakan ulang tahun bagi orang Islam dan ritual-ritual di dalamnya, seperti tiup lilin, bernyanyi happy birthday, dan lain sebagainya?”

Da’i menyampaikan bahwasanya dalam kasus ini ada dua pendapat. Pertama, pendapat yang mutlak mengharamkan. Karena pada awalnya perayaan ulang tahun itu bukan berasal dari ajaran Islam dan kita dilarang tasyabbuh, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Imam Abu Dawud,

من تشبه بقوم فهو منهم

Barangsiapa yang menyerupai suatu golongan, maka ia termasuk golongan tersebut.

Kedua, pendapat yang membolehkan dengan syarat-syarat tertentu. Seperti tidak ada unsur-unsur kesyirikan dan kekufuran. Bisa diisi dengan kebaikan-kebaikan yang tidak bertetanggaan dengan ajaran Islam. Selain itu, ulang tahun bisa dijadikan bentuk tasyakur, yakni mensyukuri nikmat usia. Menjadi bahan muhasabah, introspeksi diri atas kekurangan amal di masa lalu. Juga menjadi pengingat bahwasanya bertambahnya angka usia berarti berkurangnya jatah usia.

Red: RS.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *