Antusiasme Mualaf Pahami Syari’at Islam Bersama Da’i Mualaf Center BAZNAS

Pembinaan Da’i  Mualaf Center Baznas (MCB) berlangsung di Dusun Otobasa, Desa Keranji Paidang Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat, pada Jum’at (13/12). Pembinaan kali ini mengkaji enam perkara yang yang mewajibkan mandi, sifat mandi jenabat nabi dan perkara yang membatalkan wudhu.

Bertempat di Masjid Jabal Nur, Dusun Otobasa, mualaf memahami makna dan konsep dari materi yang disampaikan oleh Da’I Mualaf Center BAZNAS, Asep Ma’sum. Bahasan demi bahasan diterangkan kepada mualaf. Mereka mendengarkan dengan seksama terutama ketika dijelaskan hadits mengenai sifat mandi jenabat nabi.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ )

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika mandi karena jinabat akan mulai dengan membersihkan kedua tangannya kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudlu lalu mengambil air kemudian memasukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut lalu menyiram kepalanya tiga genggam air kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dan mencuci kedua kakinya.

 Salah seorang mualaf, Mikael, bertanya saat pembahasan perkara yang membatalkan wudhu.

“Pak Ustadz jika kita sudah berwudhu kemudian di perjalanan kaki kita menginjak kotoran apakah wudhu kita batal?”

“Jika menginjak kotoran  wudhunya tidak batal tetapi ia wajib membasuh kakinya karena kotoran merupakan najis dan wajib dibersihkan,” jawab Asep.

Para mualaf sangat antusias mengikuti pembinaan terlihat seusai pembinaan berakhir, salah seorang binaan Da’i MCB, Alfian dari Dusun Kapur bertanya mengenai permasalah diluar tema.

“Pak ustadz bagimana agama kita memandang tradisi, saya pernah lihar orang-orang Jawa memakai sorban kemudian mereka membawa hewan sembelihan dihanyutkan ke laut terus mereka juga meyakini nyi roro kidul? Bagaimana agama kita menyikapi tradisi yang demikian?” tanya Alvian.

Pertanyaan pun di jawab dengan menjelaskan hubungan tradisi adat istadat dalam Islam. Da’i menjelaskan bahwan tradisi jika tidak bertentangan dengan syariat Islam maka tidak jadi masalah. Menjadi sebuah masalah ketika tradisi tidak sesuai dengan syariat Islam. Salah satu contohnya tradisi yang tadi dikatakan Alfian memberikan hewan sesembahan ke laut.

“Islam melarang memberikan sesembahan kepada selain Allah, amalan ini dinamakan Syirik atau menyekutukan Allah dan Allah SWT tidak menyukai perbuatan Syirik, dan amalan ini dihitung sebagai dosa besar,”jelas Asep.

Pada dasarnya Islam mengajarkan bahwa yang mendatangkan mudharot dan manfaat hanya Allah dan selain Allah tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharot tanpa seizin Allah SWT. Konsep inilah yang harus diyakini sebagai salah satu pemaknaan dari Sifat Allah yang Maha Kuasa.

RED: AM

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *