Zakat dan Potensi Industri Halal

Oleh: Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc., MA

Kajian yang dikeluarkan oleh The State of The Global Islamic Economies tahun 2018-2019 menyatakan bahwa total belanja masyarakat muslim di dunia pada tahun 2017 lalu pada berbagai sektor halal baik itu makanan, minuman, farmasi, kosmetika, busana, wisata, media hiburan maupun sektor keuangan syariah telah mencapai angka 2.1 Trilyun Dolar Amerika. Jumlah ini diperkirakan akan terus naik hingga mencapai 3 Trilyun Dolar Amerika pada tahun 2023 dengan asumsi pertumbuhan yang linier penduduk muslim dunia.

Potensi zakat di Indonesia sendiri terbilang cukup besar. Menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) angkanya dapat mencapai hingga 233.8 Trilyun rupiah. Penghimpunan zakat nasional mengalami pertumbuhan rata-rata setiap tahunnya sekitar 30,55 persen. Pada 2016, zakat yang berhasil dihimpun organisasi pengelola zakat baik Baznas maupun LAZ adalah sebesar Rp 5.017,29 miliar, dan meningkat menjadi Rp 6.224,37 miliar pada 2017 dan Rp 8.100 miliar pada tahun 2018. Tentu saja, antara potensi yang ada dengan fakta yang terjadi masih terjadi gap yang cukup besar.

Bagaimana dengan perkembangan industri halal di Indonesia? Nampaknya pun setali tiga uang. Masih data yang dikeluarkan oleh The State of The Global Islamic Economies tahun 2018-2019 bahwa Indonesia hanya berada di posisi ke-10 sebagai produsen produk halal dunia, sementara Malaysia telah menduduki posisi yang pertama.

Artinya, perkembangan zakat dan industri halal mempunyai masalah yang sama yaitu masih rendahnya pencapaian dengan potensi yang ada. Boleh jadi, penyebabnya sama yaitu zakat masih dianggap sebagai sebuah tindakan filantropi saja dan halal masih sebatas dianggap sebatas gaya hidup semata. Padahal, kesadaran untuk mengkonsumsi produk-produk halal seharusnya tumbuh dan berkembang dari kesadaran yang sama tentang kewajiban zakat yaitu keimanan untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Zakat Adalah Manifestasi Iman

Al-Qur’an saat berbicara tentang perintah untuk mengkonsumsi produk halal dan perintah untuk menunaikan zakat senantiasa dikaitkan dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Sebagai contoh, firman Allah SWT:

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. (Al-Maidah: 8)

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”. (Al-Baqarah: 43)

Zakat pada sebagian pembahasan memasukkannya ke dalam bagian philanthropy atau sifat kedermawanan. Namun jangan salah, Islam tidak mengizinkan adanya praktek philantrophisme yaitu perbuatan baik yang hanya didasari oleh rasa cinta terhadap sesama manusia. Sebaliknya, zakat adalah suatu kewajiban yang datang dari Allah SWT kepada mereka yang diberikan kelapangan harta. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’llaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah: 60).

Kesadaran akan kewajiban ini akan melahirkan kesadaran bahwa bukanlah mereka yang memberikan budi baik bagi si miskin dan kemudian merasa lebih mulia daripada mereka. Akan tetapi, ini adalah murni bentuk kepatuhan pada perintah Allah SWT. Sebaliknya, si miskin pun tidak boleh merasa rendah diri, karena sejatinya pertolongan itu datangnya dari Allah SWT bukan dari si kaya. Walaupun, pada prakteknya tuntunan akhlak membuat mereka berterima kasih dan menghargai si kaya yang telah memberikan hartanya karena perintah Allah SWT.

Praktek-praktek philantrophisme ini jika tidak disadari, akan membuat seseorang mudah terjangkiti oleh kesombongan karena merasa lebih dermawan. Inilah yang kemudian secara ringkas dan tepat disampaikan Allah SWT dalam firman Nya:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (At-Taubah: 103)

Al-Mawardi dalam kitabnya mengatakan bahwa sedekah itu zakat dan zakat itu sedekah. Berbeda dalam penamaan tetapi memiliki makna yang sama. Al-Qadhi Abi Bakr Ibn Arabi mencoba menjelaskan, bahwa zakat disebut dengan kata sedekah yang mana berasal dari kata ‘sidqun’ yaitu bermakna kesesuaian antara tindakan, perkataan, maupun keyakinan (Ibn ‘Arabi: t.th).

Hal ini bisa dipahami bahwa seseorang yang mengeluarkan zakat adalah implementasi dari keimanan sebagai akumulasi dari membenarkan di dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan membuktikan dengan amal perbuatan. Zakat membersihkan akhlak si kaya dan menyucikan serta membersihkan jiwanya dari rasa bakhil dan berbagai akhlak tercela.

Halal Lifestyle Bukan Sekedar Gaya Hidup

Demikian pula meningkatnya keinginan pola hidup halal (halal lifestyle) seharusnya lahir dari niat yang lurus dalam rangka beribadah kepada Allah SWT dan bukan sekedar untuk mengejar keuntungan dunia semata. Jika motivasi ini tidak tumbuh, maka boleh jadi pelaku industri dapat menghalalkan segala cara agar bisnis yang dilakukan sukses walaupun ternyata melanggar prinsip-prinsip syariat. Halal lifestyle adalah bagian daripada konsekuensi terhadap iman itu sendiri. Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).

Tentu saja hal ini bukanlah perkara yang mudah. Masih banyak kaum muslimin yang tidak peduli, bahkan cenderung meremehkan kehalalan makanan yang dikonsumsi ataupun komoditas yang diproduksi. Hal ini boleh jadi disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap prinsip-prinsip kehalalan itu sendiri. Oleh itu, ada tiga hal yang semestinya penting untuk dilakukan:

  1. Benar dalam memahami. Peningkatan pemahaman baik dari aspek syariah tentang urgensi kehalalan dalam hidup seorang muslim hendaknya menjadi hal mutlak yang harus terus dilakukan. Pengetahuan konsumen tentang kemajuan teknologi pangan mengenai produk-produk yang terindikasi tercampur dengan zat-zat yang diharamkan juga harus ditingkatkan.
  2. Halal dalam mencari. Bagi para produsen hendaknya untuk tidak hanya mengejar laba dan keuntungan yang besar sehingga melupakan hal-hal prinsip dalam syariah.
  3. Berkah dalam menikmati. Berekonomi bukanlah sekedar mendapatkan keuntungan harta duniawi, tetapi juga bertujuan untuk memperoleh ‘falah’ yaitu kebermanfaatan dunia dan akhirat. Kemanfaatan yang tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga orang lain. Kemanfaatan yang tidak hanya dirasakan saat ini, tapi terus menerus. Keberkahan yang turun dari atas langit dan keluar dari perut bumi.

Pada akhirnya, zakat tidak pernah menerima dari harta yang haram. Maka meningkatnya kesadaran akan gerakan halal sebagai gaya hidup, pada hakekatnya adalah peningkatan terhadap kesadaran kewajiban zakat itu sendiri. Harta yang didapatkan dan dinikmati dengan cara yang halal, akan mendatangkan keberkahan bagi semaunya. Firman Allah SWT:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *