Waspada Jebakan Istidraj

Oleh: Ust. Sholahudin El Ayyubi, Lc
Khutbah Jum’at 22 Agustus 2014
Kita semua pernah berpikir dan bertanya di dalam diri kita masing-masing mengapa ada orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar ada orang yang sukses tapi pelitnya luar biasa, jawabannya mungkin bisa kita lihat pada Hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bahwa Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}
“Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka, lalu Rasulullah membaca: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” Al An’am 44. HR. Ahmad
Dari Ibnu Abbas ra, ketika mengomentari firman Allah ini beliau membaca surat Al Qolam ayat 44:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ} [القلم: 44] ؛ قَالَ: كُلَّمَا أَحْدَثُوا خَطِيئَةً جددنا لهم نعمة وأنسيناهم الاسْتِغْفَارَ.
“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.”
Sufyan ats Tsauriy menjelaskan firman Allah:
عن سفيانَ في قولِهِ {سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُون} [الأعراف: 182] قالَ: نُسبغُ عَليهم النِّعمةَ ونَمنَعُهم الشكرَ.
“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Kami karuniakan nikmat kepada mereka dan kami halangi mereka untuk bersyukur.”
Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah pada kita, boleh jadi kelapangan hidup itu adalah bentuk azab yang tidak kita sadari, kalau standar sayangnya Allah itu adalah kemewahan hidup, maka Qorunlah orang yang paling disayangi Allah, tetapi kita tau akhir hidup seorang Qorun yang binasa ditelan bumi. Juga jangan kita mengira orang yang banyak cobaan dan ujian didalam hidupnya itu tanda dia dimurkai oleh Allah.
Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan segala dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.Para penuntun ilmu juga demikian, janganmengira nilai yang bagus, kesuksesan, kelulusan, adalah ukuran kasih sayang Allah, tetapi lihatlah bagaimana seorang penuntut ilmu melihat bagaimana hubungan dia dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
Bagaimana salat berjamaah bagaimana ketaatan-ketaatannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan bagaimana dia berusahanya untuk mengamalkan ilmu yang didapat. Ibnul Qayyim al-Jauziyah pernah berkata:
“… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” Al-Fawa’id, hal. 34
Oleh karena itu ilmu, amal dan iman harus sejalan. Bahwa pemuda yang mempunyai cita-cita yang tinggi untuk kebaikan bersama, dia tidak akan rela dengan segala bentuk ketertinggalan dan keterbelakangan, dia akan mendobrak segala bentuk penindasan dan kedzoliman , dia akan penuhi dunia ini dengan prestasi dan kerja nyata. Pada dirinya terletak segala harapan-harapan indah tentang masa depan.
Semnagat akan mengaliri denyut nadinya, akan mengaliri seluruh aliran darahnya, seluruh desah napasnya, tidak ada kata mustahil dalam kamus hidupnya. Pemuda islam adalah pemuda yangs sehat karena diberi asupan makanan yang halal dan sehat karena diberi asupan makanan yang halal dan sehat. Olahraga untuk menjaga kesehatan, menjadi penyemangat untuk beraktifitas bukan sekedar untuk melampiaskan kepuasan dan menghabiskan waktu.
Pemuda islam hatinya dipenuhi dengan iman, yang teraplikasi pada ibadah-ibadah yang benar, moral dan akhlaknya memukau siapa saja yang bergaul dengan dirinya. Akalnya dipenuhi ilmu dan wawasan yang luas, hidupnya teratur dibekali jadwal kegiatan bermanfaat, hidupnya mandiri tidak merepotkan orang lain bahkan mampu menyebarkan kebaikan dan manfaat bagi siapa yang membutuhkan.
Tiada kesempatan terbuang percuma tanpa diisi dengan kegiatan yang positif. Pemuda-pemuda yang tenggelam dalam syahwat dan glamornya dunia, tidak ada yang bisa diharapkan dari dirinya, loyo dalam segala hal, angan-angannya tinggi tapi usahanya tidak ada, hayalannya membumbung tinggi ke angkasa tapi belajarnya malas setengah mati.
Dia tidak peduli dengan apa yang dia makan yang penting sesuai dengan selera, halal dan haram itu tidak menjadi masalah apakah makanan yang ia makan mengganggu kesehatan kesehatan itu bukan urusan. Pemuda islam bukan yang keyakinannya hanya mengikuti tren ibadah nya bukan kapan butuh atau dia mudnya sedang baik.
Dia bukan pemuda yang yang tidak ada waktu untuk mengerjakan hal-hal yang serius, selalu lapang jikalau berurusan dengan hiburan riang gembira, belajar tak menjadi kepentingan, wawasan apa adanya, kalau ditanya lebih banyak bingung daripada menjawab. Jangankan membantu orang lain, mereka terganggu pun mereka tidak peduli.
Pemuda islam bukan yang kebutuhannya banyak tetapi uangnya minta kepada kedua orang tuanya. Semboyannya adalah belajar santai, masa depan cerah, istri cantik, hidup hewan, mati masuk surga tapi tanpa ada usaha. Sekalipun kita lihat dalam sejarah Ibnu Jarir, imam Al-Ghazali, Imam Al nawawi, Imam As Suyuti, dan ribuan ulama-ulama lainnya, mereka adalah orang-orang yang ratusan tahun lalu telah meninggal tetapi dengan ilmu dalam karya-karya tulis mereka seolah-olah menunjukkan bahwa mereka masih hidup.
Tidak bisakah kita bayangkan b bagaimana banyaknya pahala yang mengalir diterima oleh imam Al Bukhari, Imam muslim, Imam Syafi’i dan ulama-ulama lainnya setiap s saat, selagi ilmu-ilmunya dimanfaatkan manusia maka mereka akan terus mendapatkan pahala. Namun perlu kita ingat ketika kita mencoba meniru para ulama tersebut, dengan menulis apa yang sudah kita dapatkan dari ilmu kita, kita tulis diberbaai momen.
Pernahkan kita memikirkan apakah tulisan-tulisan tersebut dapat menjadi amal baik yang memberatkan timbangan kebaikan kita setelah kita meninggal atau sebaliknya itu akan memberatkan eprtanggungjawaban kita kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Banyak ulama-ulama dahulu mencacatatkan karya-karya besar, namun sejarah mencatat di akhir hayat mereka, ada diantara ulama-ulama yang sendiri yang memusnahkan tulisan-tulisan mereka sendiri dengan cara dibakar atau dicuci dan bahkan ada yang mengubur tulisannya di dalam tanah.
Mereka lakukan semua itu karena mereka ragu dan khawatir kalau-kalau karya yang sudah mereka hasilkan itu dapat merusak dan meracuni pikiran orang-orang sesudahnya. Alih-alih memperbaiki ummat justru malah memperbaiki menghancurkan mereka, renungan-renungan seperti ini seharusnya dimiliki oleh setiap mereka yang diberi oleh Allah kemampuan untuk menuangkan pikirannya dalam tulisan. Jangan sampai ia menuliskan sesuatu yang kemudian membuat orang lain menjadi ragu terhadap akidahnya.
Jangan membuat sebuah tulsian yang membuat orang yang membacanya malah jauh dari Allah dan akhirat, atau tulisan yang akan memecah belah umat dan menebarkan kebencian serta cerita-cerita cabul yang akan meluluhlantakkan akhlak dan pikiran manusia di zamannya. Bukan saja hanya dizamannya tetapi ia akan merusak generasi sesudahnya. Oleh karena itu sebelum kita melakukan semua hal itu, maka satu hal yang perlu kita luruskan apakah tujuan kita membutuhkan tulisan itu.
Allah sesungguhnya tidak akan menerima kecuali sesuatu yang betul-betul ikhlas untuk memperoleh keridhaanNya. Bukan karena ingin jadi orang terkenal atau ingin menjadi orang yang ingin selalu dikenang. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita keikhlasan dalam setiap perkataan dan dalam setiap perbuatan.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *