MCB Apresiasi dan Dukung Mualaf Secara Moril dan Materil

Mualaf Center Baznas, Bogor — Da’i Mualaf Center Baznas (MCB) titik Jabodetabek Huzaifah Azhar menyambangi kontrakan seorang mualaf, Penty Normawati Said Selasa, 20 Agustus 2019. Penty berjuang seorang diri menghidupi anaknya. MCB memberikan dukungan baik materil berupa advokasi biaya kontrakan dan bentuk moril dengan memberikan keyakinan dan keteguhan akan keimanan kepada Allah SWT. Pada dasarnya setiap manusia akan ditimpa ujian sesuai kadarnya masing-masing untuk diuji keimanan bahwa Allah SWT akan menolong hamba-hambanya yang bertawakal. 

Beliau tinggal seorang diri bersama anak semata wayangnya di sebuah kontrakan sederhana dengan biaya sewa 550 ribu perbulan di daerah Kampung 5 Cibinong Bogor. Awal mula kisahnya adalah ketika Bu Penty  (nama akrab) melarikan diri bersama anaknya dari rumah suami di Bekasi pada tahun 2017 silam. Hal ini dilatarbelakangi ketidakharmonisan rumah tangganya yang sudah berlangsung lama. Sepuluh tahun lamanya bu Penty melewati hari-hari dalam rumah tangga yang melelahkan hatinya.

Pribadi Bu Penti adalah seorang muslimah yang lahir dan besar dalam keluarga besar Islam. Dia seorang yang mandiri, melek pengetahuan, dan cakap keahlian sebelum Dia menikahi suami non muslimnya. Ia adalah anak ke-lima dari enam bersaudara. Nilai-nilai agama ia dijalankannya seadanya. Bu Penty hanya mengenal dan mempelajari sebagian kecil tentang Islam dari kakeknya. Bu Penty tidak pernah menyangka akan menikah dengan seorang lelaki non muslim yang dia kenal dari tantenya dulu dan mengikat perjanjian itu hanya karna Dia yang waktu itu seorang wanita karir berusia 33 tahun belum juga menikah seperti kelima saudaranya yang lain dan tak jarang hal ini menjadi cibiran pedas untuknya.

Sudah genap dua tahun kini pelarian bu Penty bersama Edho anak semata wayangnya bersembunyi dari suami yang memendam amarah besar. Kini bu Penty kembali memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Dia dan anaknya Edho yang sekarang sudah duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar mengikrarkan keislamannya pada 25 Agustus 2017 di Bogor di awal-awal pelariannya. Sudah banyak cobaan dan usaha yang dijalani Bu Penty dalam menjalani hidup barunya tanpa suami, terlebih setelah suaminya tahu kabar keislamannya bu Penty dan Edho tidak mendapatkan lagi hak penafkahan dan juga menginjak rumah suaminya di Bekasi. Empat saudara kandungnya yang masih ada pun belum bisa menerima keadaannya kembali.

Kini bu Penty berjuang seorang diri memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan juga anaknya dengan menjadi salah seorang pegawai rumahan dengan upah 30.000 rupiah per hari. Namun keterbatasan materinya kini diakui bu Penty tidak membuatnya lantas mengeluh dan menyerah. Islam mengajarkannya semangat dan ikhlas melangkah ke depan. Dia merasa lebih tenang dan bahagia walaupun dengan segala keterbatasan yang ada hari ini. Dia sadar nikmat iman tidak dapat terganti dengan materi. 

Untuk itu demi mensyiarkan nilai Islam yang agung melalui semangat zakat, MCB memberikan dukungan dan apresiasi kepada bu Penty, seorang mualaf sekaligus Ibu yang tangguh, tak kenal lelah memikul amanah hidup di jalan Allah SWT.

Red : HA  Rep : MCB

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *