Rumah sederhana suku Taa Wana

Melangkah dan Mengambil Bagian dalam Dakwah Pedalaman

“Seorang Muslim adalah saudara musIim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain (bahkan ia wajib menolong dan membelanya). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa akan menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari kiamat dan barangsiapa yang menutup (aib) seorang Muslim, maka Allah menutupi (aib)nya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam ini menjadi inspirasi dan motivasi bagiku untuk memulai langkah ini. Sebuah perjalanan baru yang membawaku ke suatu daerah yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan untuk mengunjunginya, yaitu daerah pedalaman. Tidak banyak orang yang menginginkan perjalanan ini karena buat apa kamu ke pedalaman? Toh, kehidupan kota jauh lebih enak dan nyaman. Namun, setelah melihat berita di berbagai media dan menghadiri kajian keislaman yang membahas dakwah pedalaman Indonesia ternyata banyak sekali saudara-saudara muslim yang baru memeluk Islam ataupun yang sudah lama, mereka tidak mendapatkan pendidikan Islam dengan baik. Sedikitnya para da’i, ustadz, kyai yang melakukan dakwah ke daerah pedalaman menjadi hal penting dalam masalah ini.

Dengan keadaan seperti itu maka bukan hal aneh jika kaum misionaris bisa dengan mudah membujuk mereka untuk mengikuti jalannya. Untuk itu, sebagai muslim kita tidak boleh berdiam diri. Dengan semangat ukhuwah Islamiyyah, aku melangkah dan mengambil bagian dalam dakwah pedalaman ini. Bertemu dengan saudara-saudara di pedalaman dan berharap dapat membantu mereka untuk belajar bersama-sama menjadi muslim yang baik.

Bersama Mualaf Center Baznas (MCB) aku bergerak ke pedalaman untuk bertemu dengan saudara-saudaraku di sana. Sebuah kesempatan berharga bagiku bisa menjadi bagian dalam menjalankan tugas mulia ini dengan dinaungi oleh lembaga negara. Dari MCB inilah aku ditugaskan untuk bertemu dengan saudara muslim suku Taa Wana di pedalaman Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Perlu diketahui bersama, Suku Taa Wana adalah suku pedalaman yang mendiami daerah hutan pegunungan sehingga mereka tidak terbatas hanya di Kabupaten Tojo Una-Una saja, tetapi menyebar di sepanjang hutan pegunungan bagian timur Sulawesi Tengah. Suku ini sering disebut juga dengan Tau Taa Wana yang berarti orang yang tinggal di hutan. Namun, mereka juga suka menyebut diri sebagai Tau Taa atau orang Taa. Suku Taa Wana yang kutemui ini masuk pada wilayah Desa Tojo, Kecamatan Tojo, Kabupaten Una-Una, Sulawesi Tengah.

Bertempat tinggal di pegunungan menyebabkan pemukiman Suku Taa Wana ini terpisah jauh dengan pemukiman masyarakat umum Desa Tojo. Sehingga perjalanan dari pemukiman umum warga Tojo (bawah) dengan pemukiman Suku Taa Wana (atas pegunungan) membutuhkan jarak tempuh yang cukup panjang, yaitu sekitar 9 jam berjalan kaki. Akses jalan yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan memaksa kami harus berjalan kaki karena jalan utama yang dilalui ialah sungai, bebatuan sisi sungai, dinding bebatuan sisi sungai, dan menanjak di hutan. Perjalanan yang luar biasa dan sangat ekstrim bagi kami yang baru mengenal daerah ini, tetapi tidak bagi Suku Taa Wana mereka telah terbiasa melewati jalan ini untuk menjual hasil mata pencahariannya berupa getah damar di Desa Tojo (bawah) setiap minggunya.

Alhamdulillah, sekitar 9 jam kami berjalan kaki dan akhirnya kami tiba di pemukiman Suku Taa Wana. Pemukiman Suku Taa Wana ternyata tidak seperti pemukiman yang biasa kita lihat. Rumah-rumah warga tersebar, tidak berdekatan. Tetapi, umumnya rumah-rumah mereka selalu berada di dekat sungai. O iya bentuk rumahnya pun berbeda, bukan tersusun dari semen, pasir, bata, dan genting ya, tetapi berdiri di atas tiang yang terbuat dari kayu dengan ketinggian kira-kira satu meter di atas tanah. Lantainya dari kayu, atau belahan bambu. Dindingnya dari kulit kayu atau anyaman bambu. Atapnya dari anyaman daun. Rumah mereka tidak memiliki jendela. Satu hal lagi, ternyata mereka dikenal dengan pemalu terhadap orang luar. Mereka pun memiliki bahasa sendiri yang disebut dengan bahasa Ta. Bahasa Indonesia mereka kurang lancar. Hanya sebagian orang dewasa yang berbahasa Indonesia dengan baik. Hal ini pun yang menjadi kendala kami saat berinteraksi dengan mereka.

Baru beberapa hari saja tinggal di sana, melihat aktivitas harian Orang Taa Wana, berbincang dengan mereka, sholat bersama sebagian dari mereka di rumah kepala dusun tempat saya bermalam, dan mengajar baca Al-Quran kepada beberapa remaja telah menjadi pelajaran sangat berharga bagiku. Ternyata warga Taa Wana adalah orang-orang tangguh, pekerja keras, dan memiliki kehidupan ekonomi yang cukup mandiri. Berladang, berburu hewan, mencari ikan atau udang di sungai, dan mengumpulkan getah damar merupakan aktivitas utama mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka. Di samping itu, hal yang menjadi perhatian utama adalah sesungguhnya orang-orang Taa Wana ini adalah orang-orang yang sangat haus dengan pendidikan, baik pendidikan Islam maupun pendidikan sekolah formal.

Oleh sebab itu, sinergisitas dibutuhkan untuk membantu warga pedalaman seperti Suku Taa Wana ini dalam mendapatkan hak-haknya. Kerja sama dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dan lembaga keislaman mengambil peran penting untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terutama warga pedalaman. Untuk sahabat-sahabat muslim yang hidup di daerah yang Allah beri kemudahan segala akses mari bergandengan tangan untuk turut mengambil bagian dalam membantu saudara kita di pedalaman dengan kemampuan kita masing-masing.

Terakhir, Janganlah kita menyibukkan diri dalam masalah khilafiyyah dengan saudara kita lainnya. Marilah kita bekerja sama, tolong-menolong dalam memenuhi kebutuhan saudara kita dan saling memaafkan dalam hal yang kita perselisihkan (khilafiyyah). (MM)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *