BAZNAS Mengembalikan Cahaya Syiar Dakwah di Tanah Suku Taa Wana Dusun Sadame

MCB, Ahad (04/08/2019) —– Tojo Una-Una, Mualaf Center BAZNAS (MCB) hadir ditengah hiruk pikuk aktivitas warga masyarakat suku Taa Wana di salah satu dusun yaitu Dusun Sadame, Desa Tojo, Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Kehadiran MCB pada kesempatan tersebut untuk memberikan kembali cahaya syiar Islam yang sempat redup akibat tidak adanya Da’i di Dusun Sadame.

Suku Taa Wana merupakan suku yang hidup nomaden dan tinggal di pegunungan. Beberapa suku tersebut tersebar di tiga kabupaten di Sulawesi Tengah, yaitu Kabupaten Banggai, Morowali Utara, dan Tojo Una-Una. Beberapa tahun terakhir dakwah Islam mulai berkembang pada komunitas suku Taa Wana melalui Da’i pedalaman.

Menurut Suhendra selaku Staf Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Tojo Una-Una, dahulu syiar Islam di dusun ini sempat ada dengan didatangkannya Da’I dari luar. Namun sudah satu tahun berlalu belum ada lagi yang membimbing mereka untuk tahu bagaimana Islam mengatur segala hal aktivtas, baik sejak terbangun hingga tertidur kembali. Waktu satu tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk Suku Taa Wana menghabiskan masa kerinduannya akan siraman ruhani Islam.

“Kami berharap program pembinaan mualaf di Dusun kami, dapat berlangsung secara berkelanjutan” Ujar Fardin, Kepala Dusun Sadame, Desa Tojo, Kecamatan Tojo pada kesempatan MCB bersilahturrahmi dan berkoordinasi untuk menempatkan salah seorang Da’I MCB disana.

Saat kedatangan Da’I MCB, Muchlis Munandar (23), dan Tim BAZNAS di kediaman Kepala Dusun, banyak diantara orangtua dan anak-anak yang merasa asing. Namun rasa penasaran perlahan-lahan meluruhkan rasa malu mereka untuk berkenalan dan bediskusi bersama dibawah naungan rumah panggung kayu yang sederhana.

Perlu diketahui, tantangan Da’I MCB dalam dakwah di dusun Sadame tidak lah mudah. Berawal dari jarak yang cukup jauh dengan menempuh perjalanan dari bagian wilayah administrasi Desa Tojo menuju dusun Sadame hingga memakan waktu kurang lebih 8 jam dengan berjalan kaki. Namun dibalik perjalanan tersebut Allah SWT menitipkan keindahan alam. Salah satunya sungai dan pemandangan dataran tinggi yang hijau dan asri.

Tantangan selanjutnya itu, suku Taa Wana di Dusun Sadame, tidak paham Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Da’I MCB ditemani oleh salah seorang warga masyarakat Desa Tojo, Hamid (32), yang bisa berbahasa Indonesia dan bahasa Suku Taa Wana. Meski demikian, tantangan tersebut akan menjadi cerita tersendiri bagi Da’I MCB dalam memahami sisi kehidupan suku Taa Wana yang akan menambah pengalaman dalam mensyiarkan Islam.

Red : NN  Rep: EFK

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *