Esesnsi Islam Rahmatan Lil Alamin

OLeh : Salahuddin El Ayyubi, Lc., MA

یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡاَنۡفَالِ ؕ قُلِ الۡاَنۡفَالُ لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ وَ اَصۡلِحُوۡا ذَاتَ بَیۡنِکُمۡ ۪ وَ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. Al-Anfal 1

Kalau kita baca Asbabun Nuzul atau sebab turunnya ayat ini maka kita akan mendapatkan satu fakta yang cukup mencengangkan bahwa ternyata para sahabat setelah perang Badar dan ada harta rampasan perang para sahabat dari Muhajirin dan Anshar mereka bertengkar mereka memperebutkan harta rampasan perang tadi. Maka kita kemudian bertanya-tanya dalam diri kenapa mereka sampai kepada tahap yang demikian?

Bukankah kita kenal bahwa orang-orang Muhajirin mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan seluruh aset aset kekayaan yang mereka punya mereka hijrah ke Madinah untuk tinggal bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan mereka tinggalkan seluruh harta benda mereka di Makkah.

Dalam beberapa riwayat diceritakan ada seseorang sahabat yang ketahuan dia ingin pergi ke Madinah lalu kemudian dia ditangkap dan ditahan oleh orang-orang Quraisy Mekah ditanya kenapa engkau mau pergi maka sahabat tadi menjawab aku ingin tinggal bersama kekasihku Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka mereka mengatakan tidak bias, engkau tidak bisa meninggalkan Mekah dengan begitu saja.

Dia bertanya memang kenapa? maka orang Quraisy mengatakan bahwa engkau ini mempunyai aset kekayaan yang cukup banyak di Mekah ini, kalau engkau pergi maka seluruh aset-aset ini akan berpindah ke Madinah. Maka ketika mendengar alasan orang Quraisy sahabat Adhi dengan tegas mengatakan:

“jikalau memang demikian bahwa kalian khawatir aku akan membawa aset-aset kekayaanku ini ke Madinah maka demi Allah demi Rasul Nya aku tinggal karena harta aku seluruhnya untuk kalian Silakan ambil tapi izinkan aku untuk pergi bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam”

Kesimpulannya bahwa orang Muhajirin sudah tidak ada lagi motivasi materi dalam pikiran mereka bahwa persoalan persoalan keduniaan sudah selesai di antara mereka bagaimana dengan orang Anshar? Sejarah pun mencatat dalam banyak riwayat mereka menyambut saudara mereka dari Muhajirin dengan tangan yang sangat terbuka di beberapa riwayat dikatakan dua orang yang dipersaudarakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

“dia mengatakan kepada saudaranya wahai saudaraku aku mempunyai istri lebih dari satu engkau pilih yang mana maka aku akan ceraikan untukmu aku mempunyai harta yang banyak engkau mau yang mana apapun aku akan berikan kepadamu”

Sekali lagi orang Anshar sudah membuktikan buah persoalan-persoalan duniawi sudah tidak menjadi ukuran mereka, tetapi mengapa ketika terjadi perang Badar dan di situ ada harta rampasan perang asbabun nuzul atau riwayat-riwayat mengatakan mereka memperebutkan hal itu? kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala salah satu jawaban yang barangkali bisa menenangkan diri kita semua bahwa ternyata sebenarnya yang mereka perebutkan adalah bukan persoalan-persoalan nominal.

Bukan persoalan-persoalan fisik dari harta rampasan itu sendiri tetapi yang mereka inginkan adalah mereka ingin punya bukti yang nyata bahwa mereka pernah berjuang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Pada peperangan yang pertama mereka ini menunjukkan kepada orang-orang yang tidak sempat mengikuti Perang Badar.

Bahwa kamilah orang-orang yang telah membuktikan cinta kami kepada Allah dan rasulnya buat kamilah yang telah membuktikan syahadat kami asyhadu alla ilaha illallah wa Asyhadu anna muhammadar rasulullah bukan hanya sekedar lisan tetapi membuktikan dengan membenarkan dengan hati dan membuktikannya dengan amal perbuatan mereka.

Mereka ingin mendapatkan langsung dari tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pembagian harta yang sebagai bukti bahwa mereka benar mereka telah berjuang bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam karena mereka mengharapkan surga. Mereka menginginkan Jannah surganya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hal yang sama pun berlaku ketika kita berinteraksi dengan Alquran, bahwa Alquran yang diturunkan yang kita baca terus menerus sampai hari ini itu diturunkan untuk menyelesaikan segala persoalan hidup kita di dunia dan bahkan di akhirat. Persoalan-persoalan yang kita hadapi di dunia ini itu penyelesaian ada di dalam al-quran. Maka Alquran diturunkan di waktu kita hidup diturunkan di dunia agar kita bisa memakainya sebagai petunjuk hidup kita.

Bahwa Alquran tidak bisa kita sadari atau tidak bisa kita maknai hanya sebatas teori-teori semata tetapi Alquran sebisa mungkin harus kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita bicara soal ekonomi maka kita harus merujuk kepada al-quran, ketika kita bicara soal politik, ketika kita bicara soal soal-soal sosial budaya ketika kita bicara berbagai persoalan hidup ini maka sudah seharusnya kita merujuk kepada Al-quran.

Karena kalau kita masih yakin aqidah kita benar bahwa kita mempercayai dengan sehat bahwa Alquran itu adalah Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang datang untuk menyelesaikan segala persoalan hidup manusia. ya ayyuhalladzina amanu fissilmi Kaffah agama ini telah sempurna, kita tidak bisa menggunakan Islam ini, kita tidak bisa mengambil Alquran dan hadis hanya pada persoalan persoalan ibadah.

Kita tidak bisa menggunakan Alquran ketika kita bertemu untuk menikah kita talak kita cerai dan lain sebagainya. kita haji salat puasa kita merujuk kepada Al-quran tetapi ketika kita kembali kepada persoalan-persoalan hidup yang lebih banyak dan lebih kompleks kita tinggalkan Alquran dan kita taruh di belakang kita.

Namun demikian Alquran tidak turun dengan aturan yang rinci dan detail dia tidak turun dengan aturan-aturan yang spesifik. Alquran hanya turun dengan panduan-panduan umum oleh karena itu ketika terjadi Perang Khandaq di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian mengumpulkan seluruh sahabatnya untuk bermusyawarah di Madinah.

Bahwa Madinah saat itu akan diserang oleh orang-orang Quraisy yang sedang berkoalisi dengan seluruh Bani Arab yang belum tunduk kepada Islam ditambah lagi dengan beberapa golongan Yahudi termasuk salah satunya Bani suku Yahudi yang diusir oleh Rasulullah salam dari Madinah karena melakukan pengkhianatan. Kalau dijumlahkan koalisi ini akan berjumlah ribuan orang yang apabila dihadapkan dengan pasukan Islam di Madinah adalah sebuah perbandingan yang sangat tidak adil dan sangat tidak seimbang.

Maka dimusyawarahkan lah strategi apakah yang paling pantas untuk menghadapi perang kali ini. Maka tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Salman al-farisi dia mengusulkan untuk menggali parit dia mengatakan Ya Rasulullah kami orang-orang Persia adalah kalau berperang menggunakan strategi ini. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian mengambil usulan Salman Al Farisi.

Kita bertanya mengapa mengapa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengambil usulan Salman? Kenapa dia tidak beliau tidak mengambil usulan orang-orang Islam saja? Persoalannya bukan persoalan dari mana itu berasal inti persoalan bukan dari siapa yang menyampaikan ide-ide dan strategi itu, tetapi adalah yang lebih urgent dari persoalan ini adalah apakah hal itu bermanfaat kepada umat Islam dan bisa dipraktekkan dalam waktu yang paling cepat dan yang dibutuhkan saat ini?

Kita tahu Persia Pada masa itu bukan negara islam tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengambil kebudayaan mereka strategi perang mereka. Jadi kita tidak bisa memandang Alquran dengan pandangan yang hitam dan putih saja bahwa segala sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Alquran segala sesuatu yang tidak datang dari Islam.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan dalam sebuah hadis “innama buistu liutammima makarimal akhlaq” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak dan Allah kemudian menyambung dalam ayat dalam Al Quran “wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” sungguh kami mengutus Nabi Muhammad untuk memberikan rahmatan lil alamin apa itu rahmatan lil alamin.

Kita harus sama pendapat kita, harus sama pemahaman kita tentang rahmatan lil alamin ini rahmatan lil alamin adalah memberikan kemudahan hidup mudah-mudahan selama itu tidak bertentangan dengan prinsip prinsip dasar syariat dan Allah dengan tegas mengatakan sungguh agama ini tidak membawa kesusahan kepada kalian maka hari ini kalau ada aturan aturan agama yang kemudian itu mendatangkan kesulitan kepada diri kita maka kita harus kembali cek apakah benar keputusan itu memang dari Islam memang dari tuntunan Alquran dan Sunnah?

Karena Allah kemudian menegaskan tidaklah ada kesusahan di dalam agama ini. apa itu rahmatan lil alamin? rahmatan lil alamin itu ada kepada siapa saja tidak hanya kepada orang Islam, lil alamin kepada seluruh alam ini. Kita tidak bisa membawa kita tidak bisa membatasi bahwa rahmatan Lil alami tuh hanya kepada sesama orang Islam. Kita baik kepada sesama orang Islam tapi kita jahat kepada orang diluar Islam apalagi yang bisa kita andalkan? apalagi yang bisa kita jual dengan Islam ini kecuali keindahan Islam itu sendiri.

Kalau kemudian Islam ini kita bawa kita tampilkan dalam keadaan yang keras kita tampilkan dalam keadaan yang susah maka sungguh orang orang akan tidak mau mendekati agama yang rahmatan lil alamin ini arena kesalahan kita memahami makna rahmatan lil alamin. Apa itu rahmatan lil alamin? rahmatan lil alamin itu adalah memberikan kemudahan sesegera mungkin di dunia ini.

Sesegera mungkin segala persoalan yang muncul dalam hidup kita harus segera diselesaikan oleh Alquran. Konsep sebagus apapun sehebat apapun satu konsep tetapi kalau kemudian dia tidak bisa diterapkan dalam waktu yang cepat tidak bisa diterapkan dalam hal yang paling kecil sekalipun maka konsep itu tidak bernilai apa-apa.

Semoga kita kembali merenung tentang makna makna Alquran yang sebenarnya tentang alasan-alasan seluruh produk-produk hukum yang ada dikeluarkan oleh Islam sehingga kita tidak memandangnya sebagai sebuah pandangan yang salah, pandangan yang keras karena barangkali kita salah pandang, karena kita tidak memahami esensi dari rahmatan lil alamin itu sendiri.

Dalam Suatu riwayat dikisahkan ketika Umar Bin Khattab Radiallahu anhu ketika beliau tidak membagi harta rampasan perang tanah-tanah yang ditaklukan oleh pasukan Islam pada masa kekhalifahan beliau, tanah tanah yang dikuasai di Irak, tanah-tanah yang dikalahkan di Syam, tanah-tanah yang berhasil direbut di Iran.

Padahal jelas-jelas apa yang dilakukan oleh Umar Bin Khattab itu bertentangan dengan ayat Al Quran yang mengatakan bahwa semua harta rampasan perang itu harus dibagikan kepada Allah kepada Rasul dan kepada orang-orang yang berperang tetapi Umar Bin Khattab tegas pada pendiriannya dan kemudian beliau mengatakan wahai para sahabatku sungguh aku menemukan jawaban dari pertanyaan yang kalian ajukan bahwa aku tidak melaksanakan perintah Allah.

Coba buka surat Al-Hasyr, di akhir akhir ayatnya maka kalian akan mendapati Firman Allah yang berbunyi “harta rampasan yang diberikan Allah kepada rasulnya yang berasal dari penduduk beberapa negeri itu adalah untuk Allah, Rasul kerabat Rasul anak-anak yatim orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan” Dan selanjutnya sampai kepada ayat yang berikutnya “dan orang-orang yang datang sesudah mereka yaitu setelah Muhajirin dan Anshar”

Sehingga kemudian Khalifah Umar Bin Khattab mengatakan Aku tidak melihat ayat ini melainkan ini meliputi semua umat manusia sampai termasuk pula penggembala kambing di dusun yang terpencil sekalipun. Sekali lagi Umar Bin Khattab melakukan atau menghasilkan hukum ini karena prinsip rahmatan lil alamin kalau di bagi harta tanah tanah itu dia akan menjadi tanah yang tidak bermanfaat.

Lalu orang-orang yang berhasil dikuasai apa pekerjaan mereka? karena mereka kehilangan aset-aset tanah pertanian mereka. Bukan berarti bukan berarti Umar Bin Khattab itu melanggar aturan Allah, tetapi Umar Bin Khattab mengambil melihat esensi utama dari sebuah perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu muncullah kitab tentang fiqih Umar Bin Khattab bagaimana beliau itu terkenal banyak memberikan usulan-usulan ide cemerlang dalam memahami teks teks Al Quran.

Kita tidak bisa mengatakan setiap persoalan yang ada langsung kita bilang harus kembali kepada Al-quran dan Sunnah secara total mutlak. kita ingin ada ada aturan yang resmi ada aturan yang terperinci, Saya ingin menyampaikan terakhir satu riwayat yang terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika kemudian tiba-tiba Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam instruksikan seluruh petani kurma pada masa itu untuk menghentikan penyerbukan kurma.

Karena mereka ini adalah orang-orang yang cinta kepada rasulnya mereka mengatakan baik ya rasul mereka hentikan kebiasaan yang selama ini mereka lakukan yaitu menyerbuk pohon kurma, tetapi kemudian? Apa yang terjadi panen tidak berhasil kemudian mereka datang ke hadapan Rasulullah dan berkata “kami tidak berhasil dengan cara yang kau terapkan tadi.” Apa jawaban Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam? jawaban Rasul adalah Hadits yang kita kenal sampai hari ini beliau sambil tersenyum mengatakan “Antum a’lamu Bi umuri dunyakum” kalian itu lebih tahu pada urusan urusan dunia kalian sendiri.

Sehingga kita tidak bisa terlalu memandang Alquran itu Hadits dengan persoalan hitam dan putih, ketika tidak ada di situ atau mengambil teknik-teknik yang lain kalau kemudian kita mengatakan keluar dari Islam? Semoga umat Islam ini semakin diberikan pemahaman yang baik tentang agamanya sendiri oleh Allah subhanahu wa ta’ala sehingga pemahaman yang baik itu membawa kita kepada Islam yang rahmatan lil alamin arrahmanirrahim.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *