“Saya Ingin Jadi BAZNAS”

Oleh: Dinda Paramita

(Da’iyah Pos BAZNAS Kola-kola, Kab. Donggala)

 

Kola-kola punya cerita, Kola-kola punya banyak cinta, begitulah ditafsirkannya Kola-kola. Salah satu desa di Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Suku yang menduduki kampung ini adalah suku Kaili. Suku Kaili adalah suku asli setempat. Penduduknya menganut paham kekeluargaan (mungkin.. hehe).

Bulan Agustus 2018 lalu, Aku baru melaksanakan ibadah KKN. Suasana di desa Kola-kola tidak jauh berbeda dengan keadaan masyarakat ditempat KKN-ku saat itu. Aku dan teh Fahmi tidur di rumah Pak Kades, katanya pos Kola-kola ini adalah pos yang paling ramah untuk relawan akhwat. Ya memang begitu adanya. Kami mendapatkan kamar untuk bermalam, benar-benar diluar dugaan. Aku kira akan tidur di tenda-tenda, meskipun sesekali tidur di tenda. Pun Aku kira akan kesulitan air, maka dari itu Aku bawa baju, bawa koper pula, khawatir bajunya kusut. Alhamdulillah, kalaupun listrik mati tidak dapat menyalakan pompa air, kami biasanya pergi ke sungai untuk mencuci. Karena memang sungainya masih bersih, banyak warga yang mengambil air untuk minum. Berbeda jauh ya dengan keadaan di Bandung atau Jakarta, jangankan untuk mencuci, menapakkan tangan diair saja sudah merasa jijik.

Suguhan pemandangan tidak kalah dengan suguhan keramahan masyarakatnya. Pertama kali datang saja, rombongan ibu-ibu menjamu dengan hangat, membawakan barang bawaan sebagai bekal untuk dua pekan di Kola-kola.  I’m so lucky to meet them. Keramahan para pengungsi setidaknya mengurangi rasa rindu terhadap orangtua, keluarga, dan kerabat. Aku merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan menjadi relawan dan menjadi bagian dari Mualaf Center BAZNAS. Hidup berbarengan dengan para pengungsi, anggap saja kita hadir sebagai penghibur lara mereka.

Setiap pagi disuguhi dengan makanan-makanan khas, seperti putu soko, nasi kuning (yang kegurihannya alami dengan santan), pisang goreng (dicampur dengan sambal), pun dengan makan siang atau makan sore seringkali makan dengan sayur kelor dan buah kelor. Secara ilmiah buah kelor ini banyak mengandung banyak nutrisi, bahkan di luar negeri diekstraksi untuk dijadikan kapsul yang dapat dimakan kapan saja. Bahkan daun kelor dijuluki daun seribu nutrisi. Sungguh senang bisa makan daun ini, bisa mengumpulkan banyak nutrisi dan tenaga untuk menghadapi kenyataan. Katanya sayur kelor ini sayur favorit, katanya juga jika sudah mencicipi sayur kelor ini akan selalu ingat Kola-kola, ingin kembali lagi. Memang begitu sih. Hehe..

Selain para orangtua yang memiliki tingkat keramahan yang tinggi, pun dengan anak-anak kecil dan remajanya. Aku akan kisahkan satu persatu dari mereka sebagai guru kehidupanku. Ibu-ibu di Kola-kola selain menyediakan makanan rutin, namun disela kegundahan yang belum hilang pasca gempa mereka acapkali menyuguhi makanan-makanan khas Kola-kola. Bahkan setiap kali berkunjung ke rumah warga, seringkali perutku dan kedua temanku harus berusaha menyesuaikan untuk melebar karena saking banyaknya makanan. Kemudian, kami juga sering berkegiatan bersama dengan para remaja Masjid Nurul Yaqien. Masjid Nurul Yaqien ini salah satu masjid yang berada di Kola-kola, dimana pada saat gempa memakan satu orang korban jiwa karena tertimpa tiang bangunan. Biasanya, selain ngobrol-ngobrol ringan, kami juga mengadakan pembinaan agar program dakwah tak berhenti sampai kita pulang, atau sampai BAZNAS memberikan bantuan. Kami mengadakan pembinaan dan pengkaderan khusus. Waktunya dimulai setiap selesai sholat. Atau sesekali Aku mengajarkan membuat resep cilok ala Bandung, seblak Bandung, atau membuat rujak khas Sunda. Untuk anak-anak sendiri, selain melakukan pengajian rutin, kami juga melakukan trauma healing atau psikososial kecil-kecilan, mengajak bermain bersama, bermain bola, bahkan membuat rujak, cilok, dan seblak.

Suatu ketika kami bertiga mengadakan lomba, dengan meminta bantuan juga kepada Remaja Masjid. Gurauan-gurauan Ibu-ibu juga ingin agar diadakan lomba untuk mereka. Namun pada akhirnya mereka berkata “Buat senang saja anak-anak, biar mereka tidak trauma. Kita sudah dapat melupakan, meskipun terkadang kita juga teringat gempa kembali. Namun prioritaskan anak-anak saja. Kita sudah dewasa”. Ya ya ya.. Bagi kebanyakan orangtua begitu ya, selalu memprioritaskan anaknya. Sebenarnya terngiang juga untuk mengadakan lomba-lomba untuk para orangtua, disamping waktu ibu-ibu yang agak sulit karena urusan dapur (harus memasak di dapur umum), kegiatan yang dapat dilakukan adalah ngobrol-ngobrol ringan dengan ibu-ibu atau sekedar mengaktifkan kembali Majelis Ta’lim yang sudah satu bulan libur.

Ada yang membuat Aku masih teringat sampai saat ini, yaitu ada seorang anak yang memiliki cita-cita, namun cita-cita tersebut adalah menjadi “BAZNAS”. Nah loh.. kan itu gimana ya, jadi BAZNAS?

Awalnya kami bercerita tentang cita-cita dengan anak-anak. Seorang anak yang lucu dan nampak antusias, Ulfi namanya, memulai untuk bercerita, “Kak, cita-cita saya banyak, saya ingin jadi BAZNAS, ingin jadi guru, ingin jadi dokter, ingin jadi Polisi wanita, ingin jadi pilot, tapi cita-cita terbesar saya adalah menjadi BAZNAS. Semenjak ada kakak-kakak BAZNAS disini, saya ingin jadi BAZNAS”. Sontak membuat saya terbahak-bahak. Mungkin yang dimaksud adalah ingin menjadi relawan BAZNAS.

Disaat kepulangan pun haru melanda. Semenjak pemberitahuan tanggal kepulangan kami, mereka langsung nampak sedih. Ibu-ibu nampak mampu menjaga ketegaran agar tidak terlihat sedih, namun berbeda dengan para remaja dan anak-anak, yang ingin menahan kepulangan kita. Bahkan ada yang berdoa “Semoga ada gempa lagi, biar kakak-kakak tetap di Kola-kola”. Ya Allah, saking mereka tidak ingin kami tinggalkan. Mereka sangat excited ketika belajar ilmu-ilmu baru. Sebagai pengajar tentu sangat menyenangkan. Hampir setiap hari mereka bermain ke balai desa atau rumah Pak Kades, mungkin efek tidak ingin ditinggalkan ya. Apalagi hari terakhir di Kola-kola, kemanapun kami pergi mereka mengikuti. Bukan hanya mengikuti tapi mereka menangis, hoalah, apa yang harus dilakukan? Benar-benar menguji ketegaran. Tangisan mereka pun membuat tak ingin pulang. Sampai pada akhirnya jemputan datang. Kami tertahan hampir dua jam, namun apa daya amanah harus tetap pulang. Sebenarnya, betah juga tinggal di Kola-kola, namun bagaimana dengan kuliah yang menanti? Atau keluarga yang menunggu?

Aku semakin berfikir, bahwa ketika menempatkan kesan menjadi prioritas dalam pertemuan, mungkin disinilah keharuan, haru tidak ingin berpisah, haru untuk tetap tinggal, haru selalu rindu, mungkin disinilah kami meninggalkan jejak-jejak kesan yang cukup baik, meskipun kami bertiga tidak maksimal menjalankan amanah dakwah.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *