Pengembaraan Dakwah di Tanah Kaili

Oleh: M. Fudoli

(Da’i Pos BAZNAS Layana Indah, Kota Palu))

Kesempatan bisa berdakwah di tanah Kaili adalah sebentuk cinta-Nya untukku. Allah Yang Maha Baik, memilihkan jalan ini sebagai medan juang dan jihadku. Juga sebagai kawah candradimuka tempat diriku ditempa dengan sebaik-baik tempaan. Barangkali atas rintihan dan doa-doa Ibu dan Ayah jua, Allah berkenan memberikan kesempatan berharga ini, kepada seorang yang masih compang-camping imannya. Hamba yang masih cacat ibadah dan amalnya yang mesti selalu berbenah dan memperbaiki. Kepada manusia yang masih banyak luput dan salah, sepertiku. Alhamdulillah, seribu syukur ku panjatkan pada Rabb semesta alam.

“Pengembaraan Dakwah di Tanah Kaili”, begitu judul yang Aku pilih dalam goresan tulisan ini. Sebuah catatan kecil untuk mengenang kenangang-kenangan besar yang Aku lalui selama mengembara di Palu. Ya, kenangan-kenangan bersejarah dalam ruang usiaku. Goresan tulisan ini Aku persembahkan untuk orang-orang yang tercinta wabil khusus kedua orang tua dan adik perempuanku. Lalu untuk kakak sekaligus gurunda, Bang Miqdam dan Bang Hadiyan sebagai pengurus Mualaf Center BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional). Semoga Allah meridhoi dan memberi hidayah-Nya.

Terhitung sejak 22 Oktober 2018 Aku ditugaskan ke Palu oleh Mualaf Center BAZNAS (MCB), bersama 3 relawan lainnya yaitu Hamzah, Jundi dan Prasetyo. Kami menyusul rombongan pertama yaitu Rendi, Azhari dan Achmad yang telah diberangkatkan seminggu sebelumnya. Sesampainya di pos tanggap bencana BAZNAS Sulawesi Tengah, kami tak banyak membuang waktu. Mandi, sarapan, dan setelah itu briefing. Kami dipisahkan ke pos-pos pengungsian yang telah ditentukan dan harus siap menjadi da’i serta tinggal di sana bersama para pengungsi selama kurang lebih tiga minggu.

Hari pertama Aku lalui rasanya berat sekali. Antara mimpi dan nyata, sore itu aku ditinggalkan seorang diri di salah satu pos pengungsian tanpa seorang teman yang ku kenal, di tempat antah berantah yang belum pernah ku datangi sebelumnya. Hari itu Aku sangat lelah karena hampir tak tidur sejak perjalanan malam dari Jakarta ke Palu. Saat tiba di pos pengungsian Layana Indah tempat ku bertugas itu, Pak Tati menyambut hangat dan membiarkanku beristirahat sampai waktu maghrib tiba. Beliau merupakan koordinator di pos pengungsian tersebut.

Tibalah waktu shalat maghrib. Sesuai jobdesk, kami para relawan da’i Palu diberi amanah untuk menghidupkan cahaya Islam di pos-pos pengungsian harus langsung bertugas. Mengadakan shalat berjamaah dan mengajak para pengungsi untuk shalat, salah satunya. Berhubung pos Layana Indah terletak di hutan dan jauh dari perkampungan maka shalat maghrib waktu itu dilaksanakan di salah satu tenda pengungsi. Dan karena imam masjid mereka sudah turun untuk kembali ke rumahnya, tak tinggal di pos pengungsian lagi yang letaknya di bukit, maka Aku menggantikan tugas beliau menjadi imam shalat berjamaah. Itulah pengalaman pertama menjadi imam shalat di pos pengungsian bersama para pengungsi.

Hari demi hari Aku sangat menikmati pengembaraan dakwah ini. Di pos Layana Indah para pengungsi sangat ramah dan welcome. Dari ibu-ibu, bapak-bapak, para remaja dan anak-anaknya terlihat begitu menyambut kehadiranku di tengah-tengah mereka. Tak disangka yang awalnya tak yakin bisa berbetah diri tinggal di sana, akhirnya betah dan tak ingin cepat pulang. Seperti menemukan keluarga baru di sana. Keluarga yang memberi makan, tempat tinggal dan keramah-tamahan.

Tiga hari berlalu, banyak aktivitas dakwah yang telah Aku lalui. Juga sudah banyak cerita dan pengalaman yang Aku dapat. Di antaranya mengajak para pengungsi terutama anak-anak untuk mendirikan shalat lima waktu. Ternyata tak semudah membalikan kedua telapak tangan, tak sepele mengedipkan mata. Dalam sekali shalat berjamaah Maghrib atau Isya saja jamaahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Padahal jumlah pengungsi keseluruhan mencapai 71 jiwa. Banyak di antara mereka yang memang sudah terbiasa meninggalkan shalat sebelum bencana. Itulah tantangan dakwah yang pertama.

Selain mengajak shalat dan menjadi imam shalat berjamaah, tugas di pos pengungsian adalah mengajar mengaji anak-anak. Alhamdulillah kami para relawan da’i dibekali iqra, juz ‘amma dan Al Quran. Sejak malam pertama di pos pengungsian, pengajaran Al Quran sudah berjalan, meskipun baru sedikit yang hadir. Tapi antusias mereka luar biasa, apalagi ada salah seorang ibu-ibu yang ikut hadir. Beliau tetap semangat mengaji walaupun harus belajar bersama anak-anak. Beliau tidak malu dan percaya diri menuntut ilmu.

Di hari ke-empat, tak diduga karena suatu sebab Prasetyo dipindahtugaskan ke pos Layana Indah bersamaku. Kini, aku tak melalui pengembaraan dakwah ini sendiri, ada seorang partner relawan da’i yang menemani. Sebelumnya kami sudah sama-sama saling kenal. Beliau merupakan teman satu universitas dan satu atap di asrama masjid Al Hurriyyah Institut Pertanian Bogor (IPB). Sekarang Aku merasa mendapat kekuatan dan dukungan baru untuk melangkah dalam medan dakwah di sana. Sungguh kegembiraan yang berlipat-lipat, Alhamdulillah.

Hari-hari berikutnya kami lalui dakwah di pengungsian dengan penuh semangat lillah. Semangat berapi-api karena berharap bertemu wajah-Nya. Karena mendamba ridha dan surga-Nya. Setiap agenda, setiap aktivitas antara kami dan pengungsi senantiasa berbalut dakwah. Bermain dengan anak-anak, bercengkrama dengan para ibu dan bapak-bapak dan bergaul dengan para pemudanya. Setiap jengkalnya, tak luput ingin selalu kami selipkan dakwah. Mengingatkan tentang Allah dan agama, yang dengannya kita selamat.

Suatu ketika di tengah-tengah pengembaraan dakwah di pengungsian, datang sekelompok relawan juga dari negeri tetangga, Malaysia. Mereka mengatasnamakan diri dengan Muslim Care Malaysia. Misi yang dibawa oleh mereka adalah menyalurkan bantuan berupa sembako dan Al Quran. Selain itu mereka datang dengan membawa salah satu Menteri dan Ustadz asli dari Malaysia. Tujuan mereka pun sama seperti kami yaitu berdakwah dan mengingatkan pengungsi akan Allah dan agama-Nya. Pernah juga ke pengungsian tempatku tinggal, bantuan sembako dan pakaian datang dari saudara-saudara muslim dari Yordania.

Betapa banyak bantuan dan dukungan yang datang ke Palu, Donggala maupun Sigi. Dari dalam maupun luar negeri. Terkhusus bantuan yang datang ke pengungsian Layana Indah di Palu. Salah satu bantuan yang paling dirasakan dan konsisten membersamai para pengungsi adalah bantuan yang datang dari BAZNAS. BAZNAS hadir di tengah-tengah pengungsi dengan membuat dapur umum yang stoknya selalu rutin dipasok. Kemudian bantuan genset untuk listrik di pengungsian maupun bantuan lainnya seperti trauma healing dan relawan dakwah, program dari Lembaga Beasiswa BAZNAS (LBB) dan Mualaf Center BAZNAS (MCB).

Di pengungsian, kami para relawan dakwah pun sangat merasakan bantuan itu. Terutama dalam hal makanan. Setiap hari makan di pos pengungsian selalu tersedia dan melimpah. Tak pernah kekurangan sedikitpun. Menu yang dibuat sangat beragam. Dari mulai aneka makanan yang dimasak oleh Mama Rampa dan timnya, sampai makanan mentah yang dimasak sendiri. Mama Rampa adalah sebutan ketua di dapur pengungsian. Aku dan Pras seringkali disuruh nambah saat selesai makan. Di antara masakan khas Kaili adalah Kaledo dan sayur kelor. Selama tiga minggu kami berdakwah, tak pernah mengeluhkan sedikitpun tentang jamuan makanan yang disuguhkan para pengungsi. Bahkan kami diperlakukan seperti raja di sana. Kami dimuliakan dan sangat diperhatikan kebutuhan-kebutuhannya.

Dengan kenyataan seperti itu, maka sudah sepatutnya kami selaku relawan harus totalitas dalam berdakwah di pengungsian. Merencanakan, mengonsep dan merealisasikan agenda-agenda dakwah yang dapat diterima dan berdampak bagi para pengungsi. Menjelang pulang dan tak bertugas lagi, kami mencanangkan program perlombaan di kelurahan Layana Indah. Perlombaan tersebut dilaksanakan atas kolaborasi kami dengan pengurus Risma (Remaja Islam Masjid) kelurahan Layana Indah. Program tersebut dibuat sebagai bentuk kenang-kenangan kami untuk anak-anak di pengungsian maupun anak-anak di kelurahan Layana Indah. Lomba yang diadakan adalah lomba adzan, cerdas cermat agama dan makan kerupuk. Acara diakhiri dengan pembagian hadiah dan doa.

Selain itu program-program dakwah lainnya yang alhamdulillah sudah terlaksana adalah praktek wudhu, tayamum dan mandi junub. Anak-anak di pos pengungsian juga masih banyak yang belum mengetahui benar tentang fikih thaharah, jadi itu menjadi salah satu materi yang kami ajarkan. Dan masih banyak lagi program dan tema-tema kultum yang sudah dilaksanakan dan disampaikan. Besar harapan sepulang dari Palu, ilmu-ilmu yang telah ditransfer maupun adab-adab dan doa-doa yang telah dicontohkan dapat dicerna dan diaplikasikan selalu. Terkhusus oleh anak-anak yang menjadi objek dakwah utama kami di pengungsian.

Tibalah hari terakhir aku dan Pras di pos pengungsian Layana Indah. Sore itu, Kamis 15 November 2018 kami mendapat kabar akan dijemput untuk kembali ke posko BAZNAS Sul-Teng. Sebelumnya kami memang sudah mengabarkan kepada para pengungsi tentang hari kepulangan yaitu tanggal 16 November. Para pengungsi pun terkejut karena yang harusnya besok baru pulang, ternyata sorenya sudah akan dijemput. Setelah itu mereka pun sibuk menyiapkan acara perpisahan untuk kami sore itu.

Maghrib tiba, shalat berjamaah pun dilaksanakan sebagaimana biasanya di tenda pengungsian. Selepas shalat, dzikir dan doa, aku dan Pras menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai bentuk perpisahan kepada para pengungsi. Tak disangka suasana saat itu sangat mengharu biru. Kami sedih, para pengungsi pun tampak sedih. Saat kami meminta perwakilan pengungsi untuk berbicara, tak ada satu pun yang bersedia. Sungguh menambah hening suasana. Apa yang kami sampaikan rupanya membuat hati mereka luluh dan teringat masa-masa saat kami bersama mereka. Terlalu banyak kenangan yang harus diingat, terlalu banyak cerita yang telah tercipta. Antara malu dan haru, mereka semua diam membisu. Hingga waktu isya tiba, suasana hening itu masih ada.

Selepas Isya, kami disuguhi makan malam dengan pencuci mulut susu dan onde-onde, makanan berbentuk bulat ketan berlapis parutan kelapa dan berisi gula jawa. Malam itu aku benar-benar merasa kenyang, bahkan disuruh nambah dan nambah lagi. Karena memang makanan dan suguhannya sangat banyak. Semua pengungsi berkumpul dan mengerumuni kami malam itu. Pemandangan yang jarang terjadi. Semuanya diundang dalam jamuan malam perpisahan malam itu. Sungguh kami dan para pengungsi berharap perpisahan itu bukan terjadi malam itu. Dan ternyata setelah ditunggu-tunggu malam itu kami tidak jadi dijemput. Alhamdulillah, syukur Aku masih bisa tidur bersama para pengungsi untuk kali terakhir.

Keesokan harinya barulah kami dijemput ke posko. Tak terasa waktu begitu cepat memisahkan. Jalan hidup yang baru harus kami dan para pengungsi lewati bersama. Betapa berat dan pilu hati ini. Namun tugas tetaplah tugas, Aku dan Pras harus pulang. Aku masih ingat apa yang Aku sampaikan selepas Maghrib di malam terakhir. Sebuah pesan cinta kepada para pengungsi yang aku cintai karena Allah.

“Ibu-ibu, bapak-bapak dan teman-teman semua. Terima kasih atas kebaikan dan sambutan semuanya selama ini. Selama kami di pengungsian, kami merasa diperlakukan sebagai tamu yang sangat dimuliakan.            Sesuai hadits Rasul, bahwa ciri-ciri orang beriman adalah suka memuliakan tamunya. Saya berharap semuanya termasuk ke dalam orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Kami tak mampu membalas selain doa-doa. Semoga Allah memberi kebaikan yang berlapis-lapis.”

“Pada malam ini juga kami meminta maaf setulus hati kami. Atas tingkah dan perilaku yang tak baik. Kami sudah banyak merepotkan dan menyusahkan. Pesan terakhir kami, semoga selepas kepergian esok hari semua pengungsi di sini terus istiqomah shalat lima waktu. Apapun yang terjadi, shalat jangan ditinggalkan. Ngaji dan belajar Al Quran juga mesti diteruskan. Suatu saat, semoga kita bisa bersua lagi di dunia maupun di surga-Nya kelak. Aamiin.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *