Lika-liku Dakwah di Pos Pengungsian

Oleh: Rendi Saputra

(Da’i Pos BAZNAS Baiya, Kota Palu)

Berbicara mengenai “dakwah” memang tidaklah mudah. Hal itu tidak lepas dari dua faktor, yaitu: faktor perilaku manusianya secara personal dan faktor budaya yang sudah melekat pada suatu masyarakat. Apalagi jika kita berdakwah pada situasi pasca bencana, tentunya diperlukan mental yang kuat, fisik yang prima, dan pemahaman yang komprehensif mengenai kondisi dan situasi yang ada di lokasi bencana.

Ya, seperti yang dirasakan oleh saya sendiri selama berdakwah di pengungsian Dusun Mangu, Desa Baiya, Kec. Tawaeli, Kota Palu. Kompleksnya kondisi dipengungsian pada saat itu membutuhkan banyak sekali kerja-kerja ekstra yang perlu saya lakukan. Tidak hanya fisik dan mental, pun dengan pikiran harus segar agar bisa menghadirkan win-win solution bagi masyarakat yang ada di pos pengungsian. Selama di pos pengungsian ini, Alhamdulillah banyak sekali pikiran-pikiran yang membuat saya resah karena melihat kondisi riil yang ada adi tengah masyarakat. Sehari-hari masyarakat itu memang euuuuuh… greget. Tapi Alhamdulillah setelah pikiran-pikiran panjang itu bersarang di kepala saya akhirnya membuahkan solusi-solusi  dan menghasilkan keputusan-keputusan, bahwa fokus dan tujuan pada saya selama di pengungsian adalah untuk:

  1. Mengoptimalkan tiga brandal, agar mereka minimal ya… rajin sholat,
  2. Meng-upgrade kapasitas anak-anak dan pemuda Risma Al Hidayah Mangu agar bacaan Qur’an dan pemahaman ke Islaman mereka meningkat,
  3. Menghidupkan pengajian Ibu-ibu di malam minggu, dan
  4. Membudayakan mengaji Al Kahfi setiap malam Jum’at.

Selain dari itu, agar hasil pembinaan terhadap anak-anak Risma membuahkan hasil yang maksimal, maka dibukalah pengajian setiap bada sholat bagi anak-anak (alias 5 waktu) keren gak tuh? sebetulnya pusing juga sih, karena dengan demikian, waktu istirahat kita sedikit, karena selain daripada itu aktivitas kita juga banyak seperti; berdialog dengan pemuda-pemuda sekitar, dan satu lagi yaitu menemukan cara bagaimana caranya agar dakwah kita bisa mudah diterima di masyarakat terkhusus kalangan tua. Daaaan ketika dua pekan awal di pengungsian itu sendirian guys, huhuhu…. Gak galau gimana coba?

Agar dakwah kita bisa diterima oleh masyarakat, kita harus melakukan beberapa hal,  bisa dikatakan ini berkenaan dengan perilaku atau sikap dan juga apa yang harus dilakukan oleh seorang relawan selama di lokasi bencana atau pengungsian, yaitu:

  1. Bersikap ramah dan murah senyum

Bagi yang belum terbiasa melakukannya, pasti akan terasa sulit sekali untuk ramah dan murah senyum ini, terlebih jika kita berada di lokasi bencana yang kultur daerahnya hanya berbicara sekedarnya dan kita memang harus dituntut dekat banget sama mereka, itu yang saya rasakan selama di posko ini hehe

  1. Selalu menyapa warga dimanapun kita berada

Jujur nih, pas awal-awal banget datang ke posko pengungsian itu masih ada kepikiran, “oh sama-sama orang Indonesia, mereka pahamlah tentang kultur orang jawa bagaimana-bagaimanya”, so… ketika awal-awal biasa aja berinteraksi dengan mereka itu ya… sekedarnya saja. Tapi setelah dirasakan berhari-hari dan saya evaluasi kegiatan hariannya, ternyata gak gitu juga guys, antara saya dan masyarakat pengungsian kayak ada gap gitu, padahal sering ngobrol-ngobrol sama mereka, baik anak-anak, pemuda, dan orang tua, selain dari itu sering keluar juga. Di tanah Sulawesi, ini ternyata kitalah yang memang harus dituntut aktif. Kalo di Jawa istilahnya “kepalanya kita pegang nurutlah semua yang di bawahnya” kalo di sini, “emang beda kak” itu tutur pemuda Mangu ketika berdialog.

  1. Mendekati tokoh masyarakat sekitar

Sudah menjadi hal yang lumrah jika seorang relawan harus mendekati dan dekat dengan  seorang tokoh pada suatu lokasi bencana. Hal itu untuk memudahkan komunikasi dan juga koordinasi terkait perkembangan situasi selama di pengungsian. Selain daripada itu dekatnya kita dengan tokoh bisa menjadi jembatan untuk mengenal lebih jauh karakter dan juga budaya yang ada pada suatu daerah. Memang tidak semua masyarakat di Indonesia itu dapat dipengaruhi oleh tokohnya, ada beberapa tempat yang tidak demikian, tetapi minimal dekatnya kita dengan tokoh, kita bisa mengetahui kondisi komprehensif mengenai lokasi bencana ingin kita ketahui.

  1. Selalu meng-cross check keadaan pengungsi

Hal yang sering diremehkan, padahal esensinya begitu mendalam. Bisa jadi itulah tugas utama kita selama berdakwah di pos pengungsian. Dengan senantiasa memperhatikan kondisi pengungsian secara menyeluruh, kita bisa mengetahui apa yang sehari-hari mereka lakukan dan tentunya kita juga akan tahu apa yang terjadi dengan selama dipengungsian. Nah biasanya yang sering dialami oleh saya pribadi, sering adanya para donator tiba-tiba masuk ke pengungsian tanpa berkoordinasi terlebih dahulu dengan lembaga yang sudah ada di dalamnya. Saran saya pribadi sih alangkah lebih baiknya setiap lembaga yang datang ke pengungsian berkoordinasi terlebih dahulu dengan lembaga yang sudah ada di dalamnya, apalagi untuk relawan BAZNAS ini memang stay mendampingin warga di pos pengungsian.

Alhamdulillah, karena kita pun sering berkeliling dan sudah dekat dengan masyarakat, selalu ada saja yang memberi tahu kegiatan selama di pos pengungsian, kebetulan kondisi di pengungsian saya antara masjid dan pengungsian lumayan untuk berjalan kaki. Karena, alhamdulillah, masjid di pengungsian yang saya tinggali masih layak untuk dipakai sekalipun terkategori rusak ringan.

  1. Mengevaluasi kegiatan harian dimalam hari

Evaluasi ini memang sangat penting loh, hal ini bisa membuat kita saling mengetahui kondisi terkini dari masyarakat yang ada di sekitar. Apalagi, di Dusun Mangu ini jumlah posko yang dikelola BAZNAS adalah 3 posko; Posko RT 11, Posko RT 07, dan Posko RT 10. Nah nantinya setelah dilakukan evaluasi tentunya kita memiliki gambaran ter-update mengenai masyarakat sekitar, jika sudah paham maka kita beranjak dengan melakukan breafing. Saat breafing ini klita bisa membahas mengenai apa yang akan kita lakukan untuk esok hari berikut juga dengan pemetaan tugas dan strategi apa yang perlu dilakukan. Untuk waktu evaluasi ini memang baiknya dilakukan pada malam hari setelah kita selesai melaksanakan tugas-tugas kita seharian.

Demikianlah hal-hal yang perlu kita pahami dan cermati dalam melaksanakan tugas dakwah dai pos pengungsian. Mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *