Menjadi Muslim yang Kuat

“Tidaklah terjadi suatu musibah di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri kecuali telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sejak sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu bagi Allah sangat mudah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Barangsiapa berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia Maha Kaya Maha Terpuji” (QS Al Hadiid 57: 22-24)

Sebagai orang yang beriman dan meyakini kebenaran ayat-ayat Al Quran, tentunya ayat tersebut di atas dapat memberikan kelegaan dan ketengangan di dalam hati kita. Sebagai orang yang beriman, membaca ayat-ayat Allah SWT tentunya dapat meningkatkan iman kita kepada-Nya. Allah SWT, Rabb semesta alam, telah menciptakan langit dan bumi serta mengaturnya dengan adil dan bijaksana. Apa yang terjadi di langit dan di bumi merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, termasuk juga terjadinya suatu bencana alam. Hingga daun yang jatuh dari tangkainya, semua itu tidaklah luput dari pengawasan Allah SWT.

Bencana alam yang sangat dahsyat sehingga meluluhlantakkan suatu negeri merupakan pesan dari Allah SWT bahwa tidak ada yang lebih kuat kecuali Allah SWT semata. Maka sangat penting kiranya memahami pesan tersebut agar kita hanya bergantung kepada Allah karena Dialah Raja yang berkuasa di alam raya ini. Manusia adalah makhluk lemah. Sekalipun manusia diberikan kekuatan berupa akal pikirnya, namun hitu hanya secuil dari karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Allah telah memberikan petunjuk berupa wahyu Al Quran, yang telah memberikan informasi/tanda-tanda/pesan kepada manusia atas hal-hal yang tidak diketahuinya. Al Quran berisi kabar, baik sebelum manusia diciptakan hingga masa depan, yaitu akhirat. Itulan panduan yang dapat mengarahkan manusia hidup di dunia ini dengan selamat begitu juga kelak di akhirat.

Allah SWT pun menganugerahkan kepada manusia berupa akal dan daya pikir sehingga kebesaran-kebesaran-Nya yang ada di muka bumi ini dapat tersibak. Diantaranya adalah diketahuinya bahwa bumi Indonesia ini merupakan ring of fire sehingga memiliki potensi terjadinya bencana alam berupa gempat bumi, tsunami, gunung berapi, dan lain sebaginya. Potensi bencana alam di Indonesia lebih tinggi dari pada negara lain. Hal ini hendaknya dipahami bahwa bencana alam dapat saja datang tiba-tiba. Sesuatu yang datang tiba-tiba dapat membuat manusia kaget. Kekagetan tersebut disebabkan manusia belum siap menghadapinya. Maka kita harus sadar akan keselamatan diri kita. Namun yang paling penting adalah keselamatan kita kelak di akhirat. Justru dengan ini, seharusnya membuat kita semakin sadar akan kebesaran Allah SWT, membuat kita memperbanyak taubat kepada Nya. Seharusnya manusia yang berada di atas negeri ini adalah manusia yang paling taat dan bertakwa kepada Allah SWT karena tanda-tanda kekuatan dan kebesaran Allah sangat jelas. Memahami hal ini dengan baik membuat kita semakin siap menghadapi bencana dan tidak mudah terkejut.

Seharusnya manusia yang berada di atas negeri ini adalah manusia yang paling taat dan bertakwa kepada Allah SWT karena tanda-tanda kekuatan dan kebesaran Allah sangat jelas. Memahami hal ini dengan baik membuat kita semakin siap menghadapi bencana dan tidak mudah terkejut.

Perbaikan dalam segala bidang harus dilakukan. Baik perbaikan dalam dimensi materiil maupun spiritual. Perbaikan dimensi materiil dapat dilakukan dengan mambangun tata kota yang mempertimbangkan mitigasi bencana, diantaranya: struktur bangunan, perlunya suatu lapangan terbuka dibeberapa titik sebagai tempat evakuasi, dan standar keselamatan lainnya yang perlu diperhatikan untuk meminimalkan korban. Bahkan penting menjadi sebuah standar keumuman bahwa setiap rumah harus memiliki tenda yang dapat digunakan dalam kondisi darurat.

Namun demikian, dimensi materiil hanya bersifat sementara (fana). Ada hal yang lebih penting dari itu yaitu dimensi spiritual yang akan menjadi penentu keselamatan kita di akhirat kelak. Perbaikan dimensi spiritual dapat dilakukan dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, beribadah dengan benar, memperbaiki akhlak, bermuamalah sesuai dengan syariat agama, menjadi pemimpin yang jujur dan adil, menyambung silaturahim dengan kerabat, tidak bermusuhan antara sesama, tidak mengambil hak yang bukan miliknya. Memberikan kabar gembira bagi saudara-saudara kita yang telah bertaubat dan berhijrah, memberi peringatan kepada mereka yang berbuat maksiat agar mereka juga selamat.

Allah SWT telah mengabarkan kepada kita dengan memberikan contoh keadaan umat-umat sebelum kita seperti umat Nabi Nuh as, Nabi Luth as, Nabi Syuaib as, Nabi Hud as, dan sebagainya. Namun apakah kita pernah menjadikan kisah mereka sebagai pelajaran untuk kita? Allah SWT mengisahkan cerita tersebtu dalam Al Quran agar kita memiliki iman seteguh para Nabi dan menjauhi perbuatan umat yang dimurkai oleh Allah SWT. Orang yang beriman haruslah memiliki iman yang kuat sehingga ia tidak mudah putus asa dan kembali bangkit dari keterpurukan. Bagi orang yang beriman, jika ia mendapat musibah, ia tidak lantas terlalu larut dalam duka. Ia memiliki optimisme untuk memperbaiki kehidupan yang telah ia jalani. Ia pantang untuk menampakkan kesusahannya. Ia memilih untuk lebih dahulu membantu saudaranya meskipun sebenarnya ia juga sangat membutuhkan bantuan. Orang yang imannya kuat tidak mudah untuk mengeluh dan meratapi musibah karena ia yakin bahwa semuanya adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Ia meyakini takdir yang baik dan yang buruk datang dari Allah SWT sebagai peringatan dan pelebur dosa.

Rugilah diri kita jika bencana ada di depan mata namun tidak ada upaya perbaikan untuk menyelamatkan diri kita baik di dunia maupun akhirat. Maut hanya menunggu waktu, pasti tiba saatnya kita menjemputnya. Maut bisa saja datang dalam bentuk bencana maupun ketika kita berada di atas dipan kasur. Namun yang paling penting adalah apakah hidup kita saat ini sudah bermakna sehingga memberikan banyak manfaat kepada sesama, ataukah hidup kita justru membawa petaka bagi sekeliling kita? Apakah kelak kita akan menjemput maut dengan khusnul khotimah yaitu akhir hidup yang bahagia ataukah su’ul khotimah yaitu akhir hidup yang sengsara?

Wallahua’lam bish shawwab

MAH

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *