Zakat : Menjaga Akidah, Mensejahterakan Umat*

Oleh: Ust. Irfan Syauqi Beik**

Dalam satu diskusi di kantor National Zakat Foundation (NZF) Inggris pertengahan bulan ini, CEO NZF Iqbal Nasim menyatakan bahwa di antara tantangan besar dalam pengelolaan zakat adalah seringnya para amil zakat mengalami kehilangan fokus, yaitu menjadikan zakat sebagai “business as usual” dan kehilangan esensi utama dari syiar zakat itu sendiri. Menurut beliau, esensi utama dari syiar zakat adalah bagaimana menjadikan umat Islam ini sempurna di dalam menunaikan ibadahnya kepada Allah SWT, yang ditandai dengan kesempurnaan menjalankan rukun Islam. Adapun soal besarnya angka penghimpunan zakat, itu hanyalah turunan dari kesadaran umat akan penunaian kewajiban zakatnya. Karena itu, fokus utama amil bukan hanya sekedar mengejar pertumbuhan penghimpunan dana zakat, namun juga harus diimbangi dengan edukasi dan penyadaran agar umat mau menyempurnakan rukun Islamnya. Banyak di antara umat yang begitu bersemangat untuk shalat berjamaah, berhaji dan berumrah berulangkali, namun begitu masuk pada zakat, maka mereka kemudian mengabaikan ibadah ini.

Ini sangat penting untuk dipahami karena sejarah menunjukkan bahwa sepeninggal Rasulullah SAW, rukun Islam yang mendapatkan penentangan pertama kali secara masif adalah zakat, dimana saat itu muncul gerakan untuk memisahkan antara kewajiban shalat dengan kewajiban zakat. Inilah yang kemudian mendorong Abu Bakar ra untuk memerangi gerakan ini secara militer. Karena itu, perlu diformulasikan strategi dakwah zakat dengan benar, sehingga dapat memicu tingkat kesadaran masyarakat yang lebih tinggi untuk menunaikan kewajiban zakatnya yang ujungnya akan menaikkan penghimpunan zakat. Jika ini terjadi maka hal tersebut akan memperbesar volume penyaluran zakat, baik yang sifatnya konsumtif maupun produktif, melalui beragam desain program pendistribusian dan pendayagunaan zakat yang ada.

Pentingnya desain dakwah zakat yang benar ini karena zakat memiliki implikasi yang sangat luas, mulai dari implikasi secara akidah hingga implikasi secara sosial ekonomi. Secara akidah, zakat akan menyempurnakan keimanan umat melalui penjagaan akidah dari berbagai macam hal yang bisa merusak akidah. Bagi mereka yang sudah terkena kewajiban zakat, maka menunaikan kewajiban ini akan mencegah mereka dari dosa syirik, karena keengganan untuk menunaikan zakat sama dengan melakukan dosa syirik (QS 41 : 6-7). Kita tahu inilah dosa terbesar yang tidak akan diampuni Allah apabila terbawa mati. Akan sia-sia semua amalan yang ada.

Demikian pula dari sisi mustahik, zakat dapat menyelamatkan akidah kaum dhuafa karena potensi konversi akidah (murtad) mereka yang miskin sangat besar. Dalam konteks Indonesia, betapa banyak kita melihat fenomena pemurtadan yang disebabkan oleh faktor ekonomi. Karena itu, keberadaan zakat salah satu fungsinya adalah dalam rangka membendung arus pemurtadan, yang banyak terjadi akibat faktor ekonomi. Risiko konversi akidah, menurut Anggota BAZNAS H. Irsyadul Halim, adalah risiko terbesar dan sangat fundamental, serta sangat rawan untuk terjadi, ketika amil zakat tidak melakukan penyaluran zakat dengan baik dan efektif. Karena itu, penguatan aspek penyaluran zakat yang efektif dan tepat sasaran merupakan langkah yang tepat dalam mengantisipasi peluang terjadinya konversi akidah ini. Amil zakat harus menyadari bahwa mereka secara otomatis berada di garda terdepan pembentengan akidah umat.

Dalam kajian Pusat Kajian Strategis BAZNAS tentang Indeks Rawan Pemurtadan yang dirilis beberapa waktu lalu, ternyata dari 491 kabupaten/kota yang diteliti, hampir 40 persen kabupaten/kota di tanah air memiliki tingkat kerawanan pemurtadan yang cukup tinggi, tinggi dan sangat tinggi. Sisanya 60 persen wilayah masuk dalam kategori tingkat rawan pemurtadan yang rendah. Ini artinya risiko konversi akidah merupakan sesuatu yang harus bisa dikelola dengan baik mengingat dua per lima wilayah Indonesia memerlukan perhatian yang cukup. Disinilah peran mendasar zakat untuk membentengi akidah umat, dan menjadi salah satu tantangan BAZNAS dan LAZ.

Selanjutnya, fokus pada upaya penyempurnaan rukun Islam masyarakat juga akan memperkuat aspek mentalitas dan ruhani masyarakat. Hal ini dikarenakan dampak dari semangat berbagi yang mendorong orang untuk memiliki jiwa yang kaya dan produktif. Kekayaan jiwa inilah yang pada hakekatnya menjadi kunci untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik. Pribadi yang produktif inilah yang menjadi modal terbesar bangsa dalam menggerakkan perekonomian yang ujungnya akan melahirkan kesejahteraan yang hakiki. Pribadi yang produktif inilah yang akan mampu mengubah setiap tantangan menjadi peluang. Karena itu, memasifkan gerakan zakat kepada publik pada dasarnya sama dengan memasifkan upaya untuk memperbaiki mentalitas masyarakat ke arah yang lebih baik dan lebih produktif. Ini akan menjadi bola salju perubahan yang sangat luar biasa.

Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas pengelolaan zakat pada dasarnya merupakan upaya kita untuk memfasilitasi penyempurnaan rukun Islam masyarakat. Para amil harus menyadari bahwa apa yang mereka lakukan pada dasarnya memiliki dampak langsung terhadap perbaikan kehidupan masyarakat, baik secara material maupun spiritual. Untuk itu, berikanlah yang terbaik dan paling optimal yang bisa dilakukan, agar pengelolaan zakat ini dapat mengakselerasi perubahan dan perbaikan kondisi masyarakat. Disinilah pentingnya kita terus menerus memahami esensi dakwah gerakan zakat, agar tidak terjebak pada rutinitas pengelolaan zakat semata. Wallaahu a’lam.

 

 

*Telah dimuat di Rubrik Iqtishodia Harian Republika edisi Kamis 27 September 2018

**Direktur CIBEST IPB dan Pusat Kajian Strategis BAZNAS

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *