Bisnis dan Kehormatan Umat

Khutbah Jumat, 21 September 2018

Oleh: Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc. MA

 

Semua tahu, bahwa saat pertama kali Nabi SAW tiba di Madinah beliau langsung membangun Mesjid sebagai lambang ketakwaan sekaligus asas penting dalam membangun peradaban. Tapi mungkin tidak semua yang tahu, bahwa institusi kedua yang dibangun oleh Rasulullah SAW adalah pasar.

Pertanyaannya: apakah ketika beliau SAW tiba, Madinah tidak mempunyai pasar? Jawabannya ada. Ada 4 pasar di Madinah: Pasar Bani Qainuqa’, Pasar Zabalah, Pasar Mazahim, Pasar Nabith, dan semuanya bukan milik kaum muslimin. Rasulullah SAW kemudian menginisiasi pasar untuk kaum muslimin. Pasar itu pun berdiri, tumbuh, berkembang dan tidak lama kemudian (hanya 8 bulan saja) pasar-pasar Yahudi pun hancur.

Sepintas, kelihatan sosok ‘Muhammad’, ‘Islam’, adalah sosok penghancur, anti stabilitas, suka campur tangan, sok berkuasa, dan tempelan-tempelan negatif lainnya. Tapi sebelum kita semakin jauh dengan stereotip dan prasangka buruk terhadap Nabi SAW, mari kita lihat peristiwa lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmizi, Ibn Majah, al-Darimi, dan lainnya.

Suatu saat harga barang menjadi sangat mahal di Madinah. Maka orang ramai pun berkata: “Wahai Rasulullah! Harga barang telah mahal, tetapkan harga untuk kami”. Nabi SAW pun menjawab: “Sesungguhnya Allah, Dialah yang menetapkan harga, yang menyempit dan melimpahkan (kurniaan), yang Maha memberi rezeki. Sesungguhnya aku berharap untuk menemui Allah dalam keadaan tiada seorang pun dalam kalangan kamu yang menuntut daripadaku haknya yang dizalimi baik pada darah atau harta”.

Para ulama sepakat menjelaskan, bahwa ketidakinginan Rasulullah SAW mencampuri keadaan karena saat itu pasar sedang berjalan dengan normal, berjalan dengan adil.

Kembali kepada kasus pertama tadi, mengapa Rasulullah SAW tetap membangun pasar sendiri disaat sudah ada pasar-pasar Yahudi? Apakah Nabi SAW membawa sentimen agama dan keturunan? Jawabannya tentu saja tidak sama sekali!

Fakta membuktikan, Nabi SAW pun pernah berinteraksi bisnis dengan orang-orang Yahudi. Beliau SAW mempercayakan pengolahan ladang-ladang beliau di Negeri Khaibar kepada orang-orang Yahudi, dengan ketentuan bagi hasil. (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibunda Aisyah RA, isteri Nabi SAW mengisahkan, pada akhir hayatnya, Nabi SAW membeli beberapa takar gandum dari seorang pedagang Yahudi. Namun karena beliau belum mampu membayarnya, beliau menggadaikan perisai perangnya kepada pedagang Yahudi tersebut dan hingga ajal menjemputnya, beliau belum juga mampu menebus perisai perangnya itu dari pedagang Yahudi tersebut. Demikian kisah ini diabadikan oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya dalam kitab-kitab hadisnya.

Satu jawabannya terhadap pertanyaan kita tadi: mengapa Rasulullah SAW tetap membangun pasar, adalah karena pasar-pasar Yahudi mempraktikkan amalan riba, penuh dengan penipuan, monopoli, dan semua itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip bisnis Islam yang diajarkan oleh Allah dan Rasul Nya. Umat ini tidak pernah alergi berhubungan dengan siapa saja, karena memang kita diperintahkan Allah untuk berinteraksi dengan siapa saja (Al-Hujarat: 13).

Tanyalah Sultan Mahmud Syah Raja Malaka (1488-1528) mengapa ia menyambut Diogo Lopes de Sequeira dan mengakuinya sebagai wakil Raja Portugal namun pada akhirnya mengusir mereka dari tanah Melaka.

Tanyalah Sultan Ternate (1522) mengapa ia mengizinkan Portugis berbisnis rempah-rempah di tanah Ternate bahkan membolehkan mereka membangun sebuah benteng, namun kemudian ia sendiri dibuang oleh Portugis ke Goa, India.

Tanyalah Sultan Ageng Tirtayasa penguasa Banten, tanyalah sang ‘Ayam Jago dari Timur’ Sultan Hasanuddin mengapa mereka menyerang VOC?

Aktivitas ekonomi dan bisnis bagi Islam bukanlah sekedar hubungan untung dan rugi semata, bukan sekedar pencapaian-pencapaian materi saja, bukan semata-mata hubungan dengan manusia saja, tetapi berbisnis adalah bagaimana kita berhubungan dan berbisnis dengan Allah SWT. Ia berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mau-kah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui (Ash-Shaf: 10-11).

Seorang muslim yang baik dalam membeli tidak sekedar memuaskan keinginannya tetapi memperhatikan apa yang dia beli, apa yang dia makan. Seorang muslim yang baik dalam menjual tidak sekedar mencari keuntungan dengan modal sekecil-kecilnya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, tetapi ia memperhatikan apa yang dijualnya dan bagaimana cara ia menjual.

Umat ini adalah umat yang diberikan Allah SWT keistimewaan sebagai izzah kehormatannya. Kehormatan yang tidak boleh dijual dengan harga yang murah atas nama toleransi yang semu. Kehormatan yang tidak boleh digadaikan, hanya atas nama keuntungan bisnis duniawi. Kehormatan yang harus dihargai dan dihormati oleh umat yang lain. Karena memang sejatinya umat ini berbisnis tidak hanya dengan manusia tetapi juga berbisnis dengan Allah.

 

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah Membeli dari orang-orang Mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan Memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung. (At-Taubah: 11)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *