Al Quran, Kitab yang Mempertemukan Akal dan Ruh

Khutbah Jumat, 14 September 2018

Oleh: Ust. Salahuddin El Ayyubi, Lc., M.A
Masjid Nurul Falah, PLN Jakarta

Tidaklah berlebihan bila kita katakan, bahwa tidak ada di dunia ini dulu dan akan datang kitab sepertimana al-quran.

Kitab yang menyeimbangkan antara fikiran dan ruh, kitab yang telah memberikan warna kepada peradaban manusia, kitab yang mempersaudarakan antara yg berkulit putih dan hitam, kitab yg membimbing dari kegelapan menuju kepada cahaya yang terang benderang

Kehadiran Islam di Andalusia menjadi tonggak utama lahirnya peradaban di bumi Eropa, karena di sana Islam berhasil menghidupkan sebuah peradaban unggul dalam berbagai aspek kehidupan, seperti keilmuan, pemikiran, akhlak, sosial dan ekonomi.

Pada masa ini juga dilakukan penerjemahan buku berbahasa Arab ke Bahasa Spanyol dan Bahasa Latin di Toledo. Penerjemahan juga dilakukan pada buku-buku karang para filosof Yunani, seperti Galenus, Plato, Aristoteles dan Iqlidis.

Di Sisilia selama dua abad, Islam berhasil merombak tatanan politik, ekonomi, budaya dan keilmuan. Islam di Sisilia juga melahirkan ulama-ulama besar, seperti Ibnu Abi Khurasan dalam bidang Nahwu dan Qiraat, Ali bin Hamzah dalam ilmu bahasa dan syair, dan Barda’i dalam Fikih Malikiy.

Inilah kitab yang berhasil mempertemukan antara akal dan ruh, agama dan Negara, dunia dan akhirat.

Bagaimana perasaan seorang muslim yang dalam sholatnya 5 kali sehari membaca ayat:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu Dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia Tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang Dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. (Al-Baqarah: 164)

Bukankah ini adalah perintah al-quran utk senantiasa menghidupkan akal dan pengetahuan? Membangun peradaban?

Bagaimana rasanya ketika dalam sholat kita membaca ayat:

أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ. يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan Kami (Tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami Alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhan-nya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami Rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (Saba: 11-13)

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ. وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ. وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ. وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan? Dan bumi bagaimana dihamparkan? (Al-Ghasyiyah: 17-20)

Bagaimana kita disuruh memperhatikan tentang ilmu hewan, bumi, gunung, bintang2…

Ayat perintah membaca “iqra” dan “nun”

Bahkan, kita diperintahkan untuk sering melakukan perjalanan:

أفلم يسيروا في الأرض فتكون لهم قلوب يعقلون بها أو آذان يسمعون بها فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التي في الصدور

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajj: 46)

Abdul Kadir Audah, seorang penulis produktif berkebangsaan Mesir, menulis sebuah buku dengan judul Al-Muslimu Baina Jahli Abnaaihi wa ‘Azzi ‘Ulamaaihi (kaum muslimin di antara kebodohan umatnya dan kelemahan para ulamanya).

Buku ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan kenapa kaum muslimin mengalami kemunduran dalam berbagai bidang kehidupannya, sementara orang-orang non-muslim mengalami kemajuan yang signifikan (paling tidak secara fisik material).

Pertama, karena kebodohan umat. Secara jujur harus kita akui, pengetahuan mayoritas umat Islam terhadap ajarannya masih sangat minim. Masih banyak kelemahan yang mendasar dan elementer. Masih banyak yang belum bisa membaca Alquran.

Demikian pula pengetahuan yang berkaitan dengan ibadah pokok, seperti shalat, zakat, shaum dan ibadah haji. Apalagi pengetahuan yang berkaitan dengan berbagai konsep dalam berbagai bidang kehidupan, yang ditawarkan ajaran Islam.

Masih banyak yang awam tentang konsep pendidikan yang islami, konsep ekonomi syariah, konsep keluarga sakinah, konsep politik dan budaya, maupun konsep berbangsa dan bernegara.

Di dalam kitab “Shafahat min Shabril ‘Ulama ‘ala Syadaidil ‘Ilmi wat Tahshil” Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah banyak menukil kisah-kisah perjalanan ulama-ulama dulu dalam menuntut ilmu. Bahkan memang itu semua isinya. Kisah yang betul-betul mencengangkan, bagaimana susah payahnya mereka dalam menuntut ilmu, bahkan merintisnya.

Kalau kita perhatikan, sunnatullahnya ilmu itu harus dikuasai dengan melalui cobaan dan kesulitan hidup. Apalagi ilmu agama. Sangat sangat jarang sekali orang yang kehidupannya mewah bisa menjadi ilmuan papan atas. Hanya segelintir orang yang seperti Imam Abu Hanifah, Imam Abdullah bin Mubarak dan Imam Al Laits bin Sa’ad yang hidupnya dipenuhi kemewahan, namun bisa menjadi imam yang luar biasa.

Selebihnya, hidup dalam berkekurangan, sampai harus berjalan tanpa sandal seperti Imam Yahya bin Ma’in, harus menjual genteng rumah seperti Imam Malik, bahkan harus menjual rumah keseluruhan seperti Imam Hisyam bin ‘Ammar, harus memakan kulit semangka yang dipungut dari tong sampah seperti Imam Zakariya al Anshary, dan yang paling sadis, Imam Abdurrahman bin Yusuf bin Kharasy harus meminum air kencingnya sendiri demi bertahan hidup.

Kita mustahil akan sampai sehebat Imam Syafi’i, Imam Nawawy, Imam Suyuti, bahkan hanya sekedar sampai kederajat buya Hamka. Akan tetapi, paling kurang kita punya ilmu yang akan bisa membimbing diri pribadi dan keluarga untuk mampu mengarungi hidup akhir zaman yang penuh fitnah ini. Syukur-syukur kita juga bisa menerangi masyarakat sekitar.

Semoga Allah membimbing kita selalu untuk mendapatkan ilmu yang berkah, yang akan mengantarkan kita dekat kepada-Nya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *